Diriwayatkan oleh ath Thabari (4/67) dari jalur Abu Mihnaf, dari Zaid bin Wahb, bahwa Ali r.a. berkata di hadapan orang banyak, yang merupakan ucapan yang pertama kali dilontarkannya selepas tengah hari, “Wahai manusia! Bersedialah kalian untuk berangkat menghadapi musuh. Memerangi mereka adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai wasilah yang ada di sisi-Nya. Orang-orang yang bertabiat kasar terhadap al Kitab dan melenceng dari agama berada dalam kebingungan. Mereka bingung di dalam kezhaliman dan terbalik di dalam dahsyatnya kesesatan. Maka persiapkan apa yang kalian bisa berupa kekuatan dan kuda-kuda yang tertambat; dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong.”
Tetapi mereka masih belum juga berangkat dan tidak pula bersiap siap, sehingga Ali r.a. membiarkan mereka untuk beberapa hari, sampai pada saat ia merasa putus asa dengan sikap mereka itu, maka ia memanggil para pemimpin dari pemuka mereka. Ali menanyai pendapat mereka dan sikap mereka yang menunda-nunda untuk berjihad. Maka di antara mereka banyak yang mengajukan alasan dan ada yang keberatan. Sangat sedikit di antara mereka yang mau berangkat dengan semangat.
Oleh karena itu Ali r. a. bangun dan berkhutbah kepada mereka, “Wahai hamba-hamba Allah! Mengapa kalian jika kuperintah untuk berangkat jihad, maka kalian cenderung untuk tinggal di rumah? Apakah kalian lebih suka dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Apakah kalian lebih menyukai kehinaan dan kerendahan daripada kemuliaan? Apakah Setiap kalian aku ajak untuk berjihad, maka mata-mata kalian berputar-putar seolah kalian dalam keadaan sakaratul maut? Dan seolah hati kalian menjadi kacau, sehingga kalian tidak mampu berpikir? Dan seolah mata kalian tertutup kegelapan sehingga kalian tidak bisa melihat?”
“Demi Allah! Tiadalah kalian melainkan singa-singa asy Syara (tempat yang banyak singanya di tepi sungi Furat. Dan itu digunakan untuk membuat perumpamaan.) yang sedang bersantai dan rubah-rubah yang berpaling, ketika kalian diseru untuk berperang. Kalian tidak percaya kepadaku selama-Iamanya. Kalian bukanlah pasukan berkuda yang dipakai untuk menyerang, bukan pula si gagah yang menjadi tempat berlindung. Demi Allah! Seburuk-buruk serangga perang adalah kalian. Sesungguhnya kalian sedang terkena tipu daya dan tidak sedang menipu daya.”
“Kelompok kalian tengah berkurang dan kalian tidak waspada, kalian tidak dibuat tidur tetapi kalian dalam keadaan Ialai dan lengah. Sesungguhnya pelaku perang adalah orang yang terjaga lagi berakal. Sedang orang yang mengajak berdamai akan menghabiskan malam dalam keadaan hina. Orang-orang yang saling berbantahan akan dikalahkan sedang orang yang dikalahkan akan ditindas dan dijarah.”
Kemudian beliau berkata, “Amma ba’du! Sesungguhnya aku mempunyai hak atas kalian dan kalian juga mempunyai hak atas aku. Adapun hak kalian atas diriku adalah aku menasihati kalian selagi kalian menyertai diriku, aku membagi-bagikan harta rampasan untuk kalian, mengajari kalian agar kalian tidak bodoh, menjadikan kalian beradab agar kalian belajar. Sedangkan hakku atas kalian adalah hendaknya kalian menunaikan janji baiat kalian, setia kepadaku ketika aku tidak hadir maupun hadir, kalian sambut panggilanku setiap kali aku menyeru kalian dan kalian taat setiap kali aku memerintah kalian. Karena bila Allah menginginkan kebaikan untuk kalian, berhentilah melakukan apa yang tidak kusukai dan kemballiah kalian kepada apa yang kusukai — gapailah apa yang kalian cari dan dapatkan apa yang kalian angankan.” — selesai.
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
