MUQODDIMAH
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan nikmat serta hidayahnya berupa Iman dan Islam kepada kita sehingga kita dapat merasakan kehidupan yang indah dalam tuntunan syariatNya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurakan kepada Rosulullah Muhammad SAW.yang telah membimbing umat manusia dari zaman kebodohan menuju zaman penuh dengan ilmu seperti yang kita rasakan sekarang.
Ilmu Fiqh adalah ilmu yang sangat penting bagi seorang muslim. Muslim harus melakukan ibadah dengan benar sesuai dengan yang disyariatkan, dan mengetahui tata cara ibadah yang benar adalah tak lain dengan perantara ilmu Fiqh. Maka boleh dikatakan mempelajari ilmu Fiqih adalah wajib sebagaimana wajibnya beribadah dengan cara yang benar. Tidak hanya dalam lingkup ibadah, Fiqih juga mencakup segala aspek kehidupan manusia seperti urusan politik dan mengatur negara. Maka tidak salah kalau Fiqh disebut sebagai pembatas antara hidayah dan kesesatan. Karena keurgensiannya tersebutlah banyak ulama terdahulu yang telah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu tersebut, sehingga banyak pula karya-karya yang telah mereka hasilkan.
![]() |
| Kitab Fatawa Hindiyah |
PROFIL PENULIS
Buku ini dituis/disusun pada awal abad 12 H/18 M oleh kelompok Ulama besar India yang dipimpin oleh Syaikh Nizhomuddin Al Balkhi atas permintaan Sultan Mughol India Abu Muzhoffar Muhyiddin Muhammad Aurangzeb
LATAR BELAKANG PENULISAN BUKU
Buku ini memiliki peran besar dalam islamisasi di kerajaan Mughul, bisa dikatakan buku ini memiliki sejarah yang luar biasa, tepatnya ketika Aurangzeb diangkat menjadi penguasa Mughal menggantikan ayahnya, ia berkomitmen untuk membawa Mughal kepada pemerintahan Islam, setelah sebelumnya tidak begitu mewarnai dalam permerintahan. Saat pemerintahan dirinyalah sebuah kodifikasi/kumpulan buku yang berisi hukum-hukum islam diterbitkan sebagai sarana rujukan penerapan hukum islam. Buku setebal 6 jilid ini disusun oleh Lajnah Ulama Mughal yang dipimpin oleh Nizamuddin Al-Balkhi. Al-Fatawa Al-Hindiyah, begitu buku kodifikasi hukum Islam berdasar madzhab Imam Hanafi ini dikenal.
Aurangzeb mengirimkan kitab fatawa ini ke seluruh penjuru kekuasaannya, untuk memberlakukan hukum Islam. Alkoholisme diberantas, perjudian dan prostitusi diperangi, pajak-pajak dihapuskan, dan acara-acara yang mengandung kemunkaran, baik yang dilakukan masyarakat maupun pemerintah dihapuskan.
METODOLOGI PENULISAN
Metologi penulisan yang di lakukan mazhab hanafi dalam kitab al fatawa al hindiyah sebagai berikut:
1. kitab ini terdiri dari 6 jilid.
Jilid pertama tediri dari beberapa pembahasan :
1. Kitab thaharah
2. Kitab shalat
3. Kitab zakat
4. Kitab puasa
5. Kitab Haji
6. Kitab Nikah
7. Kitab Radha’ah
8. Kitab Talak.
Jilid kedua terdiri dari beberapa pembahasan fiqih :
1. Kitab al itaq
2. Kitab al aiman
3. Kitab hudud
4. Kitab Sariqoh
5. Kitab As Sair
6. Kitab luqothoh
7. Kitab As Sarikah
8. Kitab Wakaf
Kemudian pada jilid ketiga pembahsannya adalah:
1. Kitab buyu’
2. Kitab as Sorf
3. Kitab Kafalah
4. Kitab Hiwalah
5. Kitab Adab Qodhi
6. Kitab Sahadat
7. Kitab Ruju’ “an Sahadat
8. Kitab Wakalah
Jilid yang keempat pembahasannya adalah:
1. Ktab ad da’wa
2. Kitab Iqror
3. Kitab As Sulh
4. Kitab Mudhorobah
5. Kitab Wadi’ah
6. Kitab Ariyah
7. Kitab Hibah
8. Kitab Al ijaroh.
Jilid yang kelima pembahasannya adalah:
1. Kitab mukatab
2. Kitab al Wala’
3. Kitab Ikroh
4. Kitab Al hazar
5. Kitab Perizinan
6. Kitab ghosof
7. Kitab As suf’ah
8. Kitab al qismah
9. Kitab Muzaroah
10. Kitab Muamalah
11. Kitab Az Zabaih
12. Kitab Udhiyah
13. Kitab Karohiyah
14. Kitab Taharry
15. Kitab Ihyaul Maut
16. Kitab As Surb
17. Kitab Soid
18. Kitab Rohn.
Pada jilid yang keenam pembahasannya adalah:
1. Kitab jinayah
2. Kitab wasiyah
3. Kitab Mukhodir was salajat
4. Kitab Faroid..dll
Pada jilid pertama yang dibahas adalah Thaharah. Uniknya dalam kitab ini pembahsan yang dibicarakan adalah whudu’ bukan air. Ini sangat berbeda dengan mazhab yang lain.yang mana dalam mazhab syafii sebagai contoh pembahsana yang pertama merka bahas adalah tentang air yang sah untuk digunakan sebagai whudu’.
Dalam penyusunannya mereka juga berusaha sebisa mungkin menjaga keaslian ibaroh-ibaroh (kalimat-kalimat) yang mereka ambil dari buku-buku yang mereka jadikan rujukan, tapi kebanyakan hukum-hukum dalam buku ini tidak disertai dengan dalil-dalilnya, karena penyusun sebatas menaql(memindah) perkataan ulama-ulama hanafi yang tertuang dalam buku-buku yang mereka jadikan rujukan. Beberapa buku yang dijadikan rujukan dalam buku ini adalah hidayah, inayah, khulashoh, syarh mukhtashor Atthohawiyah.
PENUTUP
Demikian sedikit pembahasan tentang buku Al Fatawa Hindiyyah, semoga bisa memberikan manfaat dan gambaran kepada pembaca yang budiman sebelum membaca buku tersebut

