Keberanian dan Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib R.a.

0
Keberanian Hamzah bin Abdul Muthalib R.a.
Dikeluarkan oleh at Thabrani dari al Harits at Taimi katanya: Dalam perang Badar, Hamzah bin Abdul Muthalib memakai bulu burung sebagai tanda di bajunya. Seorang lelaki dari kaum Musyrikin berkata, “Siapakah lelaki yang memakai tanda bulu burung itu?” 
Temannya berkata kepadanya, “Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib?” Ia pun bertanya, “Dialah yang banyak menimbulkan kebimbangan kepada kaum Quraisy?” 
Al Haitsami mengatakan bahwa sanad-sanadnya terputus. 

Dalam riwayat al Bazar dari Abdur Rahman bin Auf r.a. katanya: 
Umaiyyah bin Khalaf pernah berkata kepadaku, “Ya Abdullah! Siapakah lelaki yang memakai tanda bulu burung di dadanya itu dalam perang Badar?” 
Aku menjawab, “Dia adalah ayah saudara Rasulullah saw., Hamzah bin Abdul Muthalib r.a.” 
Ia berkata, “Dialah yang telah banyak menimbulkan kesusahan kepada kita,” 

Dikeluarkan oleh al Hakim dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya: Setelah selesainya perang Uhud, Rasulullah saw. mencari-cari jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian seorang lelaki memberi tahu Rasulullah saw. bahwa ia telah melihat Hamzah di dekat sebatang pohon sedang berdoa, “Aku adalah singa Allah dan singa Rasul-Nya Wahai Allah! Aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan yang telah dilakukan orang-orang musyrikin itu dan aku memohon ampun atas perbuatan yang dilakukan oleh mereka kepada Abu Sufyan dan sahabat-sahabatnya (karena melarikan diri dari musuh).” 

Maka Rasulullah saw., berjalan menuju pohon itu. Ketika baginda saw. melihat ke arah wajah Hamzah, beliau menangis dan ketika melihat keadaan jenazah Hamzah yang ditoreh dan diiris, baginda seperti menahan napasnya dan terengah-engah, kemudian baginda saw. bersabda, “Kafanilah jenazahnya.” 

Maka bangunlah seorang lelaki Anshar dengan memberikan pakaiannya untuk dijadikan kain kafan. Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghulu para syuhada di sisi Allah pada hari kiamat adalah Hamzah,”

Al Hakim berkata bahwa hadits ini mempunyai sanad-sanad yang shahih. Az Zahbi juga mengatakannya shahih. 

Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana dalam Al Bidayah dari Ja’far bin Amru bin Umaiyyah adh Dhamri, katanya: Aku berangkat bersama-sama dengan Abdullah bin Adi bin al Khiyardi pada zaman Mua’wiyyah. Lalu kami duduk di samping Wahsy (yang telah membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dalam perang Uhud). Kami berkata kepada Wahsy, “Ceritakanlah kepada kami mengenai pembunuhan Hamzah bin Abdul Muthalib yang telah kamu lakukan, bagaimanakah kamu telah membunuhnya?” 

Wahsy berkata:
“Aku akan menceritakan kepadamu sebagaimana yang telah aku ceritakan kepada Rasulullah saw. ketika baginda saw. bertanya kepadaku mengenainya. Aku adalah hamba sahayanya Jubair bin Matani. Pamannya ialah Tham’iah bin Adi yang terbunuh dalam perang Badar, Tatkala orang-orang Quraisy bergerak menuju Uhud, Jubair berkata kepadaku, ‘Jika kamu dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad saw. untuk membalas kematian pamanku, maka kamu merdeka,” 

(Kata Wahsyi) Maka aku pun pergi di antara orang-orang Quraisy itu dan aku adalah seorang Habsyi yang ahli dalam menombak, apabila aku menombak pasti akan mengenai sasarannya. Ketika kaum muslimin dan kaum musyrikin bertempur, aku keluar mencari Hamzah r.a.. Aku mencari carinya sehingga aku melihatnya di tengah orang ramai, ia sedang membunuh siapa saja yang menentangnya dengan pedangnya. 

Maka demi Allah, aku pun bersiap-siap untuk menombaknya lalu aku pun bersembunyi di balik pohon atau batu agar ia mendekat ke arahku. Tiba-tiba Siba’ bin Abdul Uzza mendahuluiku. Ketika Hamzah melihat kedatangan Siba’ ia menantang Siba’ agar mendekatinya. 
ia berkata kepada Siba’, “Mendekatlah kepadaku wahai anak lelaki wanita tukang khitan.” 
Maka ia memukul kepala Siba’ dengan pukulan yang bisa menghancurkan kepala Siba’. Aku pun mengerak-gerakkan tombakku sehingga aku yakin, lalu aku pun melemparkan tombakku ke arah Hamzah. Tombakku mengenai bagian antara pusar dan ari-arinya. Sehingga tombak itu keluar di antara kedua kakinya. Ia mencoba mengejarku tetapi gagal, lalu terjatuh. Aku pun meninggalkannya dan meninggalkan tombakku sehingga ia wafat. Kemudian aku menghampiri jenazahnya lalu aku pun mengambil tombakku yang tertinggal tadi, kemudian aku kembali ke tengah-tengah laskarku. 
Aku duduk di antara mereka dan aku tidak berbuat apa-apa lagi karena telah menunaikan hajatku dengan membunuh Hamzah. 

Aku tidak membunuhnya dengan sengaja tetapi aku membunuhnya semata-mata supaya aku memperoleh kemerdekaan dari perbudakan atasku. Setelah aku sampai di Makkah aku pun dlibebaskan. Kemudian aku tinggal di sana Sehingga Rasulullah saw., berhasil membuka Makkah. Setelah itu aku pun melarikan diri ke Thaif dan menetap di sana. 

Ketika orang-orang Thaif pergi menemui Rasulullah saw. untuk memeluk agama Islam, aku pun berada di dalam kebingungan, aku berkata, “Aku akan pergi ke Syam atau Yaman atau ke beberapa negeri.” Maka demi Allah, aku pun berada dalam keadaan bimbang hingga seorang lelaki berkata kepadaku, “Malang benar kamu, sesungguhnya beliau demi Allah tidak akan membunuh siapa pun yang telah memeluk agamanya dan bersaksi dengan persaksian yang hak.” 

Ketika lelaki itu berkata demikian kepadaku, aku pun keluar sehingga aku sampai di hadapan Rasulullah saw., di Madinah. Aku pun berdiri di hadapannya dan bersaksi dengan persaksian yang hak. Tatkala baginda melihatku, baginda berkata kepadaku, “Apakah kamu Wahsy?” 
Aku menjawab, “Betul, ya Rasulullah.’ 
Baginda bersabda, “Duduklah, dan ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu telah membunuh Hamzah r. a. 
(Kata Wahsy) Aku pun menceritakan kepada Rasulullah saw. sebagaimana yang telah aku ceritakan kepadamu. Setelah aku selesai bercerita, Rasulullah saw. bersabda, “Celaka kamu, hindarilah wajahmu dari pandanganku.” 

Maka aku selalu menjauhkan diri dari Rasulullah saw. agar beliau saw. tidak memandangku hingga beliau saw. wafat. Ketika kaum muslimin berangkat untuk memerangi Musailimah bin Kadzdzab raja Yamamah, aku pun turut berangkat bersama mereka. Aku juga memegang tombak yang pernah aku gunakan untuk membunuh Hamzah. Ketika pertempuran sedang berlangsung, aku melihat Musailimah berdiri dengan pedang terhunus di tangannya. Aku pun bersiap-siap untuk membunuhnya. Seorang lelaki Anshar dari arah lain juga bersiap-siap untuk membunuhnya. Kami berdua ingin membunuh Musailimah, aku pun mengerak-gerakkan tombakku Sehingga terasa pas, lalu aku pun melontarkan tombak itu ke arah Musailimah dan tepat mengenai sasaran. Sementara itu, letaki Anshar itu juga menyerangnya dengan pedang. Karena itu, Rabbku yang mengetahui siapakah di antara kami yang telah membunuhnya. Jika aku yang telah membunuhnya, sesungguhnya aku telah membunuh sebaik-baik manusia selepas Rasulullah saw. (Hamzah r. a.) dan aku juga tejah membunuh sejahat-jahat manusia (Musalimah al Kadzdzab) .“ 

Dikeluarkan oleh al Bukhari dari Ja’far bin Amru seperti itu pula: 
Setelah kaum muslimin menyusun barisan untuk berperang, Siba’ pun keluar dan berkata, “Siapakah yang berani beradu tenaga denganku?” 
Maka Hamzah bin Abdul Muthalib menyambut tantangannya dan berkata, “Ya Siba, anak lelaki dari wanita tukang khatan! Apakah kamu ingin memusuhi Allah dan Rasul-Nya?” Kemudian ia pun menyerang Siba. 

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !