Kisah Sahabat Nabi: Pengiriman Pasukan Usamah

0
Rasulullah saw. Mengutus Usamah R.a. Ketika Sedang Sakit dan Ketetapan Abu Bakar R.a. Mengenal Hal Itu Pada Awal Kekhallfaharinya 
Pengiriman Pasukan Usamah 
Diriwayatkan Oleh 1bnu Asakir (1/12O) dari jalur az Zuhri, dan Urw ah, dan Usamah bin Zaid r.hum., bahwa Rasulullah saw. telah memerintahkan para sahabatnya supaya menyerang penduduk Abna (di Palestina, antara Asqalan dan Ramlah) .pada waktu Shubuh, sekaligus membakarnya. 
Rasulullah saws berkata kepaaa Usarnah,, “Pergilah engkau dengan nama Allah.” 

Kemudian beliau keluar dengan membawa panjinya yang telah terikat, lalu menyerahkan panji itu kepada. Buraidah bin al Hushaib al Aslami. Dia lantas membawanya ke rumah Usamah. Rasulullah saw. memerintahkan supaya berkumpul di al Juruf dan bermarkas di satu tempat yang sekarang bernama Siqayah Sulaiman. Ia menyuruh orang-orang untuk mulai berangkat, sehingga orang-orang yang telah selesai dengan keperluannya pergi menuju tempat berkumpulnya, sedang yang belum selesai keperluannya, maka Ia diberi kelonggaran.

Tidak ada seorang lelaki pun dari kalangan Muhajirin awal yang tertinggal, semuanya aktif terlibat dalam perang itu. Di antaranya adalah Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu al A’war Sa’id bin Zaid bin Ainr bin Nufail. Sementara itu, para sahabat Anshar di antaranya adalah Qatadah bin an-Nu’man, Salamah bin Aslam bin Hariisy r.hum.. 

Dan golongan Muhajirin ada yang memperbincangkan pelantikan Usamah bin Zaid sebagai amir mereka, di antara mereka yang paling keras komentarnya adalah Ayyasy bin Abi Rabiáh r.a.. Ia berkata, “Si bocah kecil itu akan lantik untuk menjadi amir bagi orang-orang Muhajirin awal.” 

Maka ramailah orang-orang memperbincangkan hal ini. Umar bin Khaththab yang mendengar perbincangan itu segera membantahnya, lalu mengadukannya kepada Rasulullah saw.. Mendengar hal ini Rasulullah saw. menjadi marah besar. Beliau yang saat itu mengikat kepalanya dengan sorban dan memakai pakaian berkemul, menaiki mimbar, memuji Allah dan berkhutbah, “Amma ba’du! Wahai sekalian manusia, perkataan apakah gerangan yang telah sampai ke pengetahuanku dari sebagian kalian mengenai pengangkatan Usamah sebagai amir yang telah aku lakukan? Maka Demi Allah! Sekiranya kalian mencaci kepemimpinan Usamah, berarti kalian telah mencaci kepemimpinan ayahnya (Zaid bin Haritsah). Demi Allah, sesungguhnya terdapat kelayakan dalam kepemimpinan, dan sesungguhnya Sepeninggal Zaid, putranya’ layak untuk menjadi pimpinan. Dan sesungguhnya ia (Zaid) adalah manusia yang paling aku kasihi, Demikian juga ia (Usamah) adalah orang yang aku kasihi. Keduanya layak untuk mendapat semua kebaikan. Maka berwasiatlah terhadapnya dengan kebaikan, karena ia adalah sebaik-baik orang di tengah kalian.” 

Kemudian Rasulullah saw. turun dari mimbar dan masuk ke dalam kamarnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, tanggal sepuluh Rabiül Awwal. Orang-orang Islam yang akan berangkat bersama Usamah datang menemui Rasulullah saw. untuk meminta pesan perpisahan dari beliau. Di antara mereka adalah Umar bin Khaththab. 
Rasulullah saw. bersabda, “Lanjutkanlah pengiriman tentara Usamah.” 
Ummu Aiman pun masuk dan berkata, “Wahái Rasulullah! Lebih baik engkau menagguhkan tentara Usamah ini di markasnya sampai engkau betul-betul sembuh. Kárena jikalau Usamah pergi dalam keadaan Demikian, ia tidak akan memberi manfaat kepada dirinya sendiri.” 
Rasulullah saw. bersabda lagi, “Lanjutkanlah pengiriman tentara Usamah.”
Maka para sababat pun pulang ke markas mereka dan menghabiskan malam Ahad itu. Kemudian pada hari Ahadnya Usamah datang menemui Rasulullah saw., seméntara sakit Rasulullah saw. amat berat dan beliau sempat pingsan. Itulah hari di mana para sahabat meminumkan obat ke mulut Rasulullah saw.. Usamah masuk menemui Rasulullah saw. dan pada kelopak matanya tergenang air mata. Di samping beliau pada waktu itu adalah Abbas dan isteri-isteri Nabi saw.. Maka Usamah membungkuk dan mencium Rasulullah saw.. 

Rasulullah saw. tidak berkata apa pun, hanya mengangkat kedua tangannya (berdoá) dan menyapukannya ke wajah Usamah. Kata Usamah, “Aku tahu bahwa Rasulullah saw. telah berdoá untukku. Maka aku pun kembali ke markasku.” 

Pada hari Senin, Usamah keluar dari markasnya (menuju rumah Rasulullah saw.) sementara pada hari itu Rasulullah saw. telah berangsur Sehat. Usamah mendatangi Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Berangkatlah engkau dengan berkat dari Allah.” 

Maka Usamah mengucapkan selamat tinggal kepada Rasulullah yang telah mulai sehat itu. Para isteri beliau saat itu menyisir dan menghiasi rambut mereka karena gembira. Kemudian Abu Bakar r.a. masuk dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau telah mulai sehat, dengan memuji Allah. Hari ini adalah giliran isteriku, binti Kharijah. Maka izinkanlah aku menemuinya.” 

Maka Rasulullah saw. mengizinkannya, dan Abu Bakar pergi ke an Nusuj (di pinggir kota Madinah, di sanalah tempat kediaman Bani al Rants bin al Khazraj) untuk memenuhi giliran isterinya itu. 

Usamah keluar dari kamar Rasulullah saw. dan kembali ke markasnya, kemudian berteriak memerintahkan para tentaranya untuk berkumpul di markas. Sesampainya di markas, Ia pun turun dan memerintahkan para sahabat supaya bergerak, sedang waktu siang hampir habis.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !