Biografi Syaikh Kholil Bangkalan Lengkap

0

Al-'Alim al-'Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'i


Nama asli syekh Kholil bangkalan adalah Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban beliau berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai nasab yang menyambung dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman Basyeiban. Sayyid Sulaiman inilah yang merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati dari pihak ibu.

Syekh Kholil dididik dengan sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memiliki keistimewaan yang haus akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu. Bahkan ia sudah hafal dengan baik 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik sejak usia muda.

Setelah dididik, orang tua Mbah Kholil kecil kemudian mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Mengawali pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan ia pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian ke Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiai Nur Hasan yang menetap di Pondok Pesantren Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surat Yasin.

Sewaktu menjadi santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik. Disamping itu ia juga merupakan seorang Hafidz Al-Quran dan mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira'at Sab'ah.


Pernikahan Syaikh Kholil

Saat usianya mencapai 24 tahun Syekh Kholil menikahi Nyai Asyik, putri Lodra Putih, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Makkah. Untuk ongkos pelayaran bisa ia tutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon Mbah Kholil berpuasa. Hal tersebut dilakukannya bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah agar perjalanannya selamat.

Guru Syaikh Kholil Bangkalan

  • K.H. Abdul Lathif (Ayahnya)
  • K.H. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban
  • K.H. Nur Hasan di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
  • Syekh Nawawi al-Bantani di Mekkah
  • Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
  • Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan di Mekkah
  • Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki di Mekkah
  • Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani di Mekkah


Murid-murid Syaikh Kholil Bangkalan

Berikut merupakan murid-murid dari Syekh Kholil:
  • K.H. Muhammad Hasan Sepuh - pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo
  • K.H. Hasyim Asy’ari - pendiri Nahdlatul 'Ulama, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang
  • K.H. Abdul Wahab Hasbullah - pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang
  • K.H. Bisri Syansuri - pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
  • K.H. Manaf Abdul Karim - pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri
  • K.H. Ma'sum - Lasem, Rembang
  • K.H. Munawir - pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
  • K.H. Bisri Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang
  • K.H. Nawawi - pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
  • K.H. Ahmad Shiddiq - pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Jember
  • K.H. As'ad Syamsul Arifin - pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Asembagus, Situbondo
  • K.H. Abdul Majjid - Batabata, Pamekasan
  • K.H. Toha - pendiri Pondok Pesantren Batabata, Pamekasan
  • K.H. Abi Sujak - pendiri Pondok Pesantren Astatinggi, Kebunagung, Sumenep
  • K.H. Usymuni - pendiri Pondok Pesantren Pandian, Sumenep
  • K.H. Zaini Mun'im - Paiton, Probolinggo
  • K.H. Khozin - Buduran, Sidoarjo
  • K.H. Abdullah Mubarok - pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya
  • K.H. Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
  • K.H. Asy'ari - pendiri Pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari, Bondowoso
  • K.H. Sayyid Ali Bafaqih - pendiri Pondok Pesantren Loloan Barat, Bali
  • K.H. Ali Wafa - Tempurejo, Jember
  • K.H. Munajad - Kertosono, Nganjuk
  • K.H. Abdul Fatah - pendiri Pondok Pesantren Al-Fattah, Tulungagung
  • K.H. Zainul Abidin - Kraksaan, Probolinggo
  • K.H. Zainuddin - Nganjuk
  • K.H. Abdul Hadi - Lamongan
  • K.H. Zainur Rasyid - Kironggo, Bondowoso
  • K.H. Karimullah - pendiri Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso
  • K.H. Muhammad Thohir Jamaluddin - pendiri Pondok Pesantren Sumber Gayam, Madura
  • K.H. Hasan Mustofa - Garut
  • K.H. Raden Fakih Maskumambang - Gresik
  • Ir. Soekarno - Presiden Republik Indonesia pertama, menurut penuturan K.H. As'ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Syekh Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Syekh Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya.

Karangan Syaikh Kholil Bangkalan

Sesuai namanya, kitab Al-Matnus Syarif al-Mulaqqab bi Fat-hil Latif ini merupakan kitab matan (inti) yang berbicara mengenai fundamen dasar hukum Islam (ilmu fiqih). Yang menarik dari kitab setebal 52 halaman ini, adalah bukan hanya karena kemasyhuran penulisnya, melainkan kitab ini telah menampilkan landscape keilmuan yang selama ini terkesan rumit, menjadi demikian lugas dan mudah difahami.
Syaikhuna Kholil Bangkalan

Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !