Ketika kedua ibu bapakku tidak berkata apa-apa, lalu air mataku pun berlinangan, sambil menangis aku berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan bertaubat kepada Allah untuk dosa yang tidak aku lakukan. Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa aku bebas dari segala perbuatan itu. Aku akan berkata sebagaimana yang dikatakan oleh ayah nabi Yusuf yaitu nabi Ya’kub a.s., ‘Sabar itu adalah lebih baik bagiku. Maha Suci Allah dan apa yang mereka sifatkan.”
Belum berapa lama Rasulullah saw. duduk di tempatnya, aku melihat seolah-olah beliau dalam keadaan menerima wahyu sebagaimana kebiasaannya. Maka beliau berselimut dengan pakaiannya. Aku pun meletakkan bantal di bawah kepalanya. Dan aku, apabila melihat keadaan demikian maka Allah akan memberi tahu nabi-Nya akan kesucianku dan aku bebas dari segala fitnah itu. Sesungguhnya Allah tidaklah menzhalimiku.
Sementara itu, kedua ibu bapakku, demi Dia yang memegang nyawaku, mereka begitu takut sehingga aku mengira ruh-ruh mereka akan keluar dari tubuhnya sekiranya Allah memberi tahu nabi bahwa berita orang-orang itu benar.
Kemudian keadaan Rasulullah saw. kembali normal. Aku melihat peluh membasahi dahinya bagaikan mutiara di musim dingin. Beliau saw. pun menyapu peluhnya sambil berkata, “Bergembiralah kamu wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah telah mewahyukan mengenai kesucian dan kebebasanmu dari fitnah itu.”
Aku pun berkata, “Segala puji bagi Allah.”
Kemudian Rasulullah saw. pun menemui orang banyak dan berkhutbah mengenai wahyu yang diterimanya dari Allah Swt.. Baginda saw. pun membacakan ayat al Quran yang baru diwahyukan kepadanya itu. Kemudian baginda saw. memerintahkan supaya Mistah bin Usamah, Hasan bin Tsabit dan Himnah bind Jasih r.ha. didera. Mereka adalah di antara yang menyebarkan kejahatan itu dengan giatnya.
Hadits ini diriwayatkan dalam al Bukhari dan Muslim sebagaimana dalam at Bidayah.
Dikeluarkan juga oleh al Imam Ahmad dengan panjang lebar dan di dalam riwayatnya dinukilkan: Ibuku pun berkata kepadanya, “Bangunlah mendekatlah kepadanya.”
Aku berkata, “Demi Allah aku tidak mendekat kepadanya, Demi Allah aku hanya memuji Allah Azza wa Jalla atas wahyu yang diturunkan-Nya mengenai pelepasanku dari fitnah itu.”
Allah Swt. telah menurunkan ayat mengenai pelepasan Aisyah itu sebagaimana dalam surah an Nuur:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan itu adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dan dosa yang dikerjakannya dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.
“Mengapa pada waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat.-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.”
“Ingatlah pada waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal itu pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata pada waktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.”
“Allah memperingatkan kamu agar (Jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan .sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (Qs. an Nuur ayat 11 — 20)
Setelah ayat itu diwahyukan kepada Rasulullah saw.. ayahku (Abu Bakar r. a.) berkata, “Aku tidak akan memberi nafkah kepada Mistah setelah apa yang dikatakannya mengenal Aisyah.”
Abu Bakar selalu memberi nafkah kepada Mistah, ia termasuk kerabatnya dan ia seorang yang fakir. Tetapi setelah Allah mewahyukan ayat yang berikut:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. an Nuur ayat 22).
Maka Abu Bakar r.a. pun berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya aku amat suka agar Allah mengampuniku.” Lalu ia pun meneruskan pemberian nafkah kepada Mistah sebagaimana yang biasa dilakukannya. (Tafsir Ibnu Karsir).
Selanjutna.... Penutup-
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
