Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dan Hiththan bin Abdullah ar Raqasyi, katanya: Kami bersama Abu Musa al Asyári r. a. dalam satu pasukan tentara di pinggiran sungai Dijlah. Ketika masuk waktu shalat, seorang muadzdzin beradzan untuk shalat zuhur. Kemudian para sahabat pun bangun, berwudhu kemudian shalat bersama Abu Musa sebagai imam. Kemudian mereka duduk membentuk halaqah.
Apabila tiba waktu Ashar, maka sang muadzdzin beradzan untuk shalat Ashar. Maka sahabat-sahabat pun bangkit untuk mengambil wudhu. Lalu dia menyuruh muadzdzinnya untuk mengumumkan, “Janganlah mengambil wudhu kecuali orang-orang yang berhadas.”
Abu Musa pun berkata, “Hampir-hampir ilmu terhapus dan kejahilan akan tampak, sehingga seorang lelaki akan memukul ibunya dengan pedang disebabkan kejahilannya.”
Demikian tercantum dalam kitab al Kanz (5/114). Ath Thahawi meriwayatkaniya dalam Syarh Maáni al Atsar (juz 1, hal. 27) — secara ringkas.
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Abu Musa pun berkata, “Hampir-hampir ilmu terhapus dan kejahilan akan tampak, sehingga seorang lelaki akan memukul ibunya dengan pedang disebabkan kejahilannya.”
Demikian tercantum dalam kitab al Kanz (5/114). Ath Thahawi meriwayatkaniya dalam Syarh Maáni al Atsar (juz 1, hal. 27) — secara ringkas.
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
