Kisah Sahabat Nabi: Kegairahan Khalid bin Walid Untuk Jihad dan Mati Syahid di Jalan Allah

0
Kegairahan Khalid bin Walid Untuk Jihad dan Mati Syahid di Jalan Allah 
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Ziyad, seorang bekas budak keluarga Khalid r. a., bahwa Khalid berkata ketika di ambang kematiannya, “Tiada satu malam pun di muka bumi ini yang lebih kusukai daripada satu malam yang amat dingin bersama satu sariyyah yang terdiri dan orang-orang Muhajirin, di mana aku menyerang musuh bersama mereka. Karena itu, kalian harus tetap berjihad.” (al Ishabah) 

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Qais bin Abu Hazini, katanya: Khalid bin Walid r. a. berkata, “Yang kusukai bukanlah malam yang di dalamnya pengantin wanita diantarkan ke rumahku, atau bukan pula malam di mana aku diberi kabar gembira dengan kelahiran seorang putra, semua itu tidak lebih kusukai daripada malam yang sangat dingin bersama satu sariyyah yang terdiri dan orang-orang Muhajirin, yang aku menyerang musuh bersama mereka.” (al Majma’ [Juz 9, hal. 350]. Dia berkomentar: Para rawinya adalah rawi-rawi shahih) 

Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la dari Qais bin Abu Hazini, katanya: 
Khalid berkata, “Banyaknya jihad di jalan Allah telah menghalangiku untuk membaca al Qurán.” 
Al Haitsami berkata (juz 9, hal. 350): Para rawinya adalah rawi-rawi shahih. Dan ia menceritakannya dalam al Ishabah (juz 1, hal. 414) dari Abu Ya’la, dari Khalid r. a. yang berkata, “Jihad telah menyibukkan aku dari mempelajari banyak ayat al Qurán.” 

Diriwayatkan juga oleh lbnul Mubarak dalam kitab al Jihad, dari Ashim bin Bahdalah, dari Abu Wa’il, katanya: Ketika Khalid hampir meninggal dunia dan tanda-tandanya semakin jelas, ia berkata, “Sungguh, aku telah mencari-cari kematian di tempat-tempat yang mungkin ada, tetapi ternyata tidak ditakdirkan demikian selain mati di atas tempat tidurku ini. Dan tidak ada ámalan apa pun yang aku harapkan ganjarannya setelah mengucapkan laa ilaaha illallaah, daripada satu malam yang aku lalui sambil memakai tameng, sedang langit menurunkan hujannya hingga pagi hari, sampai akhirnya kami menyerang musuh.” Lalu ia berkata, “Jika aku mati, lihat-lihatlah senjata dan kudaku, kemudian nafkahkan barang-barang itu di jalan Allah.” 

Ketika beliau wafat, Umar r. a. pergi menjenguk jenazahnya. Umar berkata, “Tidak mengapa para wanita keluarga Khalid untuk meneteskan air mata karena kematiannya, selama tidak sampai berbuat naq (mengeraskan suara, Pendapat lain mengatakan: merobekrobek saku baju. Pendapat lain: meletakkan tanah di atas kepala agar peristiwa itu tidak berulang.)” atau bersuara keras.”
Demikian tercantum dalam kitab al Ishabah (juz 1, hal. 415) dan dia berkata: ini menunjukkan bahwa Khalid wafat di Madinah, akan tetapi kebanyakan riwayat menunjukkan bahwa ia wafat di kota Homs — selesai. 
Ath Thabarani juga meriwayatkannya dan Abu Wa’il — serupa hadits itu Secara ringkas. Al Haitsami berkata (juz 9, hal. 350): Sanadnya adalah hasan. 
— selesai. 

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !