Kisah Muadz bin Jabal Menangkap Syetan.

0
Diriwayatkan oleh ath Thabrani, dari Buraidah berkata: Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu menangkap setan pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku pun mendatanginya, lalu aku berkata:”Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau pernah menangkap setan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” 
Mu’adz radhiyallahu ‘anhu menjawab:”Benar. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kurma zakat kepadaku, maka akupun menempatkannya (menyimpannya) di kamarku. 
Namun aku mendapati kurma itu berkurang setiap hari. Lalu aku pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku:”Itu adalah perbuatan (ulah) setan.” Lalu aku pun mengintainya pada malam harinya. Ketika sebagian malam telah berlalu, datanglah ia (pencuri) dalam bentuk gajah. 

Ketika ia sampai di pintu, ia masuk lewat celah pintu dalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang semula. Lalu ia mendekati kurma dan mulai memakannya. Maka aku pun mengencangkan bagian atas bajuku, dan menjadikannya di tengah-tengah badanku. Maka aku berkata:”Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaahu wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluhu, wahai Musuh Allah!, Engkau melompat ke atas kurma zakat, lalu engkau mengambilnya. Padahal mereka (orang-orang berhak menerima zakat) lebih berhak darimu. Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau membongkar kedokmu.” Lalu ia pun berjanji kepadaku untuk tidak mengulanginya. 

Maka pagi harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata kepadaku:”Apa yang dilakukan tawananmu semalam?” Aku berkata:”Ia berjanji kepadaku untuk tidak kembali lagi.” Nabi berkata:”Ia akan kembali lagi, maka intailah dia.” 

Maka aku pun mengintainya pada malam kedua, maka ia pun melakukan perbuatan yang sama, dan ia pun berjanji kepadaku tidak akan kembali, maka akupun melepaskannya. Kemudian di pagi hari aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengabarkan hal tersebut, ternyata penyeru beliau memanggil:”Di mana Mu’adz?” Maka beliau bekata kepadaku:”Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Maka aku pun mengabarkannya kepada beliau. Beliau berkata:”Ia akan kembali lagi, maka intailah dia.” 

Maka aku pun mengintainya pada malam ketiga, maka ia pun melakukan perberbuatan yang sama. Maka aku pun berbuat yang sama. Dan aku berkata:”Wahai musuh Allah, engkau telah berjanji kepadaku dua kali, dan ini yang ketiga, sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau membongkar kedokmu.” 

Maka ia pun berkata:”Aku adalah setan yang memiliki keluarga yang harus dinafkahi, dan tidaklah aku mendatangimu kecuali dari setan-setan yang kesusahan (dalam nafkah). Seandainya aku bisa mendapatkan makanan dari selain ini, maka tidak akan mendatangimu. Kami dari dulu tinggal di kotamu ini hingga diutuslah Shahabat kalian (maksudnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). 

Ketika diwahyukan kepadanya dua ayat, kalian membuat kami lari dari kota ini, maka terjatuhlah kami ke dalam kesusahan. Tidaklah kedua ayat ini dibaca di sebuah rumah melainkah setan tidak akan masuk ke dalamnya tiga kali. Maka jika engkau melepaskan aku, niscaya aku akan mengajarkannya kepadamu.” Aku berkata:”Ya.” Ia menjawab:”Ayat kursi dan akhir surat al-Baqarah yaitu firman Allah:”آمَÙ†َ الرَّسُولُ بِÙ…َا Ø£ُÙ†ْزِÙ„َ”[البقرة آية 285] sampai akhir ayat.” Maka aku pun melepaskannya. 

Kemudian di pagi hari aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengabarkan hal tersebut, ternyata penyeru beliau memanggil:”Di mana Mu’adz?” Maka ketika aku masuk ke rumah beliau, beliau bekata kepadaku:”Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Aku menjawab:”Ia berjanji kepadaku bahwa ia tidak akan kembali lagi. Lalu aku kabarkan kepada beliau apa yang dikatakan oleh setan itu” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku:”Si buruk itu telah jujur, padahal ia adalah sang pendusta.” Mu’adz berkata:”Maka aku membaca keduanya setelah itu, dan aku tidak mendapati lagi kekurangan pada kurma zakat tersebut.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani rahimahullah dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan dibawakan juga oleh al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’uz Zawa’id, dan beliau (al-Haitsami rahimahullah) berkata:”Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari syaikhnya Yahya bin ‘Utsman bin Shalih dan ia adalah perawi yang shaduq Insya Allah, sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi dan Ibnu Abi Hatim dan mereka telah memperbincangkannya. Dan perawi-perawi yang lain dinyatakan tsiqah oleh mereka.”‎

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !