Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang menguasai nafsunya,. (dalam perbuatan yang mendatangkan ridha Allah) dan beramal untuk selelah mati. Dan orang yang bodoh, ialah orang yang mentaati nafsunya dan mengharap (ampunan)AIIah.
(Tirmidzi, Ibnu Majah - Misykat).
Hadits di atas menjelaskan bagaimana Rosulullah menilai orang cerdas yang sesungguhnya, berbeda halnya dengan kita, terkadang kita menilai seseorang cerdas itu dari segi pendidikan, sejauh mana dia menyelasaikan jenjang pedidikan. semaikin tinggi pendidikan seseorang, maka dia dianggap orang yang cerdas. atau mungkin orang cerdas itu orang yang kepalanya botak, atau bergelar profesor, doktor, insinyur dll. Begitu pula dalam menilai orang bodoh, mungkin kita akan menganggap orang yang tidak pernah mengenyam pididikan sekolah, atau sekolah namun tidak sampai jenjang yang tinggi. Orang seperti ini dikatakan orang bodoh.
Hati orang-orang yang cerdik dan melihat, adalah seperti lampu yang terletak di atas rak, yang memberi cahaya yang terang. Perumpamaan mereka di dalam Al-Qur’ an dengan ayat,
“....seperti Inisykat”sebuah lubang,) yang tak tembus di dalamnya ada pelita besar... “(An-Nur: 35)
Dan hati mereka yang terjebak tipuan (di perdayakan oleh angan-angan palsu mengenai ampunan Allah), adalah seperti seseorang yang tenggelam dalam kegelapan yang tebal, sehingga Ia tidak dapat melihat apa-apa. Mereka diperumpamakan di dalam Al-Qur’ an,
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak yang di atasnya ombak (pula.), di atasnya (lagi,) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih,...” (An Niir: 40)
Jadi, apabila kita mengetahui bahwa ‘tipuanlah’ puncak kemusnahan yang sebenarnya, maka penting sekali kita mengetahui bagaimana perincian ‘tipuan’ itu, agar kita dapat menyelamatkan diri darinya. Celaan atas ‘tipuan’ banyak terdapat di ayat lainnya di dalam A1-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.. Nabi saw. bersabda, bahwa orang yang cerdik adalah orang yang dapat menguasai nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Dan orang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allah. Semua celaan ‘tipuan’ dalam hadits-hadist juga sesuai dengan kejahilan, sebab kejahilianlah yang menyebabkan ia diperdaya oleh angan angan palsu. Bahkan Ia adalah satu bagian dari kejahilan. Walaupun semua jenis kejahilan, bukan tipuan’, tetapi setiap ‘tipuan’ adalah kejahilan semata. Kejahilan dan ‘tipuan’ yang terbesar adalah ucapan orang-orang kafir dan fasik, bahwa dunia adalah tunai dan ada sekarang, sedangkan akherat adalah utang dan kemudian. Bukan suatu perbuatan orang yang cerdik jika melepaskan yang tunai untuk yang utang atau yang kemudian.’ Anggapan ini adalah suatu kebodohan dan kejahilan yang sangat besar. Pemahaman deinikian sesuai untuk sesuatu yang sama nilainya. Baik tunai ataupun utang. Tetapi jika sesuatu itu dijual dengan harga yang berbeda, yang satu 100 rupee tunai dan satunya adalah 1000 rupee utang, maka tiada seorang yang sangat bodoh pun akan berkata, jangan melepaskan yang tunai untuk yang utang. Padahal kelezatan-kelezalan dunia yang tunai itu tidak bernilal sedikitpun dibandingkan dengan kelezatan –kelezatan akherat. Kehidupan seseorang yang terpanjañg di dunia pun tidak melebihi 100 atau 150 tahun. Bagaimana dapat dibandirigkan kehidupan tadi dengan kehidupan akherat yang tidak berakhir sama sekali?
Deinikianlah, jika seoranq tabib melarang pasiennya dan memakan sejenis buah, lalu berkata bahwa buah itu akan membahayakan kesehatannya, maka pasien tadi tidak akan berkata, ‘Bukankah kelezatan buah itu tunai. Sedangkan kesehatan adalah utang,’ yakni akan dinikmati nanti. Oleh sebab itu, sangat tidak patut untuk melepaskan yang tunai untuk yang utang.’
Deinikianlah sebagian orang bodoh berkata, ‘kesusahan dan kesenangan di dunia adalah pasti, sedangkan kesenangan dan kesusahan di akherat itu tidak pasti. Maka jangan melepaskan sesuatu yang pasti untuk sesuatu yang tidak pasti.’ ini juga perkataan yang sangat jahil. Manusia bersusah payah atas yang pasti, ketika berdagang untuk mendapatkan keuntungan yang tidak pasti, baik untung atau bahkan merugi sebaliknya. Pasien sanggup menerima obat yang sangat pahit, dan sanggup menjalani berbagai kesusahan yang pasti ketika dioperasi pembedahan, test darah dan lain-Iainnya, tetapi hasilnya belum pasti, menjadi sembuh alau tidak.
Deinikian juga peinikiran, bahwa kita tidak pernah melihat akherat, tidak berpengalaman sedikit pun mengenai akherat, dan tidak tahu apakah itu suatu benar atau sebaliknya suatu tipuan yang besar Peinikiran deinikian juga berasal dan suatu kejahilan. Seseorang yang tidak berilmu atau berpegalaman mengenai suatu bidanq, ia akan mempercayai orang yang berpengalaman serta berpengetahuan dalam bidang tersebut. Tiada seorang pasien pun yang menolak obat yang diberikan oleb tabibnya dengan alasan bahwa dirinya tidak berpengalaman atas khasiat obat itu, sebab ia belum pernah menggunakannya. Pasien senantiasa bergantung kepada tabib yang berpengalaman dan berpengetahuan, dan mempercayai kata katanya tanpa ragu. Tidak seorang pun yang berani meininta kepada tabib agar Ia membuktikan dulu khasiat obat itu dengan dalil yang memuaskan. Sekiranya ia berbuat deinikian, maka Ia akan dianggap orang bodoh.
Deinikian juga dengan kata-kata para Anbiya as., wali-wali Allah, ahli hikmah dan alim ulama mengenai akherat, perlu dipercayai sebagaimana mempercayai dalam hal keduniaan. Jika orang-orang jahil itu terus berkata, ‘kaini tidak peduli’ atau ‘kaini tidak yakin’ tidaklah mengapa. Perasaan dan perkataan deinikian adalah perkataan orang-orang kafir. Orang—orang Islam, yang mengaku sebagai orang Islam, tidak patut mengeluarkan kata-kata deinikian. Tetapi menentang perintah-perintah Allah, berbuat dosa, menenggelamkan diri dalam kelezatan dunia dan mentaati hawa nafsu, adalah seolah-olah berkata deinikian dengan amalan, walaupun bukan dengan perkataan. Jika tidak, mengapa lebih mengutamakan dunia daripada akherat?
Dengan perkataan pun, mereka telah terjerat dalam suatu tipuan lainnya, yaitu ucapan mereka, “Allah swt. Maha Pengasih, Maha Pengampun, Maha Penyayang. Kaini berharap, Dia akan mengampuni dosa kaini. Kaini mempercayai ampunan-Nya, dan itu yang dituntut, dipuji dan disukai. Rahmat-Nya Maha Luas. Jika dibandingkan dengan lautan ampunan-Nya yang sangat luas, maka dosa-dosa kaini tidak ada apa-apanya. Allah swt. .sendiri berfirman sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Qudsi, “Aku adalahh sebagaimana sangkaan hamba-Ku.” ini adalah hadits Qudsi yang shahih tanpa ragu sedikit pun, bahwa demikianlah firman Allah swt.. Tetapi hendaklah kita mengingat bahwa kadangkala syetan menyesatkan manusia dengan menyalah tafsirkan firman Allah swt. yang sebenarnya. Jika tidak, maka sangat sukar baginya untuk menyesatkan manusia. Hakekat inilah yang dijelaskan Rasulullah saw. dalam hadits ini, bahwa orang cerdik adalah orang yang dapat menguasai nafsunya (untuk mentaati Allah), dan beramal untuk kehidupannya setelah mati, dan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah.
