Kisah Sahabat Nabi: Kisah Abu Khaitsamah Yang Meninggalkan Kenikmatan Dunia dan Berangkat di Jalan Allah

0
Ibnu Ishaq menceritakan bahwa Abu Khaitsamah telah kembali beberapa hari setelah Rasulullah saw. berangkat. Ia pulang kepada keluarganya dalam keadaan cuaca sangat panas (dalam perang Tabuk). Ia menjumpai kedua isterinya di dua rumah tempat berteduh dalam kebunnya. Masing masing telah memasak air di dalam rumahnya, mendinginkannya dan menyediakan makanan untuknya. 

Ketika Abu Khaitsamah masuk, ia berdiri di depan pintu, melihat ke arah dua isterinya dan apa yang disediakan oleh mereka untuknya. 
Ia berkata, “Rasulullah saw. berada di bawah terik sinar matahari, tiupan angin kencang, dan cuaca yang panas; sementara Abu Khaitsamah berada di naungan yang sejuk dengan makanan yang terhidang, isteri yang cantik dan tinggal di tengah hartanya. ini tidak adil.” 
Kemudian ia berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan masuk ke dalam rumah salah seorang dari kamu berdua, sehingga aku menyusul Rasulullah. Maka sediakanlah perbekalan untukku.” 

Kedua isterinya pun mengerjakan perintahnya, lalu Abu Khaitsamah menaiki untanya dan memacunya dengan kencang. Ia berangkat untuk mencari Rasulullah saw. hingga menemukannya ketika Rasulullah saw. tengah beristirahat di Tabuk. 

Umair bin Wahb al Jumahi mendapatkan Abu Khaitsamah di tengah perjalanan yang juga ingin menyertai Rasulullah saw.. Kemudian mereka pergi beriringan hingga sampai di Tabuk. 
Ketika mereka telah mendekati Tabuk, Abu Khaitsamah berkata kepada Umair bin Wahb, “Aku mempunyai kesalahan karena itu tidak masalah bagimu jika kamu tertinggal dariku, sampai aku mendatangi Rasulullah saw. (yang berada di Tabuk).” 

Ketika keduanya telah dekat dengan Rasulullah saw. yang tengah beristirahat di Tabuk, orang-orang berkata, “Seorang penunggang unta sedang menuju kemari!” 
Maka Rasulullah saw. berkata, “Semoga ia adalah abu Khaitsamah.” 
Orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, ia adalah Abu Khaitsamah.” 
Setelah menambatkan untanya, ia mendekat dan memberi salam kepada Rasulullah saw.. Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Celakalah kamu, hai Abu Khaitsamah.” 
Kemudian ia mençeritakan kisahnya kepada Rasulullah saw.. 
Rasulullah saw. pun bersabda, “itu hal yang baik.” Dan beliau pun mendoákan kebaikan untuk Abu Khaitsamah. 
Urwah bin az Zubair dan Musa bin Uqbah telah menceritakan kisah Abu Khaitsamah r.a. serupa susunan kisah Ibnu Ishaq, tapi lebih panjang. 

Dia menyebutkan bahwa keberangkatannya ke Tabuk terjadi pada masa peralihan musim panas dan dingin. Demikian tercantum dalam kitab al Bidayah(juz 5, hal. 7).

Diriwayatkan oleh Thabarani dalam kitab al Majma’ (6/192), dari Sa’d bin Khaitsamah r.a., katanya: Aku tertinggal menyertai Rasulullah saw. dalam suatu perang (yaitu perang Tabuk). Aku pun memasuki sebuah kebun yang di dalamnya aku menemukan sebuah rumah untuk berteduh dan telah dimasakkan air. Aku melihat isteriku lalu aku berkata kepadanya, Ini tidak adil. Sesungguhnya Rasulullah saw. kini sedang berada dalam cuaca berangin panas dan matahari membakar, sedangkan aku berada di bawah keteduhan dan kenikmatan.” 

Maka aku segera bangkit menuju untaku, lalu menggantungkan ransel bekal padanya, dan mengambil beberapa buah kurma sebagai bekal. Isteriku memanggilku dan berkata, “Hendak ke mana kamu, hai Abu Khaitsamah?” 
Aku berangkat untuk mencari Rasulullah saw. sehingga sampai di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Umair bin Wahb, lalu aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu adalah seorang lelaki pemberani, dan aku mengetahui di mana Nabi saw.. Sedangkan saat ini aku memiliki kesalahan, yaitu aku telah menunda-nunda keberangkatanku. Karena itu, kamu hendaknya ada di belakangku sampai aku bicara sendirian dengan Rasulullah saw..” 

Kemudian Umair mengikuti di belakangku. Ketika aku datang dengan tiba-tiba di depan pasukan Islam dari mereka melihat kedatanganku, maka Rasulullah saw. bersabda, “Semoga ia adalah Abu Khaitsamah.” 
Aku menghampirinya serya berkata, “Hampir saja aku binasa, wahai Rasulullah.” 
Kemudian aku menceritakan yang telah terjadi pada diriku. Maka Rasulullah saw. berkomentar baik padaku dan mendoákanku.

Al Haitsami mengatakan (juz 6, hal 193) bahwa dalam sanadnya terdapat Ya’qub bin Muhammad az Zuhri, ia adalah dha’if — selesai. 



By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !