Dalam sebuah hadits dikatakan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap ampunan Allah. Hadits tersebut menjelaskan bagaimana setan menipu manusia, dengan membisikan kepada manusia untuk berbuat maksiat, dan kemudian meminta ampun kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun. yang demikian ini adalah tipuan Syaitan, bukan berprasangka baik kepada Allah.
Sedangkan berprasangka baik dan berharap kepada Allah telah dijelaskan didalam Al-Qur'an.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka itu mengharap rahmat Allah.” (Al-Baqarab: 218)
Di dalam ayat-ayat A1-Qur’an lainnya, surga dan nikmat-nikmatnya juga telah disifatkan sebagai balasan atas amal shaleh. Dengan demikian, kita sepatutnya memikirkan sebuah contoh misalnya demikian: Seorang majikan yang murah hati telah mengambil seorang pekerja untuk membuat periuk. dia berjanji akan membayar gaji yang sangat tinggi serta bonus-bonus tambahan. Biasanya Ia tetap memberi upah yang mahal kepada pekerjanya walaupun periuk-periuk hasilnya bermutu rendah. Beliau sangat bermurah hati, sehingga sanggup memberi upah lebih dari yang dijanjikan. Pekerja ini sangat gembira ketika mengetahui bahwa majikannya seorang yang pemurah. dia pun menunggu untuk menerima upah yang sangal tinggi serta bonus tambahan tanpa bekerja. Namun, alat-alat untuk membuat periuk yang telah diberi oleh majikannya itu ia rusak, kemudian ia menugggu dengan penuh harap untuk mendapat upah yang tinggi serta hadiah haidah dari majikan yang sangat pemurah. Apakah seorang yang bodoh pun akan menganggap bahwa orang sepenti itu adalah orang cerdik? Kebodohan itu hanya terjadi karena tidak memahami perbedaan antara harapan dan angan angan. Hasan Basri rah.a. ditanya seseorang, “Sebagian orang tidak beramal baik tetapi mereka berkata, bahwa mereka tetap mengharap (bersangka baik) terhadap Allah. Apa pendapat tuan mengenainya?” Jawab beliau, “Harapan jauh darinya. Terlalu jauh! itu hanyalah angan-angan kosong yang menipu. Barangsiapa berharap mendapatkan sesuatu, maka ia mesti bersungguh sungguh untuk mendapatkannya. Barang siapa takut akan sesuatu (misalnya; adzab Allah), tentu Ia akan bersunguh-sungguh untuk menyelamatkan diri darinya.
Suatu ketika, Muslim bin Yasar rah.a. sujud lama sekali, sehingga keluar darah dan giginya dan dua buah giginya telah tanggal. Melihat demikian, seseorang berkata, “Aku tidak dapat beramal, tetapi aku tetap mengharap ampunan Allah swt.” Muslim rah.a. menjawab, “Jauh! Sangat jauh harapanmu. Barangsiapa mengharap sesuatu, tentu Ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Dan barangsiapa takut atas sesuatu, tentu Ia akan lari darinya.” Barangsiapa berharap mendapalkan anak, tetapi Ia tidak menikah atau sesudah nikah, tetapi Ia tidak berkumpul dengan istrinya dan terus berharap mendapat anak, maka Ia adalah bodoh. demikianlah, barangsiapa rnengharap rahmat Allah, tetapi tidak beriman kepada Allah, atau setelah beriman kepada Allah, tetapi ia tidak beramal shalih dan tidak berhenti dari berbuat dosa, adalah bodoh. Sebaliknya, barang siapa menikah, berkumpul dengan istri, lalu ia diantara berharap dan bimbang; apakah Ia akan mendapat anak atau tidak. Dan ia mengharap karunia Allah untuk mendapat anak, dan Ia takut akan terjadi sualu masalah dengan kandungan istrinya, sehingga Ia mencoba segala usaha untuk menyelamatkan kandungan dari keguguran sampai kelahirannya, maka ia adalah orang yang berakal dan pandai. Demikian pula, orang yang beriman lalu beramal shaleh, dan menghindarkan diri dan dosa serta mengharap rahmat Allah, bahwa Dia akan menerima amalnya, dan takut amalannya ditolak, sehingga Ia meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka ia adalah orang yang berakal cerdik. Selain itu semua, adalah perbuatan bodoh. Mengenai mereka Allah berfirman,
“Dan (alangkah ngerinya), sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu men undukkan kepalanya di hadapan Tuhannya (mereka berkala), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia) kami akan mengerjakan amal-amal yang shaleh; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah: 12)
Mereka akan berkata, “Kini kami memahami bahwa tiada seorang pun yang dapat mernperoleh anak tanpa menikah dan bersetubuh. Tiada seorang pun yang dapat memperoleh suatu hasil dan tanah tanpa membajaknya serta menanam benih. Begitu juga tiada seorang pun yang akan menerima rahmat Allah swt. tanpa beramal shaleh.
