Salman Al-Farisi ra. berkata, ‘Ada tiga jenis manusia, yang jika aku mengingatnya, maka aku akan demikian herannya sehingga tersenyum sendiri;
(1) Orang berharap kepada dunia, sedangkan maut akan rnenjemputnya.
(2) Orang yang melalaikan Allah swi., namun Allah swt. tidak melupakannya.
(3) Orang yang selalu tertawa riang, padahal Ia tidak mengetahui; apakah Allah swt. meridhainya ataukah murka kepadanya (padahal dengan meinikirkan hal itu, tidak akan membeninya kesempatan untuk tertawa).
Dan ada tiga hal yang membuatku khawatir sehingga aku menangis;
(1) Berpisah dengan para kekasihku (para sahabat ra.)
(2) Memikirkan mati.
(3) Akan dihadapkan kepada Allah di padang Mahsyar kelak, dan aku tidak tahu, apakah aku diperintahkan untuk memasuki surga ataukah ke neraka.
Seseorang berkata, setelah wafatnya Zurarah bin Aufa rah.a, saya benjumpa dengannya di dalam inimpi. Saya bertanya kepadanya, “Amal apakah yang paling baik?” Dia berkata, “Tawakal dan memendekkan angan angan.’ Sofyan Tsauri rah.a. berkata, “Zuhud adalah nama lain dari memendekkan angan-angan, bukan hanya makan dan berpakaian sederhana.” Dawud Tha’i rah.a. berkata, Seandainya aku berharap akan hidup sampai sebulan lagi, maka aku menganggap bahwa diriku termasuk orang-orang yang sangat zhalim. Bagaimana aku dapat berharap demikian? Padahal aku senantiasa menyaksikan banyak orang yang ditangkap baik malam ataupun siang oleh kematian.”
Suatu ketika, Syaqik Blkhi rah.a. menjumpai gurunya dalam hal tasawuf, yaitu; Abu Hasyim Rumani rah.a.. Ketika melihat ada sesuatu yang terbungkus di ujung kain selimutnya, maka Abu Hasyim rah.a. bertanya, “Apakah ini?” Jawabnya, “Kawanku memberiku badam (sejenis kacang) sebagai hadiah. Saya membawanya ke sini dengan harapan, tuan memakannya untuk berbuka puasa.” Abu Hasyim rah .a. berkata, ‘Hai Syaqik, apakah kamu ada harapan untuk hidup sampai waktu berbuka nanti. Saya tidak pernah mengajarimu demikian. Sekarang saya tidak akan pernah berbicara denganmu.” Setelah berkata demikian, ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.
Qo’qo bin Hakim rah.a. berkata, “Selama 30 tahun yang lalu, saya telah mempersiapkan diri untuk mati. Apabila tiba masanya, maka saya tidak ingin sedikitpun tertunda.
Sufyan Tsauri rah.a. berkata, “Saya menemui seorang waliullah di masjid Kuffah. Dia berkata, “Selama tiga puluh tahun di masjid ini, saya selalu menunggu kedatangan maut. Apabila maut itu datang, saya tidak ingin mendengar suatu apapun dari seseorang dan tidak ingin berkata apapun kepada seseorang. Dan tidak menginginkan suatu benda dari siapapun ataupun tidak ada suatu benda pun milik orang lain pada diri saya.”
Abu Muhammad Zahid rah.a. berkata, “Suatu ketika aku sedang mengikuti upacara jenazah, dan Dawud Tha’i juga ada bersamaku. Ketika sampai di kuburan, Ia duduk di suatu tempat seorang diri. Aku pun duduk di dekatnya. Ia berkata, ‘Barangsiapa mentakuti ancaman Allah, maka mudah baginya untuk menjalani perjalanan yang jauh (akherat). Dan barang siapa bercita-cita panjang, maka dia akan melengah-lengahkan amalan. Apa yang akan datang (kematian) adalah dekat. Saudara, ketahuilah dengan baik, bahwa apapun yang menarikmu dari Tuhanmu adalah terkutuk. Dengarlah suatu hal, bahwa berapapun jumlah manusia di dunia ini, semuanya akan masuk kubur. Pada masa itu mereka akan menyesal; atas apa yang mereka tinggalkan di sini dan bergembira atas apa yang telah mereka kirim ke sana lebih dulu. Mereka yang masih hidup (ahli wads) bertengkar, bertikai, beradu mulut di mahkamah untuk apa yang menjadi penyesalan si mayit. ‘ (lhya).
(1) Orang berharap kepada dunia, sedangkan maut akan rnenjemputnya.
(2) Orang yang melalaikan Allah swi., namun Allah swt. tidak melupakannya.
(3) Orang yang selalu tertawa riang, padahal Ia tidak mengetahui; apakah Allah swt. meridhainya ataukah murka kepadanya (padahal dengan meinikirkan hal itu, tidak akan membeninya kesempatan untuk tertawa).
Dan ada tiga hal yang membuatku khawatir sehingga aku menangis;
(1) Berpisah dengan para kekasihku (para sahabat ra.)
(2) Memikirkan mati.
(3) Akan dihadapkan kepada Allah di padang Mahsyar kelak, dan aku tidak tahu, apakah aku diperintahkan untuk memasuki surga ataukah ke neraka.
Seseorang berkata, setelah wafatnya Zurarah bin Aufa rah.a, saya benjumpa dengannya di dalam inimpi. Saya bertanya kepadanya, “Amal apakah yang paling baik?” Dia berkata, “Tawakal dan memendekkan angan angan.’ Sofyan Tsauri rah.a. berkata, “Zuhud adalah nama lain dari memendekkan angan-angan, bukan hanya makan dan berpakaian sederhana.” Dawud Tha’i rah.a. berkata, Seandainya aku berharap akan hidup sampai sebulan lagi, maka aku menganggap bahwa diriku termasuk orang-orang yang sangat zhalim. Bagaimana aku dapat berharap demikian? Padahal aku senantiasa menyaksikan banyak orang yang ditangkap baik malam ataupun siang oleh kematian.”
Suatu ketika, Syaqik Blkhi rah.a. menjumpai gurunya dalam hal tasawuf, yaitu; Abu Hasyim Rumani rah.a.. Ketika melihat ada sesuatu yang terbungkus di ujung kain selimutnya, maka Abu Hasyim rah.a. bertanya, “Apakah ini?” Jawabnya, “Kawanku memberiku badam (sejenis kacang) sebagai hadiah. Saya membawanya ke sini dengan harapan, tuan memakannya untuk berbuka puasa.” Abu Hasyim rah .a. berkata, ‘Hai Syaqik, apakah kamu ada harapan untuk hidup sampai waktu berbuka nanti. Saya tidak pernah mengajarimu demikian. Sekarang saya tidak akan pernah berbicara denganmu.” Setelah berkata demikian, ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.
Qo’qo bin Hakim rah.a. berkata, “Selama 30 tahun yang lalu, saya telah mempersiapkan diri untuk mati. Apabila tiba masanya, maka saya tidak ingin sedikitpun tertunda.
Sufyan Tsauri rah.a. berkata, “Saya menemui seorang waliullah di masjid Kuffah. Dia berkata, “Selama tiga puluh tahun di masjid ini, saya selalu menunggu kedatangan maut. Apabila maut itu datang, saya tidak ingin mendengar suatu apapun dari seseorang dan tidak ingin berkata apapun kepada seseorang. Dan tidak menginginkan suatu benda dari siapapun ataupun tidak ada suatu benda pun milik orang lain pada diri saya.”
Abu Muhammad Zahid rah.a. berkata, “Suatu ketika aku sedang mengikuti upacara jenazah, dan Dawud Tha’i juga ada bersamaku. Ketika sampai di kuburan, Ia duduk di suatu tempat seorang diri. Aku pun duduk di dekatnya. Ia berkata, ‘Barangsiapa mentakuti ancaman Allah, maka mudah baginya untuk menjalani perjalanan yang jauh (akherat). Dan barang siapa bercita-cita panjang, maka dia akan melengah-lengahkan amalan. Apa yang akan datang (kematian) adalah dekat. Saudara, ketahuilah dengan baik, bahwa apapun yang menarikmu dari Tuhanmu adalah terkutuk. Dengarlah suatu hal, bahwa berapapun jumlah manusia di dunia ini, semuanya akan masuk kubur. Pada masa itu mereka akan menyesal; atas apa yang mereka tinggalkan di sini dan bergembira atas apa yang telah mereka kirim ke sana lebih dulu. Mereka yang masih hidup (ahli wads) bertengkar, bertikai, beradu mulut di mahkamah untuk apa yang menjadi penyesalan si mayit. ‘ (lhya).
