Kaum Wanita Berangkat di Jalan Allah Swt. : Fitnah Aisyah r.ha. Bag. 1

0
Kaum Wanita Berangkat di Jalan Allah Swt. 
Kisah Aisyah Yang Difitnah
Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dari Aisyah r.ha. katanya: Apabila Rasulullah saw. Akan berangkat di dalam satu safar, baginda Nabi akan mengundi di kalangan isteri-isterinya. Siapakah di antara isterinya yang akan berangkat bersama Rasulullah saw.. 
Aisyah berkata, “Dalam ghuzwah Bani Mustaliq, baginda mengundi isteri-isterinya sebagaimana yang biasa dilakukan. Maka keluarlah undian untukku, dengan demikian aku pun berangkat bersama dengan baginda saw..” 

Aisyah r. ha. juga berkata, “Biasanya isteri-isteri Rasulullah saw. hanya makan sedikit. Jika mereka makan daging dengan banyak, mereka mudah menjadi gemuk. Jika aku berangkat di dalam sesuatu safar, aku akan duduk di dalam tandu. Mereka yang berangkat bersama Rasulullah saw. akan mengangkat tandu itu dan bagian bawahnya, lalu dinaikkan ke atas belakang unta, lalu mereka mengikat tandu itu dengan tali. Kemudian mereka akan menuntun unta itu. Setelah Rasulullah saw. kemba1i dari safar itu, yaitu ketika hampir sampai ke Madinah, baginda singgah di satu tempat dan 
bermalam di sana. Kemudian juru adzan akan memberi tahu mereka waktu keberangkatan, maka orang-orang pun meneruskan kembali perjalanannya. 
Aku keluar untuk menunaikan beberapa keperluanku dan pada saat itu aku memakai seutas kalung di leherku. 
Aku keluar dari tandu itu untuk menunaikan beberapa hajatku. Tanpa aku sadari kalungku itu terjatuh dari 1eherku. Setelah aku kembali ke kemah, aku pun keluar mencari kalungku tapi aku tidak menemukannya. 

Sementara aju mencari kalung itu, orang-orang telah berangkat meninggalkan tempat itu. Aku pun kembali ke tempat aku mencari kalungku yang tercecer sehingga aku kembali. Ternyata mereka telah meninggalkanku karena mengira aku masih ada dalam tandu itu sebagaimana yang biasa aku lakukan. Mereka pun mengangkat tandu itu dan mengikatnya. di belakang unta. Aku pun membungkuskan diriku dengan jilbabku dan berbaring dengan harapan jika mereka menyadari ketiadaanku, mereka akan datang kembali mengambilku. 

Demi Allah, tidak lama kemudian, lewatlah Safwan bin Mu’tal al Salmi r.a.. Ia tertinggal dari laskar lain karena menunaikan beberapa keperluan. Ia tidak bermalam dengan sahabat-sahabat yang lain di tempat itu. Ia pun kemudian melihat keadaanku. Ia .menghampiriku sehingga berdiri di hadapanku. Ia pun melihatku, saat itu hukum hijab belum diwajibkan ke atas kami. 
Setelah melihatku, ia berkata, “Inna Lillahi wa Inna Ilahi rajian, Isteri Rasulullah saw.” 
Pada waktu itu aku membungkus tubuhku dengan kain pakaianku. Ia bertanya kepadaku, “Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal?” 

Aku tidak berkata apa-apa dengannya. Kemudian ia menghampiri untanya dan berkata kepadaku, “Naiklah.” Kemudian ia mundur dariku. Maka aku menaiki unta itu dan ia menuntun unta itu sehingga berjalan dengan baik untuk menyusul para sahabat yang telah mendahului pergi. Maka demi Allah! Aku tidak dapat bertemu dengan sahabat-sahabat itu hingga waktu shubuh, sehingga para sahabat itu telah meninggalkan kami sampai di Madinah.
Ketika melihat seorang lelaki menuntun unta dengan aku di atasnya sampai di Madinah, maka orang-orang munafik dan yang mempunyai penyakit di dalam hatinya mulai berbisik-bisik satu sama lain, mereka mengumpatku atas kejadian yang telah menimpaku, terutama yang berkaitan dengan kepulanganku ke Madinah dengan seorang lelaki yank bukan dari ahli keluargaku. 

Sesampainya di Madinah aku jatuh sakit dengan sakit yang tidak pernah aku alami sebelum ini. Berita buruk dan fitnah tentang diriku sampai juga akhirnya kepada Rasulullah saw. dan kedua orang tuaku. Sedikit banyak, mereka telah berkata macam-macam tentang diriku. Dan walau bagaimanapun aku telah kehilangan sedikit kelembutan Rasulullah saw. terhadapku. Biasanya, apabila aku sakit baginda akan menghiburku, tetapi kali ini, beliau tidak melakukannya. Ketika baginda saw. datang menemuiku, beliau hanya sedikit berkata, “Bagaimana keadaamu?” Tidak lebih dari itu. Sehingga aku berkata kepadanya ketika aku melihat sikap dingin baginda saw. terhadapku, “Ya Rasulullah! Sekiranya engkau mengizinkanku biarlah aku tinggal bersama ibuku. Biarlah ia saja yang merawatku.” 

Aku pun tinggal bersama ibuku dan aku tidak mengetahui apa pun mengenai fitnah yang dilakukan beberapa orang terhadapku karena tidak ada seorang pun yang memberitahuku mengenainya juga ibuku sendiri, Sehingga aku bebas dari ujian sakit yang aku alami lebih kurang dua puluh malam. 

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !