Diriwayatkan oleh ath Thabari dari Ma’qil bin Yasar bahwa Umar bin Khaththab r.a. bermusyawarah dengan Hurmuzan (seorang bekas raja kecil di Persia yang telah memeluk Islam di tangan Umar r.a.) dan berkata, “Bagaimana pendapatmu, manakah wilayah Persia yang harus kuserang, apakah Azerbaijan atau Ashbahan?”
Hurmuzan berkata, “Sesungguhnya Persia dan Azerbaijan adalah Seperti dua sayap, sedang Ashbahan adalah kepalanya. Apabila engkau memotong salah satu sayap, maka sayap yang satu lagi akan bergerak. Tetapi jika engkau memotong kepalanya, maka kedua sayapnya akan jatuh. Mulailah dengan kepalanya.”
Umar r. a. pun masuk ke dalam masjid sedang an Nu’man bin Muqarrin tengah mengerjakan shalat. Kemudian Umar duduk di sebelahnya. Setelah beliau mengerjakan shalat, Umar berkata kepadanya, “Aku ingin memberimu tugas.”
Kata Nu’man, “Kalau menjadi seorang pemungut jizyah, aku tidak mau. Tetapi aku ingin menjadi seorang pejuang perang.”
Kata Umar, “Memang kamu akan kuberi tugas untuk berperang.” Kemudian Umar mengirimkannya ke Ashbahan.
Diceritakan dalam hadits itu bahwa Mughirah berkata kepada Nu’man, “Semoga Allah merahmatimu! Sesungguhnya kaum muslimin tengah diserang dengan panah oleh pasukan Persia, maka majulah.”
Nu’man berkata kepada Mughirah, “Demi Allah! Sesungguhnya kamu adalah orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan. Sungguh, aku telah menyertai Rasulullah saw. dalam banyak peperangan. Kebiasaan Rasulullah, jika tidak berperang pada pagi hari, beliau akan mengundurnya sampai tergelincir matahari, angin bertiup dan turunlah pertolongan Allah.”
Lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku akan menggerak-gerakkan panjiku tiga kali. Gerakan pertama menandakan hendaknya seseorang menunaikan hajatnya dan berwudhu, gerakan kedua hendaknya ia memeriksa senjatanya dan tali sandalnya, lalu membetulkannya. Gerakan ketiga, hendaknya kalian menggempur dan jangan ada seorang pun yang menoleh kepada sahabatnya yang lain. meskipun an Nu’man terbunuh, jangan ada seorang pun yang menoleh ke arahnya.”
“Karena sesungguhnya aku akan berdoa kepada Allah dengan satu doa, lalu aku menegaskan kepada setiap orang untuk mengaminkannya. Ya Allah! Karuniakan kesyahidan kepada Nu’man pada hari ini ketika membantu kaum muslimin. Berilah kemenangan kepada mereka.”
Kemudian ia menggerakkan panjinya untuk yang pertama. Kemudian kedua dan ketiga. Kemudian ia menanggalkan baju besinya, lalu menyerang. Dialah orang pertama yang terkapar.
(Cerita Ma’qil) Aku pun mendatangi jenazah Nu’man. Namun aku teringat akan perintahnya (supaya tidak ada seorang pun yang berhenti untuk melihat keadaan sahabatnya), sehingga aku tidak menoleh ke arahnya dan aku meletakkan tanda di tempat itu, kemudian aku meninggalkannya.
Kebiasaan kami, apabila kami membunuh seorang lelaki, sahabat-sahabatnya akan sibuk menarik mayatnya dan melupakan kami. Dan terjatuhlah raja mereka dan keledainya, perutnya terbelah dan Allah menghancurkan mereka. Kemudian aku mendatangi an Nu’man (yang tengah rnenghembuskan nafas-nafas terkhir). Kebetulan aku membawa wadah kecil berisi air, lalu aku membersihkan tanah dari mukanya.
Ia berkata kepadaku, “Siapa engkau?”
Aku menjawab, ‘Ma’qil bin Yasar.”
Ia bertanya lagi “Apakah yang dilakukan orang-orang?”
Aku menjawab, “Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka.”
Ia berkata, “Segala puji bagi Allah, tulislah sebuah surat kepada Umar r. a..”
Kemudian ia pun wafat.
Dalam riwayat ath Thabari (4/235), dari Ziyad bin Jubair r.a. dari ayahnya — lalu dia menceritakan hadits itu dengan panjang lebar mengenai kisah pertempuran di Nihawand. Di dalamnya disebutkan bahwa Nu’man berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. apabila berperang, lalu tidak memerangi musuh pada pagi hari, maka beliau tidak mempercepatnya hingga datang waktu shalat, angin bertiup, dan waktu perang telah tepat. Maka .tidak ada yang menahanku selain yang demikian itu.”
“Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta-Mu agar menyejukkan mataku pada hari ini dengan kemenangan yang membawa kemuliaan Islam dan kehinaan yang merendahkan orang-orang kafir. Kemudian ambillah nyawaku kepada-Mu sesudah itu sebagai orang yang mati syahid. Aminkanlah doa ini
— semoga Allah merahmati kaliän.”
Maka kami pun mengaminkannya dan menangis.
Ath Thabarani telah meriwayatkan hadits Ma’qil bin Yasar r. a. — dengan lengkap seperti hadits yang diriwayatkan ath Thabari. Al Haitsami berkata (juz 6, hal. 217): Para rawinya adalah rawi-rawi shahih selain Alqamah bin Abdullah al Muzani, dia adalah tsiqat — selesai. Al Hakim juga meriwayatkannya (juz 3, hal. 293) dari Ma’qil — dengan panjang lebar.
