Kisah Sahabat Nabi Pada Peristiwa Bi'r Maunah

0
Kisah Sahabat Nabi Pada Peristiwa Bi'r Maunah

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Mughiroh bin Abdurrahman dan Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dan para ahli ilmu selain keduanya, mereka berkata: Abu Bara' Amr bin Malik bin Ja'far, seorang yang terkenal dengan permainan lembingnya, telah sampai di Madinah. Rasulullah menawarkan Islam kepadanya dan mendakwahinya agar mau memeluk Islam. Tetapi ia tidak mau memeluk Islam dan tidak juga  melarikan diri dari agama itu.

Ia berkata kepada Rasulullah, "Hai Muhammad! Sekiranya engkau mengutus beberapa orang lelaki dari sahabat-sahabatmu untuk berdakwah kepada penduduk Najd agar memeluk Islam, aku harap mereka mau menyambut ajakanmu itu."
Rasulullah bersabda, "Aku takut penduduk Najd akan melakukan kejahatan kepada mereka."
Abu Bara' pun berkata, "Aku yang akan memberikan jaminan perlindungan untuk mereka. Karena itu utuslah mereka, dan biarkan mereka mengajak orang banyak kepada agamamu."

Maka Raslullah mengirim Mundzir bin Amr, saudara lelaki Bani Sa'iodah yang berani mati, bersama tujuh puluh dari kalangan sahabatnya yang merupakan orang-orang Islam terbaik. Diantaranya ada Harits bin Shimah, Haram bin Milham saudara lelaki Bani Adi bin an Najjar, Urwwah bin Asma' bin Salt as Sulami, Nafi' bin Budhail bin Warqa' al Khuza'i, Amir bin Fuhairah bekas budak Abu Bakar r.a. bersama lelaki terbaik dari kalangan muslimin.

Mereka pun bertolak hingga sampai di Bi'r Maunah yang terletak antara kampung Bani Amir dan Harrah (Tanah tak berpasir) Bani Sulaim. Ketika mereka singgah disana, mereka mengutus Haram bin Milhan r.a. dengan membawa surat dari Rasulullah untuk Amir bin Thufail. Namun ketika Haram ssampai dihadapannya, ia tidak  langsung melihat surat itu, bahkan ia menyerang dan membunuh Haram. Kemudian ia meminta bantuan Bani Amir agar menyerang  sahabat-sahabat yang sedang berkemah di Bi'r Maunah.

Akan tetapi mereka  menolak dan berkata, "Kami sekali-kali tidak akan memungkiri perjanjian dengan Abu Bara' (yang telah menjamin para sahabat itu), padahal ia telah mengadaka perjanjian dan menjamin perlindungan untuk sahabat-sahabat Muhammad itu."

Kemudian Amir bin Thufail meminta bantuan kabilah-kabilahdari Bani Sulaim, Ushayyah, Ri'l dan Dzakwan, dan mereka mengabulkan permintaannya itu, kemusian mereka pun berangkat dan mengepung para sahabat-sahabat itu di perkemahannya. Ketika para sahabat melihat mereka, mereka langsung menghunus pedang dan melawan serangan orang-orang kafir itu.

Orang-orang kafir rerus memerangi  para sahabat hingga para sahabat semuanya terbunuh (Osemoga Allah merahmati mereka), kecuali Ka'ab bin Zaid, saudara bani Dinar bin Najjar. Mereka meninggalkan Ka'ab dalam keadaan hampir mati. Lalu Ka'ab pergi dalam keadaan lemah dengan luka-luka di badannya, diantara mayat-mayat itu. Dia tetap hidup sampai akhirnya gugur dalam perang Khandaq.

Amr bin Umayyah adh Damiri dan seorang lelaki Anshar
Terdapat dua sahabat yang bertugas mengembalakan hewan-hewan mereka, yaitu Amr bin Umayyah adh Damiri dan seorang lelaki Anshar dari Bani Amr bin Auf. Tiada yang memberitahu keduanya mengenai musibah yang menimpa para sahabat itu, kecuali  burung-burung yang melayang-layang diatas pasukan itu.

Kemudian orang itu berkata, "Demi Allah! burung-burung yang melayang-layang itu menandakan sesuatu telah terjadi di tempat itu."

Kemudian mereka berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Sesampaimya ditempat para sahabat itu beristirahat, mereka mendapatkan semuanya telah bergelimpangan bersimbag darah. Sedangkan mereka kuda-kuda mereka masih tetap berdiri di antara jenazah-jenazah mereka.

Sahabat Anshar itu berkata kepada Amr bin Umayyah, "Bagaimana pendapatmu?"
Amr menjawab, "Sebaiknya kita pulang saja menemui Rasulullah dan memberitahukan keadaan ini."

Namun sahabat Anshar itu berkata, "Aku tidak lebih mencintai diriku sendiri dan membenci  tempat pembunuhan al Mundzir bin Amr, dan aku tidak mau hidup hanya mendengar  orang banyak bercerita bahwa ia (al Mundzir) telah dibunuh."

Kemudian ia memerangi orang-orang kafir itu hingga ia sendiri gugur syahid.
Amr tertangkap sebagai tawanan, ketika ia mengatakan  bahwa dirinya berasal dai suku Mudhar, maka Amr bin Thufail membebaskannya, memotong jambulnya sendiri, dan membebaskan Amr sebagai bentuk pembebasan budak, untuk menunaikan nadzar ibunya.

Demikian tercantum dalam kitab al Bidayah (juz 4, hal. 73). Ath Thabarani juga meriwayatkannya melalui jalur Ibnu Ishaq. Al Haitsami berkata (juz 6, hal. 129): Para rawinya adalah tsiqat sampai pada Ibnu Ishaq - selesai.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !