Dikeluarkan oleh at Thabrani dari Ummu Kabashah r.ha., seorang wanita dari Uzrah bani Qhadhaah dan ia berkata, “Ya Rasulullah! Apakah engkau mengizinkanku untuk berangkat bersama dengan pasukan sekian?”
Rasulullah saw. menjawab, “Tidak.”
Ia berkata, “Ya Rasulullah! Bukannya aku ingin turut berperang, tetapi aku hanya ingin merawat mereka yang cedera atau yang sakit dan memberi minum kepada mereka.”
Jawab Rasulullah saw., “Jika tidak akan menjadi sunah, hingga orang akan mengatakan: ‘Si fulanah keluar berjihad karena diizinkan Rasulullah saw., maka aku akan mengizinkanmu. Kamu diam sajalah di rumah.”
Kata at Thabrani hadits ini diriwayatkan oleh at Thabrani dalam al Kabir dari al Ausad dan perawi-perawinya shahih semua.
Dikeluarkan oleh al Bazar dari Ibnu Abbas r.hum. katanya: Seorang wanita datang menemui Nabi saw., dan berkata kepadanya, “Ya Rasulullah! Aku adalah wakil dari sekumpulan wanita untuk meminta izinmu untuk menyertai jihad ini, Allah telah mewajibkannya kepada kaum lelaki. Jika mereka menang mereka akan memperoleh ganjaran. Jika mereka terbunuh mereka akan senantiasa hidup di sisi Rabb mereka dan dikaruniai rezeki. Jika kami membantu mereka, apakah kami akan memperoleh pahala?”
Maka Rasulullah saw. pun bersabda, “Sampaikanlah kepada siapa saja dari kalangan kaum wanita yang engkau temui. Sesungguhnya ketaatan kepada suami dan mengakui hak-haknya adalah menyamai semuanya itu. Akan tetapi hanya segelintir dari mereka yang melakukan demikian itu.”
Begftulah yang telah diriwayatkan oleh al Bazar.
Didalam riwayat at Thabrani di akhir haditsnya dinukilkan: Kemudian seorang wanita datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Saya adalah utusan kaum wanita kepada engkau, baik wanita yang engkau kenali maupun yang tidak engkau kenali. Semuanya mengetahui akan kepergianku menemui engkau. Allah adalah Rabb bagi kaum lelaki dan wanita. Dan engkau adalah pesuruh Allah yang diutuskan kepada kaum lelaki dan wanita. Allah telah mewajibkan jihad ke atas kaum lelaki, apabila mereka perang, mereka akan memperoleh ganjaran. Jika mereka gugur syahid, tetap hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki. Adakah yang menyamai yang demikian itu dari amalan-amalan mereka dan ketaatan?”
Rasu1ul1ah saw. menjawab, “Ya, ketataatan terhadap suami-suami akan mengakui hak-haknya. Akan tetapi hanya segelintir dari kamu yang melakukan yang demikian itu.” (At Tarqhib.)
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

