Asal Mula Julukan Pengemis

0
Asal Usul Pengemis

Ngemis – Kemisan –  Wong Ngemis ; 
Tradisi Ngalap Berkah yang bergeser makna

“Pengemis” ternyata dari kata dasar “kemis” + awalan Pe (pelaku), bukan kata dasar “emis”.
 

Lah.. jadi maksudnya “orang yang melakukan (kegiatan pada hari) Kemis”?

Iya betul… Tapi memang hari Kemis/Kamis ada apa sih ?

Ternyata ini berawal pada tradisi Upacara adat Kamisan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dimana saat itu Susuhunan Paku Buwono X melakukan pembagian sedekah kepada masyarakat yang berjajar rapi dipinggir jalan dengan menyebarkan udhik-udhik atau uang koin.


Hari Kamis sejak zaman Mataram Islam merupakan hari yang khusus. Karena pada hari Kamis itu persiapan untuk menyongsong hari Jumat. Hari Jumat menurut pengertian Islam adalah mahkota hari atau rajanya hari (sayyidul ayyam), sedangkan mahkotanya bulan adalah bulan Ramadhan (Sasi Pasa). Jadi ini sebenarnya tradisi persiapan bagi raja-raja Mataram Islam untuk menyongsong hari Jumat hari yang dimuliakan.

Masa pemerintahan Paku Buwono X setiap hari Kamis sang raja akan keluar dari cepuri (benteng kedaton) menuju masjid agung sambil memberikan sedekah kepada rakyatnya yang berbaris disepanjang jalan pada hari Kamis menjelang Jum’at. Rutenya adalah berjalan kaki melewati alun-alun utara, sepanjang perjalanan banyak rakyat yang berjejer dikanan dan kiri jalan sambil menundukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada raja dan menunggu uang berkah dari raja, disaat itulah Paku Buwono X membagikan sedekah kepada rakyatnya tanpa terkecuali. 

Berdasar dari kebiasaan mencari berkah sedekah pada hari Kamis inilah yang kemudian memunculkan kata "ngemis" yaitu mengharapkan berkah raja di hari Kamis. Kegiatannya dalam bahasa Jawa disebut "Kemisan". Orang yang melakukan disebut "Wong kemisan".

Dalam Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, “kamis” berasal dari bahasa Arab yaitu Khamiis = Khamsin hari kelima, dalam bahasa Jawa hari kemis, dalam bahasa Belanda Donderdag, yang selanjutnya menjadi kata ngemis, mengemis. Menurut orang Jawa, orang miskin mengemis hanya pada hari Kamis.
 
Lalu pada tahun 1939, WJS Poerwodarminto dalam kitab “Bausastra Jawa” kata ngemis memiliki arti “njaluk dana” (meminta bantuan dana).

Dalam “Maleis Woordenbook, Maleis Nederlands, Nederlands Maleis in de officieele maleise spelling” atau Kamus Bahasa Melayu Zaman Belanda karangan Ronkel ph.s tahun 1939, terdapat lema kata kemis = nama hari, lalu kata turunannya "Ngemis, Berkemis, Pengemis" 

Jauh sebelum kamus2 tadi, Kata “pengemis” muncul pertama kali pada Koran Bromartani 1895. Istilah ini bermula ketika laporan Raden Samingoen Nitiprodjo seorang wartawan Bromartani meliput kegiatan Pakubuwono X yang suka memunculkan diri pada Kamis sore untuk bersiap mengaji pada Jumat Malam, Pakubuwono X berangkat dari Keraton-nya jalan kaki menuju ke Masjid Gede Solo. Selama perjalanan ini ia dirubungi banyak orang yang menyembah, dalam perjalanan seringkali pengiringnya yaitu: abdi dalem para Bupati Keraton, Tumenggung Keraton dan Lurah Keraton membagikan “kepengan” atau koin uang. 

Dalam pembagian inilah disebut sedekah Sinuwun. Dalam perjalanan istilah ini disebut Raden Samingoen menulis “Kemisan” dan dari sinilah kemudian muncul istilah “Ngemisan” atau Pengemis untuk mencari berkah. Dulu ngemisan bukan untuk mencari kehidupan tapi mencari berkah dari orang yang dianggap mulia.

Jadi, sebutan wong ngemis bagi telinga orang Jawa terutama bagi masyarakat Solo pada waktu itu sudah biasa, sebutan wong ngemis ini kemudian dipersingkat dan diakui dalam bahasa Indonesia menjadi pengemis yang memiliki kata dasar "kemis" bukan dari kata "emis".

Lebih lanjut artikel menarik ini bisa disimak di buku berikut :

Berpangku Pada Raja
Pengemis dalam narasi sedekah Pakubuwono X


By. Kisah Sahabat.

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !