Demikian kuat kita mengikuti hawa nafsu, sehingga kita tidak mempedulikan perbuatan halal atau haram. Tetapi kita berharap besar kepada Allah, bahwa Allah Maha Rahim, Maha Penyayang, dan akan mengampuni segala dosa. Dengan berharap demikian, kita tidak ragu-ragu berbuat dosa. Sebuah hadits menyebutkan bahwa, “Orang yang cerdik ialah orang yang beramal untuk kehidupannya setelah mati. Dan orang yang telanjang adalah orang yang tidak beragama. Ya Allah! Kehidupan hanyalah kehidupan akherat saja.” (Jami’us Shaghir). Maksudnya, karena kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akherat, maka siapa yang tiba di sana tanpa bekal, berarti ia telah menyia-nyiakan umurnya. Ada satu hal yang mesti dipahami, bahwa mengharap rahmat Allah dan ampunan-Nya serta berdoa kepada-Nya, adalah masalah yang berbeda. Dan mengikuti hawa nafsu dengan berharap, bahwa ‘Aku pasti akan diampunkan, maka aku dapat berbuat apapun ‘adalah masalah lain lagi.
Imam Razi rah . a. berkata, “Firman Allah swt.
“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu, dan jangan (pula) penipu (syetan) memperdayakanmu dalam (mentaati) Allah.” (Luqman: 33).
Adalah cukup sebagai celaan terhadap mereka yang tertipu. (lhya).
Ayat pertama adalah di akhir surat Luqman. Dalam tafsirnya, Said bin Zubair rah.. berkata, ‘Maksud ‘menipumu mengenai Allah’ ialah kamu berbuat dosa Ialu berharap ampuman Allah,
“(Ingatlah) ketika orang-orang lelaki dan perempuan (yang sedang meraba-raba dalam gelap gulita pada hari Kiamat), berkata kepada orang orang yang beriman, “Tunggulah kami, biarkan kami mengambil sedikit dari cahaya kamu.” (Lalu) dikatakan (kepada mereka secara mengejek-ejek), ‘Baliklah kamu ke belakang, kemudian carilah cahaya (di sana), serta diadakanlah di antara mereka (yang beriman dan munafik itu) sebuah tembok yang mempunyai pintu, disebelah dalamnya mengandung rahmat (surga dan nikmat), dan di sebelah luarnya, dan situ terdapat (neraka dan) adzab siksa. Pada saat itu mereka (yang munafik) menyeru orang-orang yang beriman (sambil berkata), ‘Bukankah kami bercampur gaul denganmu (di dunia dahulu)?’ Orang-orang yang beriman menjawab, “Benar! Akan tetapi kamu telah membinasakan dirimu (dengan perbuatan munafik) dan kamu telah menunggu nunggu (kebinasaan umat Islam), dan kamu pula ragu-ragu (terhadap masalah-masalah agama) serta kamu diperdayakan oleh angan angan kosong (untuk mencapai maksudmu), sehingga datangnya (maut) yang ditetapkan oleh Allah (terhadapmu). Dan (selain itu), kamu pula diperdayakan oleh bisikan syetan dengan (ampunán) Allah (semata-mata melupakan adzab-Nya).” (Hadid: 13-14).
Telah dinukilkan dari Abu Sufyan ra. dalam tafsir ayat ini,
membinasakan diriimu dan kamu telah menunggu’. Maksudnya, kamu telah meletakkan dirimu dalam kesesatan serta kemaksiatan, dan kamu telah diperdayakan oleh harapan-harapanmu, dari ucapanmu, “Kami akan diampuni.”(Durrul Mantsur).
Pengarang kitab Mazhahirul Haq menulis, bahwa syekh Ibnu Abbad Syadzli rah.a. menyatakan di dalam syarah ‘Hikam’ bahwa alim ulama berkata, “Harapan palsu yaitu, ‘Yang diperdayakan oleh harapan yang lalu namun bertentangan dengan amal shalih, dan berani bermaksiat. Itu bukanlah harapan yang sebenarnya, tetapi itu adalah angan-angan dan tipu daya syetan.”
Ma’ruf Karkhi rah.a. berkata, “Salah satu perbuatan dosa adalah memohon surga tanpa beramal shalih. Dan salah satu penipuan terhadap diri sendiri adalah mengharap syafaat dari ahli wara tanpa berhubungan dengannya. Dan suatu kebodohan serta kejahilan, jika mengharap rahmat tanpa mentaati- Nya .‘
Hasan Basri rah.a. berkata, “Satu golongan terbebas dari ampunan karena angan-angan mereka, sehingga mereka keluar dari dunia tanpa sedikitpun kebaikan bagi mereka. Seseorang dari mereka akan didengar ,”Aku bersangkabaik terhadap Rabb pemeliharaku Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pengampun.” Padahal ia berbohong. Sekiranya Ia bersangka baik terhadap Allah, tentu Ia akan beramal shaleh.” Hasan Bashri rah.a. berkata, “Jauhilah dirimu, wahai hamba hamba Allah dari angan angan yang batil (palsu) itu, sebab ia adalah wadi orang—orang bodoh! Demi Allah! Ia tidak pernah memberi kebaikan kepada siapapun baik di dunia maupun di akhirat (yaitu harapan tanpa amal).” (Mazhahirul Haq).
Imam Ghazali rah.a. berkata, “Kunci segala kebaikan adalah berhati hati dan menggunakan akal. Puncak segala keburukan adalah diperdaya oleh harapan palsu serta lalai. Tiada kebaikan Allah. Yang lebih besar daripada nikmat dan makrifat. Dan tiada suatu asbab pun untuk mendapatkannya, kecuali dengan meluaskan hati dengan nur (cahaya) mata hati, Tiada satu pun adzab yang lebih besar daripada kufur dan maksiat. Dan satu satunya penggerak baginya adalah karena mata hatinya buta dan berada dalam kegelapan jahiliyah.
