Pembicaraan Para Sahabat Dengan Raja Najasyi dan Pendapatnya Mengenai Islam dan ‘Isa bin Maryam A.s. Bag. 2

0
Kisah sebelumnya klik disini..
“Beliau menyeru kami kepada Allah Azza Wa Jalla agar kami mentauhidkan-Nya, menyembah-Nya dan meninggalkan apa yang telah disembah oleh nenek moyang kami selain Allah, yaitu batu-batu dan berhala-berhala. Beliau menyuruh kami agar berkata benar, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, menahan diri dari melakukan yang diharamkan dan menjauhkan pertumpahap darah. Beliau melarang kami melakukan kekejian, bersaksi dengan kesaksian palsu, memakan harta anak yatim dan menuduh wanita yang terhormat melakukan zina. Beliau memerintahkan kami supaya menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun, mendirikan shalat dan membayar zakat.” 

Kata Ummu Salamah: Kemudian Ja’far menyebutkan beberapa perkara mengenai agama Islam. 
Kata Ja’far, “Lalu kami membenarkannya dan beriman kepadanya serta mengikuti beliau di atas agama yang beliau bawa. Dengan demikian, kami hanya menyembah Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan Allah atas kami dan menghalalkan apa yang telah dihalalkan Allah untuk kami. Kemudian kaum kami menzhalimi kami, menyiksa kami, dan berusaha memurtadkan kami dan agama kami agar kami kembali menyembah berhala dan meninggalkan penyembahan kepada Allah yang Maha Esa, juga supaya kami menghalalkan segala kekejian yang pernah kami halalkan semasa jahiliyah. Ketika mereka memaksa kami, menzhalimi kami, menjatuhkan kami dalam kesusahan, dan menghalang-halangi kami untuk mengamalkan agama ini dengan penuh kebebasan, maka kami keluar dari tanah air kami menuju negara tuan, dan kami telah memilih tuan dari yang selainnya. Kami menyukai perlindungan tuan dan berharap kami tidak dizhalimi di sisimu, Wahai sang raja.” 
An Najasyi berkata, “Apakáh kamu mempunyai sesuatu yang ia bawa dari sisi Allah?” 
Jawab Ja’far,. “Ya.” 
Kata an Najasyi, “Kalau begitu, bacalah.” 
Kemudian Ja’far membacakan permulaan surat Maryám. Mendengar ayat itu, Najasyi menangis sehingga membasahi janggutnya. Para uskup di samping beliau juga turut menangis sehingga membasahi lembaran-lembaran kitab mereka ketika mendengar apa yang dibacakan kepada mereka. 

An Najasyi berkata, “Sesungguhnya ini dan yang dibawa oleh Musa a.s. terpancar misykah yang sama (sumber yang sama). Pergilah kamu berdua (Amr bin al Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah)! Demi Allah! Aku tidak akan menverahkan mereka kepada kalian berdua selamanya dan tidak akan pernah.” 

Ummu Salamah berkata: Ketika kedua orang Quraisy itu keluar dari majelis an Najasyi, Amr bin al Ash berkata, “Demi Tuhan, aku akan datang menemuinya lagi besok hari untuk mempermalukan mereka (orang-orang Islam itu) di hadapan an Najasyi dengan kekuatan yang kugunakan untuk memusnahkan kelompok mereka.” 

Maka Abdullah bin Abi Rabiáh yang merupakan seorang lelaki yang lebih berhati-hati dalam urusan kami daripada dua orang itu, berkata, “Jangan kamu lakukan, karena mereka masih punya hubungan kekerabatan dengan kita, walaupun tidak sejalan dengan kita.” 
Kata Amr, “Demi Tuhan, aku akan memberitahukan Najasyi bahwa mereka mendakwa sesungguhnya Isa bin Maryam adalah seorang hamba biasa.” 
Keesokan harinya Amr masuk menemui an Najasyi dan berkata, “Wahai raja, sesungguhnya mereka berkata mengenai ‘isa bin Maryam dengan satu perkataan yang sangat besar kesannya. Maka, perintahkan seseorang untuk memanggil mereka kembali dan tanyakan pendapat mereka mengenai ‘Isa.” 

An Najasyi kemudian menyuruh utusannya untuk memanggil mereka guna menanyai mereka mengenai ‘Isa a.s. dan kejadian seperti itu belum pemah menimpa kami. 
Maka para sahabat pun berkumpul untuk berunding. Mereka bertanya kepada sesamanya, “Apakah yang akan kalian katakan mengenai ‘Isa bin Maryam (jika dia menanyai kalian tentangnya)?” 
Mereka menjawab, “Demi Allah, kami akan berkata sebagaimana yang difirmankan Allah dan sebagaimàna yang dibawa oleh Nabi kita saw. tentang apa yang sudah terjadi dalam hal ini.” 
Ketika para sahabat itu masuk menemui an Najasy, raja itu bertanya kepada para sahabat, “Apa komentar kalian tentang ‘Isa bin Maryam?” 
Ja’far bin Abu Thalib berkata, “Kami berkata mengenainya sebagaimana yang dibawa oleh Nabi kami saw., yaitu: Sesungguhnya ‘Isa adalah seorang hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, sekaligus kalimah-Nya yang diletakkan-Nya pada diri Maryam, seorang perawan suci yang tidak mempunyai syahwat kepada lelaki.” 
Mendengar hal ini, an Najasyi memukul tanah dengan tangannva, kemudian mengambil sebuah ranting kayu dan berkata, “(Demi Allah) ‘Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walau sekadar sepanjang ranting ini.” 

Maka para pembesar dan panglima yang berada di sekeliling an Najasy mendengus marah dengan yang dikatakan oleh raja mereka, sehingga Najasyi berkata, “Demi Allah! Meskipun kalian (para panglima dan pembesar) sama mendengus. Pergilah kalian (para sahabat), sesungguhnya kalian suyum di kerajaanku,” — sedang suyum adalah orang-orang yang dilindungi — “Bila ada orang yang menghina dan mencerca kalian, maka ia akan menanggung denda.” 
Kemudianan Najasyi mengulangi kata-katanya lagi, “Jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, maka dia akan menanggung denda.” 
Kemudian an Najasyi mengulangi perkataan itu, “Jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, maka dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya aku memiliki sebuah gunung emas, sedangkan aku telah menyakiti salah seorang lelaki di antara kalian.” 
An Najasyi berkata kepada para pembesarnya, ‘Kembalikanlah hadiah kedua orang itu (utusan Quraisy), aku tidak memerlukannya. Demi Allah, Allah tidak menerima suap sedikit pun dariku, ketika Dia memberiku kerajaan ini, sehingga aku tidak perlu menerima suap dalam urusan-Nya. Tidak pula Dia menuruti orang banyak berkaitan dengan urusanku, sehingga aku tidak perlu untuk menuruti mereka berkaitan dengan urusan-Nya.” 

Maka kedua orang utusan Quraiy itu keluar meninggalkan majelis an Najasyi dengan perasaan terhina dan terusir. dan hadiah yang mereka bawa dikembalikan kepada keduanya. 
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya: 
Maka kami pun tinggal di negerinya, di tempat yang paling baik, bersama tetangga yang paling baik. Demi Allah, Najasyi tetap berkeyakinan demikian saat muncul orang yang menentangnya dan berusaha menurunkan tahtanya. 
Demi Allah, sama sekali aku tidak pe
rnah tahu kami bersedih (dengan suatu kesedihan) yang lebih dari pada kesedihan yang kami alami padasaat itu, karena khawatir kalau-kalau para penentangan Najasy itu berhasil menggulingkan beliau dan digantikan oleh raja yang tidak mengetahui hak hak kami sebagaimana yang dilakukan oleh an Najasyi.

Selanjutnya klik disini..
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !