Kisah Sahabat Nabi: Kisah Perang Tabuk dan Pengorbanan Harta dan Nyawa Oleh Para Sahabat R.hum.

0
Diriwayatkan oleh Ibnu Assakirir (1/105) dari Ibnu Abbas r.hum., katanya: Aku menemui Rasulullah saw. selang enam bulan setelah Rasulullah ke Thaif. Kemudian Allah Swt. memerintahkan beliau untuk mengadakan perang ke Tabuk. Perang ini sebagaimana yang difirmankan Allah Swt., terjadi pada masa sulit (sadul usroh). Kebetulan pada waktu perang Tabuk ini cuaca sangat panas Karena itu, orang-orang munafik semakin bertambah banyak, dan semakin banyak pula jumlah ahli suffah di masjid Nabi saw.


Suffah adalah tempat menginap di dalam masjid tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak mampu (fakir). Mereka hanya memakan pemberian sedekah yang diberikan kepada Nabi saw. dan orang-orang Islam lainnya.

Bila terjadi perang, maka orang-orang Islam menemui mereka dan mengajak mereka untuk menyertainya. Sarnpai ada di antara kaum muslimin memberikan hewan kendaraan kepada mereka, atau memberi makanan yang bisa mengenyangkan mereka, mempersiapkan keperluan mereka, berperang bersama mereka, dan berharap pahala dan mereka.

Rasulullah saw. memeritahkan kaum muslim untuk membelanjak.an hartanya di jalan Allah dengan mngharapkah pahala, lalu mereka berinfak dengan mengharapkan pahala dan Allah Swt..
Ada beberapa orang yang berinfak tanpa menghitung.hitungnya, beberapa orang dari kalangan muslimin yang fakir diberi kendaraan, dan masih tersisa sekelompok orang. Baran paling afdhal adalah yang dinfakkan oleh Abdurrahma bin Auf r.a. Ia telah mengorbankan dua ratus uqiyah.( 111200 uqiyah = 8000 dirham (Inám). Uqiyah adalah istilah untuk 40 dirtiam)

Sementara itu Umar bin Khaththab berinfak dengan seratus uqiyah dan Ashim al Anshri r.a. berinfak dengan sembilan puluh wasaq (112satu wasaq = 60 sha’. Yaitu sebanyak 320 rathl menurut penduduk Hijaz, dan 480 rath! menurut penduduk Iraq,) buah kurma.

Umar bin Kaththab berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku melihat Abdurrahman bin Auf telah melakukan dosa karena dia tidak meninggalkan apa pun untuk keluarganya.”
Maka Rasulullah saw. menanyakan hal ini kepada Abdurrahman, “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?”
Jawab Abdurrahman, “Ya, aku telah meninggalkan yang lebih baik dan lebih banyak daripada yang kuinfakkan.”
Tanya Rasulullah, “Berapa?”
Jawab Abdur Rahman, “Kebaikan dan rezeki sebanyak yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Seorang lelaki Anshar yang dipanggil Abu Uqail telah datang dan menginfakkan satu sha’ buah kurma. Orang-orang munafik yang melihat besamya jumlah infak para sahabat, mengejeknya dengan saling mengedipkan biji mata. Apabila jumlah infak yang diberikan seorang sahabat agak banyak, mereka akan saling mengedipkan mata dan berkata, “Ia ingin pamer (riya’).” Sebaliknya apabila seseorang menginfakkan sedikit kurma sesuai kemampuannya, mereka akan berkata, “Lelaki ini lebih memerlukan buah kurma yang diinfakkannya itu.”
 
Ketika Abu Uqall datang dengan membawa satu sha’ buah kurma, ia berkata, “Aku telah menghabiskan waktu malamku dengan mencari air menggunakan untaku, dengan upah dua sha’ ini. Demi Allah, aku tidak mempunyai apa pun selain ini,” — Ia mencoba memberikan keterangan dengan malu-malu karena infaknya yang sedikit ini — “Oleh karena itu aku membawa satu sha’ buah kurma itu dan meninggalkan satu sha’ untuk keluargaku.”
Orang-orang munafik berkata, “Ia (Abu Uqail) lebih memerlukan saW sha’nya itu dibanding orang lain.” 

Orang-orang munafik itu menanti-nanti sekiranya mereka memperoleh bagian dalam pembagian sedekah yang dikeluarkan itu, baik yang kaya maupun yang miskin.
Ketika waktu pemberangkatan itu semakin dekat, orang-orang munafik berulang kali meminta izin dari Rasulullah saw. untuk tidak ikut berperang dan mengeluhkan hawa pana yang menyengat. Mereka mengatakan bahwa mereka khawatir akan terkena fitnah oleh wanita-wanita di tempat tujuan jika mereka berperang. Bahkan mereka bersumpah dengan nama Allah atas perkataan dustanya itu. Rasulullah saw. mengizinkan mereka untuk tidak pergi tanpa mengetahui apa yang terkandung di dalam hati mereka.

Sebagian dan mereka membangun masjid kemunafikan guna menunggu dan mengawasi si fasik Abu Amir, mereka membuat tempat tersebut untuknya bila dia kembali dari kerajaan Hiraklius. ini merupakan isyarat kepada firman-Nya Swt.: {Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’inin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang muinin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. 

Mereka membangun masjid itu dengan perintah Abu ámir, seorang pendeta narani, yang berfungsi sebagai kubu pertahanannya, yang ia pakai untuk menjamu siapa saja yang datang dari Kaisar Hirakllus. Sebelumnya a telah mendatangkan tentara Kaisar Rumawi guna memerangi Nabi saw) yang tinggal bersama Hiraklius dan bergabung dengannya yaitu Kinanah bin Abdu Yalil dan Alqamah bin Ulatsah al Amiri.

Surat “ál Baraáh” turun berkatian dengan masalah ini sebagian deini sebagian, bahkan turun ayat yang meniadakan rukhshah bagi orang yang tidak turut berperang. Tatkala Allah Azza wa jalla menurunkan ayat:

“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” 
(Qs. at Taubah ayat 41)

maka orang-orang yang lemah namun setia kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang sakit serta fakir pun mengadu kepada Rasulullah saw., “Dalam perintah ini tidak ada keringanan sedikit pun.” 

Sementara orang-orang munafik mempunyai dosa-dosa yang tersembunyi, yang tidak dapat diketahui sampai turunnya ayat itu. Terdapat pula beberapa lelaki selain orang-orang munafik yang tidak memiliki keyakinan dan alasan, dengan sengaja melambat-.lambatkan kepergian mereka ke Tabuk untuk menyertai Rasulullah saw.. Surat ini turun dengan penjelasan dan keterangan mengenai kedudukan Rasulullah saw., dan menceritakan berita tentang orang-orang yang mengikuti beliau, sampai beliau tiba di Tabuk.

Dan sana, Rasulullah saw. memerintahkan Alqamah bin Mujazziz al Mudliji r.a. ke arah Palestina. Sementara itu, Khalid bin Walid diutus ke arah Dumatul Jandal.
Rasulullah saw. bersabda kepada Khalid bin Walid, “Bersegeralah kamu agar kamu dapat menemui rajanya (Ukaidar bin Abdul Malik al Kindi, raja Dumatul Jandal) yang sedang berburu, lalu tangkaplah ia.” Maka Khalid dapat menemui raja itu dan menangkapnya. 

Sementara orang-orang munafik di Madinah semakin giat menyebark an berita-berita buruk dan fItnah mengenai orang-orang Islam yang menyertai Rasulullah saw.. Bila sampai kabar kepada mereka bahwa kaum muslimin ditimpa bala’ dan kesusahan, mereka saling memberi tahu kabar itu dan bergembira karenanya, lantas berkata, “Sebelumnya kami telah tahu mengenai hal itu dan memperingatkannya,” 

Sebaliknya apabila mereka diberi tahu keadaan orang-orang Islam dalam keadaan baik dan sukses, mereka merasa sedih. Dan kenyataan itu, nyatalah permusuhan mereka di Madinah terhadap orang-orang Islam. Se hingga tiada seorang pun dari kaum munafik, baik dia orang Arab badui maupun selainnya, melainkan akan menyembunyikan dan menampakkan kelakuannya yang keji.

Tiada tersisa orang yang memiliki alasan (munafik), melainkan ia akan menunggu adanya celah dalam ayat-ayat yang diturunkan Allah di dal am kitab-Nya.
Sementara surat “al Baraáh” terus turun, sehingga orang banyak menyangka orang-orang beriman dengan berbagai persangkaan buruk dan mereka khawatir kalau-kalau tidak luput dari mereka, baik orang tua maupun anak kecil yang melakukan dosa dalam keadaan bertaubat, melainkan akan diturunkan musibah berkaitan dengannya, sampai selesainya surat “al Baraáh”. Penjelasan al Qurán mengenai petunjuk dan kesesatan telah merata dalam setiap elemen. — selesai.

Dia menceritakannya dalam Kanz al LYmmal (1/249), dan Ibnu Asakir dan Ibnu Aidz — dengan panjang lebar.

By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !