Kisah Sebelumnya klik disini..
Saat itu an Najasyi mulai bergerak, sedang di antara keduanya terhalang oleh lembah sungai Nil (Yaitu sungai Nil Mesir. Tidak ada di dunia ini sungai yang mengalir dari selatan ke utara selain itu dan tiada pula yang lebih panjang selainnya). Maka para sahabat Rasulullah saw. saling bertanya, “Siapakah yang mau keluar agar bisa menyaksikan peperangan antara an Najasyi dan para pemberontaknya, lalu datang kepada kami (dengan membawa berita)?”
Maka Zubair bin al Awwam berkata, “Aku yang akan pergi.”
Para sahabat berkata, “Baiklah, engkau yang pergi.’
Zubair adalah orang muda usianya di antara mereka ketika itu. Lalu mereka membekalinya ghirbah (wadah dari kulit untuk menyimpan susu atau air) yang digantungkan di atas dadanya. Kemudian ia berenang di sungai Nil menuju salah satu tepi sungai Nil yang menjadi medan pertempuran antara an Najasyi dan para pemberontak itu. Dia berjalan kaki hingga bisa menyaksikan pertempuran mereka. Kami berdoá agar Dia memenangkan an Najasyi dan menguatkan kedudukannya di negerinya.
Demi Allah! Dalam keadaan tegang seperti itu, kami menerka apa yang akan terjadi, hingga akhirnya Zubair muncul dengan berlari sambil melambai-Iambaikan pakaiannya dan berkata, “Mengapa kalian tidak bergembira, sesungguhnya an Najasyi telah memperoleh kemenangan dan Allah telah membinasakan musuh-musuhnya serta mengukuhkan kedudukannya di negerinya.”
Demi Allah, maka sama sekali aku belum pernah tahu kami bergembira dengan kegembiraan seperti ini. An Najasyi tetap memegang tampuk pemerintahannya, sedang Allah telah menghancurkan musuhnya dan meneguhkan kekuasaannya di negerinya. Dan kekuasaan negeri Habasyah semakin kokoh di tangannya. Di sisinya, kami dapat tetap tinggal dengan aman hingga kami kembali ke pangkuan Rasulullah saw. di Makkah.
Al Haitsami mengatakan (6/27) bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya shahih kecuali Ishaq. Dia telah mengutarakan dengan lafal aku telah mendengar. — selesai. Demikian tercantum dalam kitab ash. Yang jelas dia adalah Ibnu Ishaq dan hadits ini telah lewat sebelumnya dari jalannya. Abu Nuáim juga meriwayatkannya dalam al Hilyah (juz 1, hal. 1l5) dari jalan Ibnu Ishaq serupa ini dengan panjang lebar; Sedang al Baihaqi (juz 9, hal. 9) menyebutkan bagian permulaan hadits ini dari jalan Ibnu Ishaq dengan susunan kalimatnya, kemudjan dia berkata dan menceritakan hadits ini dengan panjang lebar dan menyebutkan hadits ini dalam as Siyar (juz 9, hal. 144).
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdullah bin Masud r.a., katanya: Rasulullah saw. mengutus kami kepada an Najasyi, jumlah kami ketika itu sekira tiga puluh delapan orang lelaki, termasuk Abdullah bin Masud, Ja’far, Abdullah bin Gurfuthah, Utsman bin Mazhun dan Abu Musa r.hum.. Mereka pun mendatangi Najasyi.
Sementara itu, orang-orang Quraisy mengirimkan Amr bin al Ash dan Umarah bin al Walid dengan membawa hadiah untuk an Najasyi. Ketika keduanya masuk menghadap an Najasyi, keduanya bersujud padanya lalu mengelilinginya dari kanan dan kiri raja itu. Kemudian keduanya berkata, “Sesungguhnya sekumpulan orang dari anak-anak paman kami telah tinggal di kerajaan tuan, dan mereka membenci kami dan agama kami.”
Tanya an Najasyi, “Di manakah mereka sekarang?”
Kata utusan Quraisy itu, “Mereka berada di kerajaan tuan, maka panggillah mereka untuk datang menghadap tuan.”
An Najasyi kemudian memerintahkan utusannya untuk memanggil para sahabat. Ja’far bin Abu Thalib r.a. berkata, “Aku yang akan menjadi juru bicara bagi kalian hari ini.”
Para sahabat pun mengikuti utusan an Najasyi yang datang memanggil mereka untuk menemui an Najasyi.
Ja’far masuk ke istana an Najasyi dengan mengucapkan salam tanpa bersujud kepadanya. Para pembesar an Najasyi yang berada di sana bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak bersujud kepada raja?”
Jawab Ja’far. “Sesungguhnya kami tidak sujud kepada siapa pun selain kepada Allah Azza wa Jalla.”
An Najasyi bertanya, “Apakah yang menyebahkan kalian berperi laku demikian?”
Ja’far menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kemudian menyuruh kami untuk tidak bersujud kepada selain Allah Azza wa Jalla. Beliau memerintahkan kami untuk mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.”
Amr berkata kepada an Najasyi, “Sesungguhñya mereka berbeda pandangan dengan tuan rnengenai ‘Isa bin Maryam.”
Maka an Najasyi pun bertanya kepada Ja’far, “Apakah yang kamu katakan mengenai Isa bin Maryam dan ibunya?”
Ja’far mejawab, “Kami berkata sebagaimana yang difirmankan oleh Allah: ‘Dia (‘Isa bin Maryam) adalah kalimat-Nya dan ruh-Nya, yang Dia letakkan pada diri seorang perawan suci yang tidak mempunyai syahwat kepada kaum lelaki, tidak pernah disentuh seorang manusia pun dan bila pun ia melahirkan seorang anak maka itu tidak mempengaruhinya.” (yaitu:
keperawanannya tidak hilang meski telah melahirkan).
An Najasyi mengangkat kayu tongkatnya dan berkata, “Wahai orang orang Habasyah, para pendeta dan para rahib sekalian, demi Allah! Tidaklah pendapat mereka melebihi pendapat kami mengenainya (‘Isa). Selamat datang kepada kalian dan orang-orang yang datang bersama dari sisinya (Muhammad saw.). Sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau (Muhammad) adalah pesuruh Allah, beliaulah yang kami dapati di dalam Injil. Beliaulah Rasul yang dikabarkan oleh ‘isa bin Maryam. Tinggallah kalian di mana saja kalian suka. Demi Alah, jika bukan karena masalah-masalah dan berbagai kesibukan kerajaan yang kuhadapi, sudah pasti aku sendiri yang akan datang menemuinya dan aku akan menjadi orang yang membawakan dua sandalnya.”
An Najasyi pun memerintahkan untuk mengembalikan hadiah yang dibawa oleh utusan Quraisy itu. Setelah itu, Abdullah bin Masud dengan tergesa-gesa segera pulang hingga bisa terlibat dalam perang Badar.
ini adalah sanad yang jayid lagi kuat, dengan susunan kisah yang baik. Ini dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam al Bidayah (juz 3, hal. 69). Dihasankan sanadnya oleh al Hafizh ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (7/ 130). Al Haitsami berkata (juz 6, hal. 24), setelah dia menceritakan hadits ini: ath Thabrani telah meriwayatkannya, sedang dalam sanadnya terdapat Hudaij bin Muáwivah, di mana Abu Hatim menganggapnva tsiqat dan mengatakan pada sebagian hadits-haditsnya terdapat kelemahan. Ibnu Ma’in dan lainnya juga mendha’ifkan Hudaij. Sedang para rawi lainnya adalah tsiqat — selesai.
Diriwayatkan oleh ath Thabrani juga dari Abu Musa r.a., katanya:
Rasulullah savt’. menyuruh kami supaya berangkat ke negeri Najasyi bersama Ja’far bin Abu Thalib r.a.. Ketika perintah hijrah itu diketahui oleh orang-orang Quraisy, mereka mengirim Amr bin al Ash dan Umarah bin al Walid untuk menemui an Najasyi — kemudian Ia menceritakannya sama dengan isi hadits Ibnu Masud, sedang di dalam haditsnya disebutkan:
An Najasyi berkata, “Seandainya bukan karena berbagai masalah dan kesibukan kerajaan yang kuhadapi, sudah pasti aku akan mendatanginya (Muhammad saw.) dan mencium kedua sandalnya. Tinggallah kalian di negeriku selama yang kalian sukai.”
Kemudian an Najasyi memerintahkan orangnya supaya memberikan makanan dan pakaian kepada kami.
Al Haitsami mengatakan bahwa para rawinya adalah rawi-rawi shahih (juz 6, hal. 31) — selesai.
Abu Nuáim juga meriwayatkan hadits Abu Musa di dalam al Hilyah (juz 1, hal. 114), serta al Baihaqi dan ia berkata: ini adalah sanad yang shahih — seperti tersebut dalam at Bidayah (juz 3, hal. 71).
Diriwayatkan oleh lbnu Asakir dari Ja’far bin Abu Thalib r.a., katanya:
Kaum Quraisy mengirimkan Amr bin al Ash dan Umarah bin al Walid dengan membawa hadiah yang diberikan oleh Abu Sufyan kepada an Najasyi.
Utusan Quraisy itu berkata kepada an Najasyi, sementara kami sedang berada di sisinya, “Sesungguhnya sekumpulan orang-orang rendahan dan bodoh dari kalangan kami telah datang ke negara tuan. maka serahkanlah mereka kembali kepada kami.”
Kata an Najasyi, “Tidak, sehingga aku mendengar penjelasan mereka.”
Lalu an Najasyi mengirimkan utusan untuk menanyakan kepada kami maksud kedatangan kami dan agama kami.
An Najasy bertanya kepada utusan itu, “Apakah yang dikatakan oleh mereka (para sahabat) itu?”
Kami berkata, “Mereka dulu adalah penyembah berhala dan sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul lalu kami beriman kepadanya dan membenarkannya.”
An Najasyi bertanya kepada para utusan suku Quraisy, “Apakah mereka adalah hamba sahaya kalian?”
Jawab mereka, “Bukan.”
Tanya an Najasyi, “Apakah mereka mempunyai utang kepada kalian?”
Mereka pun menjawab, “Tidak.”
Karena itu an Najasyi berkata, “Biarkan mereka bebas.”
Kemudian kami pun keluar dari majelis itu.
Amr bin al Ash berkara kepada an Najasyi, “Sesungguhnya mereka berkata mengenai ‘Isa (a.s.) berlainan dengan apa yang tuan katakan.”
Kata an Najasyi, “Sekiranya mereka mempunyai pandangan yang berbeda denganku mengenai isa, maka aku tidak akan membiarkan mereka berada di bumi Habasyah ini walau sesaat di siang hari.”
Maka an Najasyi mengutus orangnya untuk memanggil kami supaya menghadapnya. Sesungguhnya panggilan kedua ini lebih keras dari panggilan pertama. An Najasyi bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh Rasul kalian mengenai ‘isa bin Maryam.”
Kami pun menjawab, ‘Beliau bersabda: Dia adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang Dia letakkan pada diri seorang wanita suci dan tidak mempunyai syahwat kepada kaum lelaki.”
Lantas dia mengirim utusan dan berpesan, “Panggilkan fulan si pendeta dan fulan si rahib.” Maka beberapá orang pendeta dan rahib datang menghadap an Najasyi, kemudian an Najasyi bertanya, “Apa pendapat kalian mengenai ‘Isa bin Maryam?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah orang yang paling mengetahui mengenainya di kalangan kami, maka apakah pendapatmu?”
An Najasyi berkata sambil memegang ranting kay dan tanah, “Sesungguhnya beliau tidak lebih dari apa yang telah diucapkan oleh mereka ini walau cuma segini (para sahabat).”
An Najasyi bertanya kepada para sahabat, “Adakah yang menyakiti kalian?”
Jawab para sahabat, “Ya.”
Maka seorang penyeru berseru, “Barangsiapa menyakiti salah seorang dari mereka, maka ia akan didenda sebanyak empat dirham.”
An Najasyi berkata, “Apakah ini cukup bagi kahian?”
Kami menjawab, ‘Tidak.”
Maka beliau pun melipat gandakan jumlahnya.
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

