Kisah sebelumnya klik disini...
Ketika para sahabat masuk menemui raja Najasyi, mereka memberik an salam tetapi tidak bersujud kepada raja. Maka raja Najasyi bertanya, “Wahai kalian, maukah kalian menceritakan kepadaku, mengapa kalian tidak memberi salam hormat kepadaku sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaummu ketika datang menemuiku? Beritahukan kepadaku pendapat kalian mengenai isa bin Maryam? Apakah agama kalian? Apakah kalian beragama Nasrani?”
Para sahabat menjawab, “Bukan.”
Raja berkata, “Apakah kalian beragama Yahudi?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
Kemudian raja Najasyi bertanya lagi, “Apakah kalian menganut agama kaum kalian?”
Para sahabat menjawab, “Tidak.”
Raja Najasy berkata, “Jika dernikian, apa agama kalian?”
Para sahabat pun menjawab, “Al Islam.”
Tanya Najasyi, “Apakah al Islam itu?”
Jawab mereka, “Kami menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Tanyanya, “Siapa yang membawa ajaran ini pada kalian?”
Jawab para sahabat, “Yang membawanya adalah seorang lelaki dari kalangan kami dan kami sangat mengetahui mengenai dirinya, keagungannya, dan nasabnya. Allah telah mengutusnya kepada kami sebagaimana Dia telah mengutus para Rasul kepada orang-orang sebelum kami. Beliau telah menyuruh kami melakukan kebaikan, bersedekah, memenuhi janji, dan menunaikan amanah. Beliau juga melarang kami menyembah berhala-berhala, dan menyuruh kami hanya menyembah Allah yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh kârena itu, kami pun membenarkannya sehingga kami bisa mengetahui firman-firman Allah dan apa yang beliau bawa dari sisi Allah. Dikarenakan kami telah berlaku demikian, maka kaum kami memusuhi kami dan memusuhi Nabi yang benar itu. Mereka mendustakannya dan berusaha untuk membunuhnya. Mereka juga ingin agar kami kembali menyembah berhala-berhala. Oleh karena itu kami Iari dari mereka untuk menyelamatkan diri dan agama kami hingga sampai di hadapan tuan.
”
Kata an Najasyi, “Demi Allah! Sesungguhnya ini termasuk misykah (Rongga di dinding yang tidak sampai tembus keluar. Pendapat lain mengatakan: itu adalah besi yang menjadi tempat gantungan pelita. Yang dia maksud adalah: bahwa Al Qurân dan Taurat ialah kalamullah taàla. dan keduanya berasal dan sumber yang sama. ) yang darinya agama Musa muncul.”
Ja’far pun berkata, “Mengenai salam hormat, sesungguhnya Rasulullah saw. telah memberi tahu kami bahwa salam hormat ahli Jannah adalah, ‘Kesejahteraan atas kamu.’ Dan Rasulullah saw. telah menyuruh kami supaya mengucapkannya. Oleh karena itu kami memberikan salam kepada tuan dengan salam yang kami lakukan di kalangan kami sendiri. Adapun tentang ‘isa bin Maryam a.s., dia adalah seorang hamba Allah, pesuruh-Nya, kalimah yang diletakkan-Nya pada diri Maryam, dan ruh dari-Nya. Beliau’adalah anak lelaki dari seorang perawan suci (tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki) yang tidak mempunyai syahwat kepada kaum lelaki.”
An Najasyi mengambil sebatang ranting kayu dan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkara mengenai isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan itu walau cuma seberat ranting kayu ini (Apa yang dikatakan Jafar mengenai isa itu adalah benar dan sangat diketahui oleh an Najasy sebagaimana yang ada dalam kitab mereka.).”
Para pembesar Habasyah berkata. “Demi Allah, apabila penduduk Habasyah mendengar apa yang kamu katakan mengenai ‘Isa, sudah pasti mereka akan menurunkanmu dari tahta.”
Jawab an Najasyi, “Demi Allah, aku tidak akan berkata mengenai diri ‘Isa a.s. selain dengan apa yang telah aku katakan itu selamanya. Dan Allah tidak menuruti orang-orang Habasyah berkaitan dengan urusanku ketika Dia memberiku kekuasaan dan kemenangan — sehingga aku juga tidak perlu untuk menuruti mereka berkaitan dengan urusan agama Allah. Aku berlindung kepada Allah dari menuruti keinginan mereka.”
Sebagaimana yang diberitakan dalam al Bidayah (3/72).
Diriwayatkan juga oleh Ahmad dari Ummu Salamah r. ha., isteri Rasulullah saw. dengan panjang lebar, di dalam haditsnya dikisahkan sebagai berikut:
Kemudian an Najasvi memerintahkan agar para sahabat Rasulullah saw. itu dipanggil menghadapnya. Ketika pesuruh an Najasyi sampai kepada mereka, maka para sahabat itu berunding. Mereka bertanya satu sama lain, “Apa yang akan kita katakan mengenai Isa a.s. apabila kita berhadapan dengannya?”
Mereka menjawab, “Demi Allah, kita akan memberitahukannya sebagaimana yang telah diajarkan dan diperintahkan kepada kita oleh Nabi kita saw. tentang apa yang sudah terjadi dalam hal itu.”
Ketika para sahabat itu sampai di hadapan an Najasyi, maka an Najasyi telah memanggil para uskupnya. Para uskup itu membentangkan berbagai kitab mereka di sekelilingan Najasyi dan ia juga bertanya kepada mereka. Kemudian an Najasyi bertanya kepada para sahabat, “Apakah agama yang menyebabkan kalian meninggalkan kaum kalian, dan kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku, tidak juga ke dalam salah satu agama yang dianut oleh suatu umat atau bangsa?”
Ummu Salamah menceritakan: Adapun yang dikatakan oleh Ja’far bin Abu Thalib adalah, “Wahai raja, pada masa lalu kami adalah kaum jahiliyah yang menyembah berhala. kami memakan bangkai, melakukan berbagai kekejian, memutuskan hubungan silaturahmi, berbuat buruk kepada tetangga, dan golongan yang kuat akan menindas golongan yang lemah di antara kami. Kami terus menerus dalam keadaan demikian hingga Allah mengurus kepada kami pesuruh-Nya yang berasal dari kalangan kami yang kami ketahui asal usul keturunannya, kejujurannya, sifat amanahnya dan keperwiraannya.
Selanjutnya klik disini...
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

