Kisah Sahabat Nabi: Para Sahabat Mengorbankan Hartanya Dalam Perang Tabuk

0
Rasulullah saw. mendorong orang-orang Islam supaya berangkat jihad serta memberi mereka semangat. Beliau memerintahkan mereka supaya berinfak untuk tujuan jihad itu. Lalu para sahabat pun berinfak dengan harta yang banyak. Orang yang pertama berinfak adalah Abu Bakar ash Shiddiq r. a.. Ia datang dengan membawa seluruh hartanya, yaitu sebanyak empat ribu dirham. 
Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?” 
Ia menjawab, “Aku hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya.” 
Kemudian datang Umar bin Khaththab dengan membawa separuh hartanya. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?” 
Ia menjawab, “Aku meninggalkan separuhnya, sebanyak yang aku bawa kepadamu.” 
Infak Abu Bakar r.a. telah diketahui Umar itu, sehingga ia berkata, 
“Tidaklah kami berlomba-lomba dalam membuat kebaikan, melainkan ia (Abu Bakar) pasti mendahuluiku.” 

Abbas bin Abdul Muththalib dan Thalhah bin Ubaidullah r.hum. membawa hartanya masing-masing kepada Rasulullali saw. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus Uqiyah. Begitu pula Sa’d bin Ubadah r.a. dan Muhammad bin Maslamah r.a.. 

Ashim bin Adi r.a. menginfakkan sembilan puluh wasaq kurma. Sedang Utsman bin Affan telah menyediakan sepertiga dan kebutuhari tentara-tentara Islam, dan itu merupakan infak paling banyak di antara mereka, sehingga dilaporkan bahwa tidak ada lagi yang dibutuhkan. Bahkan Utsman juga mencukupi kebutuhan mereka akan alat pelubang wadah-wadah ininum mereka. Maka dikisahkan bahwa Rasulullah saw. pada hari itu bersabda, “Apa yang dilakukan Utsman sesudah hari ini tidak akan memudharatinya.” 

Orang-orang kaya pun berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan dan mengharapkan kebaikan darinya, sedang sekelompok orang selain orang-orang tersebut — yang lebih Iebih lemah dan mereka — menjadi kuat. Sampai ada seorang lelaki yang datang membawa seekor unta kepada seseorang atau dua orang dan berkata, “Unta ini bisa kalian naiki secara bergiliran.” 

Ada juga sejumlah lelaki yang membawa hartanya dan memberikannya kepada orang yang akan berangkat, bahkan kaum wanita pun ikut membantu semampu yang mereka lakukan. 

Ummu Sinan al Aslamiyyah r.ha. berkata, “Sesungguhnya aku telah melihat kain yang terbentang di hadapan Rasulullah saw. di rumah Aisyah r.ha.. Di dalamnya terdapat gelang tangan dan kaki yang terbuat dan tanduk atau gadirig, gelang lengan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Semua itu dikirimkan oleh para wanita untuk membantu kaum muslimin dalam persiapan mereka. 


Sedangkan saat itu dalam keadaan sulit, buah-buahan sedang masak dan ranum, dan tempat-tempat yang teduh di bawah pohon kurma merupakan sesuatu yang amat disukai. Karena itu banyak dan mereka yang lebih suka tinggal di kampung masing-masing dan keberatan untuk berangkat perang pada waktu dan kondisi demikian. 

Rasulullah saw. bersegera untuk berangkat ke sana dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Rasulullah saw. menggerakkan tentaranya di Tsaniyyatul Wada’, sedang jumlah mereka sangatlah banyak, tidak bisa tercatat dalam satu buku saja. 

Tiada seorang pun yang ingin meninggalkan barisan, melainkan pasti mengira jumlah yang demikian banyak itu bisa menutupinya, selama tidak turun wahyu dari Allah mengenai dirinya. 
Ketika Rasulullah saw. semakin mantap untuk melanjutkan perjalana n, beliau mengangkat Siba’ bin Urfuthah al Ghifari — atau dikisahkan: kep ada Muhammad bin Maslamah — sebagai pimpinan sementara di Madinah. Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat yang menyertai jihad ini, “Sering-seringlah memakai sepatu, karena seseorang itu akan dianggap masih berkendaraan selama ia bersepatu.” 

Ketika Rasulullah saw. bergerak, Ibnu Ubay mengundurkan diri bersam a orang-orang munafik lainnya yang tertinggal di Madinah. Ia berkata, “Muhammad telah memerangi bangsa Romawi dalam keadaan yang sulit, dalam cuaca yang panas menuju negeri yang jauh yang tidak diketahuinya; padahal ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Muhammad mengira perang dengan bangsa Romawi sebagai gurauan saja.” Orang-orang munafik yang menjadi anak buahnya juga berpendapat seperti itu. 

Kemudian Ibnu Ubay berkata, “Demi Allah, seolah-olah aku melihat para sahaba besok telah terikat dengan tali-tali.” Ia berkata Demikian dengan tujuan untuk menyebarkan berita buruk mengenai Rasulullah saw. dan para sahabatnya. 

Ketika Rasulullah saw. bergerak dari Tsaniyyatul Wada’ menuju Tabuk dan telah memasang semua panji dan bendera, panji yang terbesar diserahkan kepada Abu Bakar dan bendera yang terbesar diserahkan kepada az Zubair. Panji suku Aus kepada Usaid bin al Hudhair, sementara panji kaum Khazraj kepada Abu Dujanah; dikisahkan pula bahwa panji itu diserahkan kepada al Hubab bin al Mundzir ridhwanullah Alaihim ajma’in. 

Jumlah sahabat yang menyertai Rasulullah saw. ketika itu adalah tiga puluh ribu orarig, sedangkan jumlah tentara penunggang kuda sepuluh ribu orang. Rasulullah saw. memerintahkan setiap kaum Anshar untuk memegang panji dan benderanya masing-niasing. Demikian juga kabilah-kabilah Arab, masing-masing dengan panji dan bendera mereka.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !