Kisah Keberanian Ali bin Abu Thalib R.a.

0
Keberanian Ali bin Abu Thalib R.a.
Dikeluarkan oleh al Bazar dari Jabir r.a. katanya: Ali r.a. masuk menemui Fatimah r.ha pada hari perang Uhud dan berkata, “Terimalah pedang ini tanpa dihinakan (yaitu dengan segala kemuliaan). Aku bukanlah seorang pengecut bukan pula orang tercela. Sesungguhnya aku mendambakan diriku untuk membantu Muhammad semata-mata untuk memperoleh keridhaan Rabbku Yang Maha Mengetahui akan hamba-hamba-Nya.” 

Rasulullah saw. bersabda, “Sekiranya kamu telah berperang dengan sebaik-baiknya, maka Sahl bin Hanif dan Ibnu as Samt juga telah berperang dengan sebaik-baiknya dengan menggunakan pedang.” 
Jibril a.s. berkata kepada Rasulullah saw., ‘Ya Muhammad, demi dia (Ali) dan bapakmu, berbuat baiklah kepadanya.” 

Kemudian Rasulullah saw. pun bersabda, “Ya Jibril, sesungguhnya ia adalah bagian dari diriku.” 
Maka Jibril pun berkata, “Aku adalah bagian dari kalian berdua.” 
Al Haitsami mengatakan bahwa di dalam jalur perawinya terdapat nama Ma’la bin Abdul Rahman al Wasithi, ia adalah lemah. Tetapi Ibnu Adi berkata, “Diharapkan hadits ini La Ba’sa Fi” 

Dalam riwayat at Thabraril dari Ibnu Abbas r.huma., katanya: Ali bin Abu Tha.lib r.a. masuk menemui Fatimah r.ha. pada hari ketika perang Uhud. Ia berkata kepada Fatimah, “Ambillah pedang ini dengan segala kemuliaan.” 
Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu telah berperang dengan sebaik baiknya, maka Sahl bin Hanif dan Abu Dajanah Simak bin Kharsah juga telah berperang dengan sebaik-baiknya.” 
Kata al Haitsami, perawi-perawinya shahih. 

Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Thariq Ibnu Abbas dan Yazid bin Ruman dan Urwah dan Abdullah dan Kaab bin Malik al Anshary r.huma., katanya: Pada hari terjadinya perang Khandaq, Amru bin Abdul Wad keluar untuk melihat medan perang. Tatkala ia dan sahabatnya berhenti, Ali r. a. berkata kepadanya, “Ya Amru! Kamu telah bersumpah dengan Allah untuk kaum Quraisy, sekiranya kepadamu telah diberi dua pilihan, kamu akan memilih salah satu darinya?” 
Ia pun menjawab, “Ya.” 
Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku menyeru kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Islam,” 
Amru menjawab, ‘Aku tidak berhajat kepada yang demikian itu.” 
Ali r.a. pun berkata, “Karena itu, sesungguhnya aku menantangmu untuk bertarung.” 
Amru pun bertanya, “Mengapa wahai keponakanku? Aku tidak suka membunuh kamu.” 
Tetapi Ali r.a. berkata, “Sesungguhnya aku sangat suka untuk membunuhmu.” 
Lalu keduanya pun bertarung, dan dalam pertarungan itu All r.a. berhasil membunuh Amru. (dalam kitab al Kanz) 

Dinukilkan di dalam al Bidayah dari jalur al Baihaqi dan Ibnu Ishaq katanya: Amru bin Abdul Wad keluar dengan berpakaian baju besi. Lalu ia berseru, “Siapakah yang mau bertarung denganku?” 
Ali r.a. bangun untuk menyambut tantangan itu dan berkata kepada Rasulullah saw., “Aku akan menantangnya yaa Nabi Allah saw. .“ 
Rasulullah saw. pun bersabda, “Ia adalah Amru, duduklah kamu.” 
Kemudian Amru berseru sekali lagi, “Tidak ada seorang lelakikah yang. berani menantangku?” 

Waktu itu, ia juga mencaci dan mengejek kaum muslimin dengan perkataannya, “Di manakah Jannah yang kamu katakan bahwa barangsiapa yang terbunuh di kalangan kamu akan memasukinya? Tidak ada seorangkah di antara kalian yang menantangku?” 
Maka Ali r. a. pun bangkit sambil berkata kepada Rasulullah saw., 
“Aku ya Rasulullah.” 
Rasulullah saw. pun bersabda kepadanya, “Duduklah kamu.” 
Kemudian Amru bersuara lagi untuk ketiga kalinya sambil mengucapkan syairnya. Maka Ali r.a. pun bangkit sambil berkata, “Aku.” 
Rasulullah saw. bersabda, “ia adalah Amru.” 
Maka Rasulullah saw. pun mengizinkan Ali r.a. berhadapan dengan Amru. Ia melangkah ke arah Amru sambil bersyair: 

Janganlah kamu terburu-buru. 
Sesungguhnya ia telah mendatangimu, 
Menyahut seruanmu tanpa rasa takut. 
Dengan niat, bashirah dan kebenaran, 
(yang) menyelamatkan setiap orang yang berjaya, 
Sesungguhnya aku memohon darimu untuk menjadikan ratapan musuh 
ke atas mayat-mayat pahlawan mereka akibat dari pancungan, 
(maka dengan itu) kekallah sebutannya di setiap peperangan.

Amru bertanya kepada Ali r.a., “Siapa kamu?” 
Jawab Ali r.a., “Aku Ali.” 
Amru bertanya lagi, “Anaknya Abdul Manaf?” 
Jawab Ali, “Aku adalah anak lelaki Abu Thalib.” 
Amru pun berkata, “Wahai keponakanku, siapakah dari kalangan bapak-bapak saudaramu yang lebih tua darimu karena aku tidak suka untuk menumpahkan darahmu.” 
Sebaliknya Ali r.a. berkata kepadanya, “Demi Allah, aku bahkan suka untuk menumpahkan darahmu.” 
Perkataan Ali r.a. itu telah menjadikannya sangat marah lalu Ia turun dari kudanya sambil mencabut pedangnya seakan akan memercikkan api. Kemudian ia berjalan ke arah Ali r. a. dengan penuh amarah. Ali pun menghadapinya sambil memegang perisai kulit di tangannya. Amru mencoba memukul Ali, tetapi terkena perisainya dan membelah perisai itu. Hentakannya mengenai kepala All r.a. dan melukainya. Kemudian Ali r.a. pun memancung tengkuk Amru hingga terjatuh. 

Debu-debu pun berterbangan. Ketika itu Rasulullah saw. mendengar bunyi laungan takbir. Dengan yang demikian, baginda saw. pun mengetahui bahwa Ali telah berhasil membunuh Amru. 
Karena itu Ali r. a. membaca syair: 

Apakah pasukan tentara berkuda itu menyerangku seperti ini, 
sehingga mereka memundurkan sahabat-sahabatku dan mereka. 
Pada hari ketika aku tidak akan melarikan diri. 

hingga kepada perkataan: 

Yang berhamba kepada batu (berhala) karena kebodohannya. 
Sedangkan aku menyembah Rabbnya Muhammad dengan selayaknya. 
Maka aku pun kembali ketika aku meninggalkannya tersungkur ke bumi,
 seperti batang kurma. 

Kemudian Ali r. a. berjalan ke arah Rasulullah saw. sambil bertahlil (mengucapkan La ilaha ilallah). Umar bin al Khattab berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak menanggalkan baju besinya? Karena sesungguhnya tidak ada baju besi yang dimiliki orang-orang Arab yang lebih baik darinya.” 
Jawab Ali r.a., “Aku telah menjatuhkannya hingga terbuka auratnya sehingga aku malu untuk menanggalkan baju besinya itu.” 

Dikeluarkan oleh Muslim dan al Baihaqi dari Salmah bin al Akwa’ r.a.. Maka telah dinyatakan hadits dengan panjang dan dinukilkan pula mengenai kepulangannya dari ghuzwah Bani Fazarah. Kami tidak tinggal di Madinah kecuali hanya tiga hari, kemudian kami berangkat ke Khaibar. 

Amir r.a. keluar dan berkata, “Demi Allah! Seandainya tanpa engkau (Muhammad), pasti kami tidak akan memperoleh petunjuk. Kami juga tidak akan mengeluarkan sedekah dan mengerjakan shalat. Dan kami dicukupkan dari kelebihan engkau. Maka turunkanlah ke atas kami ketenangan dan kokohkanlah tapak-tapak kaki kami jika kami berhadapan dengan musuh.” 
Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah yang berkata seperti itu?” 
Sahabat-sahabat menjawab, “Amir.”. 
Rasulullah saw. bersabda, “Rabb kamu akan mengampunimu.” 
Apabila Rasulullah saw. mengkhususkan doanya kepada seseorang biasanya orang itu akan gugur sebagai syahid. 
Umar r. a. pun berkata ketika itu ia berada di atas untanya, “Jika tidak, engkau perkuatlah kami dengan Amir.” 
Kami pun sampai di Khaibar, tiba-tiba Marhab seorang pahlawan Yahudi keluar dengan pedangnya yang terhunus sambil berkata, “Sesungguhnya penduduk Khaibar telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab yang bersenjatakan dengan persenjataan yang sempurna. Pahlawan gagah perkasa penuh pengalaman, ketika perang tiba memercikkan apinya.” 
Maka Amir r.a. pun menantangnya sambil berkata, “Sesungguhnya penduduk Khaibar telah mengetahui bahwa aku adalah Amir. Pahiawan yang sempurna, bersenjata, yang gagah menyerbu ke arah musuh seorang diri.” 
Lalu Marhab dan Amir bertarung, kedua-duanya melepaskan dua pukulan ke atas lawan masing-masing. Hentakan pedang Marhab mengenai perisai Amir r.a. sehingga Amir terbunuh dalam pertarungan itu. 

Salamah r.ha. berkata, bahwa ia keluar ketika sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata, ‘Batallah amalan Amir, ia telah membunuh dirinya sendiri.” 
Aku pun datang menemui Rasulullah saw. dalam keadaan menangis. 
Baginda saw. bertanya kepadaku, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” 
Aku menjawab, “Sahabat-sahabat mengatakan bahwa Amir membunuh diri dan batallah amalannya.” 
Rasulullah saw. pun bertanya, “Siapakah yang berkata demikian?” 
Aku menjawab, “Sekumpulan lelaki dan kalangan sahabat-sahabat engkau.” 
Kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang untuk memanggil Ali r.a. yang ketika itu sedang sakit mata. 
Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari ml, aku berikan panji ini kepada 
seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” 
Akupun datang bersama-sama dengan Ali r.a.. Rasulullah saw. meludah ke mata Ali yang sakit itu lalu sembuh. Kemudian Rasulullah saw. menyerahkan panji itu kepada Ali r.a.. Maka Marhab pun berhadapanan dengan Ali r.a. dan bertarung dengannya. 
Marhab berkata, “Sesungguhnya penduduk Khaibar telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab yang bersenjatakan dengan persenjataan yang sempuma. Pahlawan gagah perkasa penuh pengalaman. Jika peperangan tiba memercikkan apinya.” 
Ali pun memukul Marhab di kepalanya sehingga terbelah dan Marhab pun terbunuh. 

Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dari beberapa ahli keluarganya dari Abu Rafi’ r.a. hamba sahaya milik Rasulullah saw.. Katanya: Kami berangkat bersama Ali r.a. menuju Khaibar. Rasulullah saw. telah mengutus Ali r.a. dengan menyerahkan panji pasukan muslimin kepadanya. Ketika ia sampai di dekat tembok kota mereka, penduduk-penduduknya keluar lalu memerangi Ali r.a.. 
Seorang lelaki Yahudi memukul perisainya, lalu perisai itu terjatuh ke tanah. Maka Ali ra. pun mencabut pintu tembok itu lalu menjadikan daun pintu tembok kota itu sebagai perisainya. Ali r.a. terus menerus memegang daun pintu itu sambil memerangi musuh-musuhnya hingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Kemudian, ia pun mencampakkan daun pintu itu. Aku dan tujuh orang lagi mencoba untuk membalikkan daun pintu yang telah diangkat oleh Ali r.a. itu tetapi tidak berhasil. 

Di dalam riwayat di atas terdapat nama-nama perawi. yang tidak diketahui dan terdapat riwayat-riwayat yang. terputus. 

Diriwayatkan oleh al Haflz al Baihaqi dan al Hakirn dari jalur Abu Ja’far al Baqir dari Jabir bahwa sesungguhnya Ali r.a. telah mengangkat daun pintu kubu Khaibar pada hari terjadinya perang Khaibar sehingga kaum muslimin dapat memanjat ke atas tembok itu dan berhasll memasuki kubu musuh dan memeranginya hingga menang. Sesungguhnya empat puluh orang lelaki telah mencoba mengangkat daun pintu’ itu tetapi tidak berhasil. Terdapat kelemahan di dalam riwayat di atas. 
Di dalam riwayat yang lemah dari Jabi r.a. dikatakan: Kemudian berkumpullah sebanyak empat puluh orang lelaki untuk mengangkatnya. Usaha mereka itu adalah untuk meletakkan kembali daun pintu itu ke tempat asalnya tetapi mereka tidak dapat mengangkatnya. 
Sebagaimana dalam al Bidayah.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !