Diriwayatkan oleh at Thabranni dalam kitab al Ausath dan al Kabir dasti Aqil bin Abu Thalib r.a katanya: Orang-orang Quraisy dastang menemui Abu Thalibdan berkat kepadanya, "Hai Abu Thalib! Sesungguhnya keponakanmu telah mendatangi kami dirumah-rumah kami dan majlis-majlis kami dengan memperdengarkan perkataan yang menyakiti perasan kami. Sekiranya engkau mampu untuk menghalanginya, maka lakukanlah untuk kami."
Kemudian aku menemuinya dalam sebuah kandang ternak yang terbbuat dari tanah, milik Abu Thalib. Rasulullah lalu keluar dan berjalan bersamaku untuk menemui Abu Thalib. Kami mencoba mencari jalan yang teduh untuk berjalan, tetapi tidak menemuinya, hingga kami sampai dirumah Abu Thalib.
Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, "Wahai keponakanku. Aku selalu menurutimu dalam semua peristiwa yang telah lewat seperti yang kau ketahui. Makan pada hari ini, patuhilah aku dengan yang akan kukatakan padamu. Kaummu telah datang kepadaku dengan pengaduan bahwa engkau telah mendatangi mereka di Ka'bah dan tempat-tempat perkumpulan mereka dengan memperdengarkan sesuatu yang menyakiti hati mereka. Alangkah baiknya jika kamu berhenti saja dari kelakuan itu."
Kemudian Rasulullah menengadah kelangit dan lalu berdoa, "Demi Allah! Aku tidak lebih mampu untuk meninggalkan apa yang aku utus dengannya, dibandingkan dengan salah seorang diantara kalian yang ingin mengambil ssatu bara api dari matahari."
Maka Abu Thalib berkata, "Demi Allah, sesungguhnya keponakanku tidak pernah berbohong. Kembalillah kalian sebagai orang-orang yang lurus diatas jalan kebenaran."
AL Haitsami mengatakan (6/14) bahwa hadits diatas telah diriawayakan oleh ath Thabrani dan Abu Ya'la dengan sedikit ringkasan pada bagian awalnya, sedang para rawi Abu Ya'la adalah rawi-rawi sahih - selesai.
Diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam at Tarikh semisal itu, sebagaiman tertera dalam al Bidayah.
Dalam riwayat al Bukhari diceritakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Raslullah , "Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan berkata ini dan itu. Oleh karena itu, kasihanilah aku dan dirimu, dan janganlah engkau membebaniku dengan urusan yang tidak mampu ditanggung olehku dan olehmu. Maka hentikanlah perkataanmu yang mendatangkan rasa benci di hati mereka."
Maka Rasulullah mengira telah timbul piran baru dalam diri pamannya itu, dan mengira bahwa ia tidak sudi lalgi menolongnya, rela menyerahkannya, dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya.
Sehingga Rasulullah bersabda,
"Wahai pamanku, seandainya matahari diletakkan ditangan kananku dan bulan ditangn kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan agama-Nya atau sendiri yang binasa dalam menyiarkan agama ini."
Maka air Mata mengenang di kelopak mata Rasulullah dan beliau pun menangis . Ketika beliau berpaling darinya, Abu Thalib berkata kepada belliau - ketika ia melihat perngaruh hal itu pada Rasulullah. -,
"Wahai keponakanku, teruskanlah urusanmu dan lakukan apa saja yang engkau suka. Demi Allah aku tidak akan menyerahakanmu kepada seorang pun untuk selamanya." (al Bidayah jiz 3, hal. 42)

