Diriwayatkan oleh bnu Ishaq dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: Aku adalah seorang anak yatim yang dipelihara oleh Abdullah bin Rawahah r. a.. Pada suatu hari ia keluar bersama denganku dalam satu perjalanan, dengan meboncengkan aku di belakang tungangannya. Demi Allah! Sesungguhnya, di suatu malam ketika berjalan, tiba-tiba aku rnendengarnya melantunkan bait-bait syair:
“Bila kamu (unta betina) mendekatkan aku
dan membawa perbekalanku dalam perjalanan selama empat hari
sesudah melalui al Hisa (sumber air Bani Fuzarah yang terletak antara Rabdzah dan Nakhl. Tempat tersebut juga disebut Dzu Hisa. ).”
Maka aku tidak akan membebanimu dengan perjalanan lain setelah ini.
Dan tiada celaan bagimu.
Aku sekali-kali tidak akan pulang ke pangkuan keluargaku yang ditinggalkan. . . .
Datanglah kaum muslimin lalu meninggalkanku di bumi Syam
yang merupakan tempat akhir perjalanannya. .
Setiap orang yang mempunyai hubungan keturunan dan kekerabatan
akan memulangkanmu kepada ar Rahman,
pemutus persahabatan.
Di sana aku tidak menghiraukan buah muda dan pohon yang tidak diairi,
tidak juga buah muda pohon kurma yang menghilangkan kedahagaan.”
Ketika aku mendengar syairnya itu, aku pun menangis. Ia menamparku dengan perlahan sambil berkata, “Ada apa denganmu, hai bocah kurang ajar, sekiranya Allah mengaruniakan kesyahidan kepadaku? Engkau pulang sajalah dengan menunggang untaku ini.”
Demikian tercantum dalam kitab al Bidayah (4/243). Abu Nuáim meriwayatkannya dalam al Hilyah (juz 1, hal. 119) dan juga ath Thabarani, melalui jalur Ibnu Ishaq, dan Zaid; sebagaimana tersebut dalam al Majma’ (juz 6, hal. 158).
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
