Diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalur Ibnu Ishaq, dan Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm, yang berkata: Ketika Nabi saw. berangkat untuk berperang, beliau tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda akan berperang, selain pada perang Tabuk.
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia, aku ingin memerangi Romawi.”
Kemudian Rasulullah saw. memberitahu mereka tentang maksud beliau. Itu terjadi pada masa paceklik, hawa yang panas, bumi yang kerontang dan buah-buahan yang hampir masak di Madinah. Banyak orang lebih suka menunggu panen buah kurma mereka dan duduk-duduk di bawah pohon kurma yang teduh, mereka merasa keberatan untuk meninggalkannya.
Suatu hari Rasulullah saw. di tengah persiapannya, bersabda kepada al Jad bin Qais, “Hai, Jad ! Apakah engkau mau memukulkan pedangmu dalam memerangi Bani al Ashfar (orang Romawi)?”
Al Jad menjawab, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah saya untuk tidak pergi, dan janganlah engkau mencampakkan saya ke dalam fitnah. Sesungguhnya kaumku sangat mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih bergairah kepada wanita selain saya. Dan saya takut sekiranya saya melihat wanita-wanita Romawi, saya akan tergoda oleh mereka. Oleh karena itu izinkanlah saya untuk tidak pergi, wahaiRasulullah.”
Maka beliau berpaling darinya dan bersabda, “Aku mengizinkanmu.” Maka Allah Swt. mewahyukan ayat berikut ini dalam al Qurán :
“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.”
(Qs. at Taubah ayat 49)
Allah menjelaskan bahwa fitnah yang terjadi pada dirinya adalah ketertinggalannya mengikuti Rasulullah saw. dan rasa cinta kepada dirinya sendiri yang lebih besar daripada kepada beliau. Itu termasuk dalam fitnah para wanita Bani al Ashfar yang dia khawatirkan.
Maka Allah berfirman:
“Katakanlan ! Api neraka Jahannam itu lebih sangat panasnya. ….”
(Qs. At Taubah ayat 81)
Kemudian Rasulullah mengadakan persiapan untuk berangkat, memerintahkan manusia supaya berangkat jihad dan menganjurkan agar orang orang kaya membelanjai orang yang tidak mampu dan menyediakan hewan tunggangan dijalan Allah. Maka orang-orang kaya pun berkorban dan menyempurnakan pengorbanan mereka.
Utsman telah mengorbankan hartanya dalam jumlah besar, yang tidak ada orang lain yang berkorban lebih banyak darinya. Ia memberikan dua ratus ekor unta.
Sebagaimana tersebut dalam at Tarikh, Ibnu Katsir (1/108). Al Baihaqi meriwayatkannya dalam kitab as Siyar (juz 9. 33) dari urwah r.a. secara ringkas. Dan hadits ini disebutkan dalam al Bidayah (Juz 5, hal.3) dari Ibnu Ishaq, dari az Zuhri, Yazid bin Ruman, Abdullah bin Abu Bakar, dan Ashim bin Umar.
Diriwayatkan oleh at Thabrani dari Ibnu Abbas r.hum., katanya : Ketika Rasulullah merencanakan untuk berangkat menuju perang Tabuk, beliau berkata pada al Jad bin Qois, “Bagaimana pendapatmu mengenai perang terhadap orang-orang Romawi itu?”
Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya adalah lelaki yang sangat menyukai wanita, dan apabila saya melihat wanita-wanita Romawi, saya pasti akan tergoda olehnya. Apakah engkau mau mengizinkan saya agar duduk saja disini (tidak ikut perang) dan janganlah engkau mencampakan saya kedalam fitnah?”
“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kaf ir.”
(Qs. at Taubah ayat 49)
