Pada suatu malam aku keluar untuk menunaikan hajatku bersama dengan Ummu Mistah binti Abu Rahim bin Mutthalib, ibunya Mistah seorang sahabat nabi yang turut berjuang di dalam pertempuran Badar. Ia berjalan begitu cepat sehingga aku tertinggal di belakang. Aku berkata kepadanya, “Perlahanlah sedikit, ya Masithah.”
Aku berkata kepadanya, “Sungguh malang. Demi Allah, apakah pendapatmu mengenai seorang lelaki yang telah menyertai perang Badar?”
Ia berkata, “Tidak sampaikah berita kepadamu ya anak perempuan Abu Bakar?”
Aku bertanya kepadanya, “Berita apakah itu?”
Ia memberitahu perkataan para munafikin mengenai fitnah mereka keatas diriku. Setelah mendengarnya, demi Allah aku tidak sanggup untuk menunaikan hajatku lalu kembali ke rumah. Aku menangis sepuas-puasnya sehingga aku merasa hatiku akan pecah. Aku pun berkata kepada ibuku, “Allah mengampuni engkau. Orang-orang menceritakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang munafikin. Mengapa ibu tidak menceritakannya kepadaku?”
Ibuku menjawab, “Wahai anak perempuanku! Janganlah kamu terlalu memikirkannya. Biasanya apabila seorang wanita yang cantik dinikahi oleh seorang suami yang agung, akan banyak orang yang dengki kepadanya.”
Rasulullah saw. Berkhutbah kepada orang banyak, “Wahai kaum muslimin! Apakah yang menyebabkan kamu melakukan sesuatu yang menyakiti ahli keluargaku dengan berkata mengenai mereka tanpa hak? Aku tidaklah mengetahui mengenai Safwan melainkan kebaikan saja. Ia tidak akan masuk ke dalam rumahku kecuali bersamaku.”
Abdullah bin Ubai bin Salul (pemimpin para munafik itu) dan kaum Khazraj mengambil kesempatan dari peristiwa itu dengan membesar-besarkannya. Turut bersamanya dalam menyebarkan fitnah itu adalal Mistah dan Himnah binti Jasih adik perempuan Zainab bin Jasih isteri Nabi saw. yang sakit hati kepadaku karena kedudukanku di sisi nabi saw.. Sedangkan Himah menyebarkan fitnah yang memudharatkanku itu semata-mata karena cemburu kepadaku yang menjadi saingan kakaknya, Zainab. Namu Zainab H tidak mengatakan apa-apa melainkan kebaikan saja.
Setelah Rasulullah saw. berkhutbah sedemikian, Usaid bin Hudhair r.a. berkata, “Ya Rasulullah Jika itu dilakukan oleh pihak Aus kami akan menghukum mereka. Jika itu dilakukan oleh saudara-saudara kami dari pihak Khazraj, maka perintahkanlah kami untuk memenggal lehemya.” V
Maka, Saad bin Ubadah pun bangun dan berkata, “Engkau berdusta. Demi Allah, janganlah kamu memnggal kepala mereka. Engkau tidak berkata demikian melainkan setelah engkau mengetahui bahwa mereka adalah dari Khazraj. Jika mereka dari kaum kamu, pasti kamu tidak akan mengatakan demikian.”
Said bin Hudhair r.a. pun berkata, “Engkau berdusta. Demi Allah, apakah kamu seorang munafik yang ingin mempertahankan orang-orang munafik yang lain?”
Maka mereka pun bertengkar dengan sesama mereka sehingga hampir terjadi kegaduhan (antara Aus dan Khazraj). Lalu Rasulullah saw. turun dari mimbar dan masuk menemuiku. Beliau memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah biji Zaid r.hurn. untuk datang menemuinya dan bertukar pikiran. Adapun Usamah hanya berkata dengan kebaikan, “Ya Rasulullah! Tidaklah engkau mengetahui mengenai mereka kecuali kebaikan. Apa yang diberitakan oleh orang banyak itu adalah kedustaan dan batil.”
Sedangkan Ali r. a. berkata, “Ya Rasulullah! Sesungguhnya kaum wanita banyak sekali, engkau mampu untuk menggantikan mereka. Maka tanyakanlah kepada hamba perempuan itu karena ia akan menjadi saksi dan berkata benar kepadamu.”
Rasulullah saw. pun memanggil hamba perempuan itu yang bernama Barirah r.ha., lalu baginda saw. bertanya kepadanya. Ali pun bangun lalu memukul hamba perempuan itu sambil berkata, “Berkata benarlah kepada Rasulullah saw. .“
Ia berkata, “Demi Allah! Tidaklah aku ketahui melainkan kebaikan saja dan aku tidak mendapati satu cela pun pada diri Aisyah r. ha.. Aku hanya bertugas membuat roti untuknya dan ia memerintahkanku supaya menyimpan roti itu kemudian ia tidur. Apabila dibawakan daging kambing, ia memakannya.”
Kemudian Rasulullah saw. masuk menemuiku. Ketika itu kedua orang tuaku berada bersama denganku dan seorang wanita Anshar. Aku menangis dan wanita itu juga turut menangis. Rasulullah saw. pun duduk sambil memuji Allah lalu berkata kepadaku, “Ya Aisyah! Jika apa yang dikatakan oleh mereka adalah benar, maka takutlah kepada Allah dan jika kamu telah mendekati kejahatan, maka bertaubatlah kepada Allah karena Allah menerima taubat para hamba-Nya.”
Demi Allah! Itulah yang diucapkan oleh baginda saw. Lalu air mataku jatuh dengan banyaknya sehingga aku tidak menjawab apa yang disabdakan oleh baginda saw. itu. Begitu juga kedua ibu bapakku tidak menjawab kata kata Rasulullah saw. itu dan tidak berkata-kata walau sepatah kata pun.
Aku berkata, “Demi Allah! Aku merasa sangat hina dan merasa kerdil menunggu Allah menurunkan keputusan-Nya mengenaiku dan orang banyak akan senantiasa membacanya di dalam shalat. Sesungguhnya aku berharap agar Allah mendustakan segala tuduhan mereka mengenai diriku melalui mimpi Rasulullah saw.. Jika saja al Quran diwahyukan mengenai diriku, aku akan merasa hina.
Ketika aku melihat kedua ibu bapakku tidak berkata apa-apa, aku pun berkata kepada keduanya, “Mengapa ibu dan ayah tidak menjawab perkataan Rasulullah saw. ?“
Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak tahu apakah yang harus kami jawab.” Demi Allah! Tidaklah aku mengetahui ahli keluarga lain yang ditimpa oleh musibah yang besar selain dari keluarga Abu Bakar r.a. itu.
Selanjutnya.....
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
