Marga Basyaiban : Marga Alawiyyin

0

Marga Basyaiban

Basyaiban adalah salah satu famili yang terdapat dalam keluarga Alawiyin. Dalam buku-buku nasab keluarga Alawiyin disebutkan bahwa keluarga Basyaiban memiliki kakek yang sama dengan famili Jamalullail, Al-Qadri, Bin Sahil, As-Srie, Baharun, Al-Junaid, Al-Habsyi, As-Syatiri. Beliau adalah Muhammad Asadullah bin Hasan al-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Pertama kali yang menggunakan gelar Basyaiban adalah Waliyullah Al-Imam Abu Bakar Basyaiban bin Muhammad Assadillah. Beliau merupakan salah satu tokoh di zamannya, hafal Al-Qur’an, mempelajari fiqih kepada Syaikh Al-Jalil Muhammad bin Abu Bakar Ba’abbad. Guru beliau ini memuji Al-Imam Abubakar Basyaiban akan kecerdasannya serta memberikan ijazah tertulis kepadanya, Al-Imam Abubakar Basyaiban belajar tasawuf kepada al-arif billah as syaikh al Imam Abdurrahman Assegaf hingga As Syaikh Al Imam Abdurrahman Assegaf memakaikan khirqah kepadanya.

Beliau wafat di kota Tarim pada awal tahun 807 hijriyah dan ada riwayat yang menyatakan Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban diperkirakan wafat tahun 803 H (1382 M) di Tarim, Hadramaut (wallahu’a’lam). Antara Waliyullah Al-Imam Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadullah dengan As Syaikh Al Imam Abdurrahman Assegaf hidup dalam satu zaman yakni mereka berdua ada keturunan generasi ke 22 dari Ar-Rasul Muhammad saw.

Marga BaSyeiban/BaSheban/BaSyaiban/Basy-Syaiban (باشيبان , juga dieja BaSyaiban) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut di Nusantara. Mereka bernasab kepada Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban bin Muhammad Asadillah Baalawi Al-Hadhrami Al-Husaini. Gelar BaSyaiban diberikan karena Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar pada suatu waktu ketika mudanya telah ‘menghilang’ dan kemudian muncul kembali setelah berpuluh-puluh tahun. Rambutnya telah semua putih namun wajahnya tetap kelihatan muda maka ia mendapat sebutan BaSyeiban/BaSyaiban/Basy-Syaiban (باشيبان) dari rambutnya yang putih (syaiban/شيبان).

BaSyeiban adalah antara kabilah yang pertama-tama berhijrah keluar dari Hadramaut. Mula-mulanya ke Balqeum/Belgaum, Karnataka, India yang tidak jauh dari Surat dan kemudian dari sana ke Indonesia, tepatnya Jawa.

Basyaiban adalah salah satu famili yang terdapat dalam keluarga Alawiyin. Dalam beberapa buku nasab Alawiyin dituliskan bahwa keluarga Basyaiban memiliki kakek yang sama dengan famili Jamalullail, Al-Habsyi, Al-Syatri. Beliau adalah Muhammad Asadullah bin Hasan al-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Pertama kali yang menggunakan gelar Basyaiban adalah Abubakar bin Muhammad Asadullah. Beliau salah satu tokoh di zamannya, hafal Al-Qur’an, mempelajari fiqih kepada syaikh al-jalil Muhammad bin Abubakar Ba’abbad dan beliau memuji Imam Abubakar Basyaiban akan kecerdasannya serta memberikan ijazah tertulis kepadanya, Imam Basyaiban belajar tasawuf kepada al-arif billah syaikh Abdurrahman Assegaf hingga Syaikh Abdurrahman Assegaf memakaikan khirqah kepadanya. Beliau wafat di kota Tarim pada awal abad 9 hijriyah.

Keturunan Habib Abubakar Basyaiban

Habib Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadullah memiliki dua orang anak laki-laki : Muhammad dan Ahmad. Muhammad keturunannya terputus, sedangkan Ahmad memiliki keturunan hanya melalui anaknya yang bernama Muhammad al-Syaibah yang wafat di Qasam.

Muhammad al-Syaibah memiliki seorang anak bernama Umar yang lahir di tahun 881 hijriyah di Qasam. Beliau hafal Al-Qur’an pada usia yang relative masih kecil. Kemudian beliau pergi ke kota Tarim untuk menuntut ilmu. Di Tarim, Umar bin Muhammad Basyaiban belajar kepada para tokoh ulama di antaranya al-imam al-allamah Muhammad bin Abdurrahman Bilfaqih, al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman Balahaj. Belajar tasawuf kepada syaikh Abdurrahman bin Ali bin Abubakar Al-Sakran, Syaikh Ma’ruf bin Abdullah Bajamal dan beliau berkenan memberikan khirqah kepadanya. Di antara karangannya adalah kitab yang berjudul ‘Tiryaq Al-Qulub al-Waf bi Zikri Hikayat al-Saadah al-Asyraf’ dan Tarikh Basyaiban.Tarikh Al Basyaiban dimana kitab ini adalah tulisan tangan beliau sendiri dan saat ini ada di Musium London, Habib Umar bin Muhammad Basyaiban wafat di kota Qasam pada tahun 944 hijriyah, Beliau juga mempunyai salah seorang murid yang masyhur di Zamannya yaitu Syeikh Abubakar bin Salim. Beliau memiliki anak bernama Abdullah dan Abdurrahman.

Abdullah keturunannya tersebar di Deccan,India. Salah satu anak perempuan dari Al Habib Al Imam Abdullah bin Umar bin Muhammad al-syaibah Basyaiban ini adalah Syarifah Salmah nikah dengan al Imam Al Habib Abdurahman Al Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al Akbar bin Abdurahman bin as syekh Ali bin Abu Bakar Assakran dan mendapatkan beberapa putra yakni :

  • Al Imam Muhammad al Hadi,
  • Al Imam Ahmad syahabudin al-Asghor(yang melahirkan keluarga bin shahab,az zhair.al masyhur,al hadi),
  • Al Imam Abdullah
  • Al Imam Abubakar(dari sini juga lahir klg bin shahab yang di sebut al abubakar syahabuddin).
Jadi keluarga besar Syahabuddin ini lahir dari rahimnya keluarga Basyaiban, dari Syarifah Salmah binti Abdullah bin Umar Basyaiban.
Abdurrahman bin Umar Basyaiban lahir di Tarim tahun 993 hijriyah, memiliki dua orang anak Syihabuddin dan Abdullah, wafat tahun 1013 hijriyah di Balqam, India. Beliau pertama kali hijrah ke luar Tarim yaitu ke India dan Aceh. Abdullah bin Abdurrahman Basyaiban memiliki tiga orang putra dan seorang puteri yakni : Ahmad, Muhammad, Umar dan seorang putri yang bernama Fathimah

Syarifah Fathimah menikah dengan Al Imam Muhammad bin Ahmad al Kaff bin Muhammad Kurai kurah bin Ahmad bin Abubakar Al Jufri. Jadi keluarga besar al Kaff ini lahir dari rahimnya kluarga Basyaiban

Abu Hafs Umar bin Abdullah Basyaiban dikenal di wilayah Gujarat sebagai Sayyid Umar Al-Aydarusi (yang merupakan guru dari Syekh Nuruddin al-Raniri ).Menurut al-Raniri, Sayyid Umar Basyaiban yang menginisiasinya ke dalam tarekat Rifa’iyah di samping tarekat Aidarusiyah dan tarekat Qadiriyah. Di Tarim, Sayyid Umar Basyaiban belajar kepada syaikh Abdullah bin Syech Alaydrus, Syekh Abdurrahman al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin, Muhammad al-Hadi dan Ahmad Syihabuddin.

Sayyid Umar Basyaiban beberapa tahun di Tarim, beliau meneruskan perjalanannya ke Mekkah dan Madinah selama empat tahun belajar dan mengambil khirqah dengan para ulama Haramain, di antaranya sayyid Umar bin Abdullah al-Basri, Ahmad bin Ibrahim bin Allan, dan Abdurrahman al-Khatib. Setelah itu Ia kembali ke Tarim dan menikah. Di kemudian hari dia pergi ke Surat-India untuk belajar kepada syaikh Muhammad bin Abdullah al Ausath bin Syech bin Abdullah bin Syech bin Abdullah Al Akbar Alaydrus yang menginisiasinya ke dalam tarekat Aidarusiyah. Sayyid Umar menganggap syaikh Muhammad bin Abdullah Al aydarus bapak spritualnya. Di antara murid sayyid Umar di Indonesia adalah syekh Yusuf al-Makasari.

Melalui murid-murid utamanya, seperti al-Raniri dan al-Makasari, sayyid Umar bin Abdullah Basyaiban menyebarkan gagasan-gagasan keagamaan dari Tarim dan Haramain ke India dan wilayah Indonesia. Sayyid Umar Basyaiban tinggal di Bijapur, salah satu pusat pengetahuan Islam dan tasawuf terkemuka di India. Di sana, dia menikmati perlindungan dari sultan Adil Syah dari kesultanan Brahmani, kemudian dia pindah ke Burhanpuri dan menyelesaikan beberapa kitab yang dikarangnya, pada akhir hayatnya beliau ke Balqam dan wafat di sana pada tahun 1066H / 1656 M.

Al-Habib Umar bin Abdullah Basyaiban meninggalkan tiga belas anak laki-laki, di antaranya yang ke nusantara bernama Abdurrahman, Ahmad, Abdulrahman Azhar, Muhammad, dari ke-13 anak Habib Umar bin Abdullah Basyaiban yang bergelar Tajudin yaitu Abdurrahman, lalu disebut Sayyid Abdurahman Tajuddin yang menurunkan keluarga Basyaiban didaerah utara pulau jawa, Sayyid Ahmad yang menurunkan keluarga Basyaiban didaerah Sumatra, Sayyid Abdulrahman Azhar yang menurunkan keluarga Basyaiban didaerah pesisir selatan pulau jawa, Sayyid Muhammad menurunkan keluarga Basyaiban didaerah ujung timur pulau jawa.

Awal Kedatangan Sayyid 'Abdurrahman bin 'Umar Basyaiban ke Jawa Barat Cirebon Jawa Barat dan Beliau menikah dengan seorang Putri Sultan Cirebon bernama Syarifah Khadijah/Ratu Ayu Ibu.Beliau Mendapat gelar Sultan Syarif Cirebon. Keduanya mengelola Pondok Pesantren Krapyak di Pekalongan di Jawa Tengah. Keduanya dikaruniai beberapa anak diantaranya:
  • Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Tajuddin Basyaiban
  • Sayyid Sulaiman wafat di Mojo Agung dari istri pertama berputra 4 anak yakni Hasan (Pangeran Agung), Abdul Wahhab, Muhammad Baqir (makam di Geluran Sepanjang Sidoarjo), dan Ali Akbar. Semua pejuang pembebasan dari kompeni Belanda.
  • Sayyid Ali Akbar meninggalkan enam putra, yakni Ghazali (makam di Tawunan, Pasuruan), Ibrahim (makam di Kota Pasuruan), Badruddin (makam di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya), Iskandar (makam di Bungkul Surabaya) dan Abdullah (makam di Bangkalan Madura) dan Ali Asghar (makam di Sidoresmo).
  • Sayyid Abdullah, generasi penerusnya memangku pesantren Sidogiri dan Demangan Bangkalan.
  • Sayyid Ali Asghar penerusnya merupakan pemangku Sidoresmo dan Sidosermo juga ulama pemangku ponpes Tambak Yosowilangun.
  • Sayyid Sulaiman Basyaiban Dari istri kedua (putri Mbah Sholeh Semendi) berputra di antaranya Kyai Ahmad Lebak Pasuruan.
  • Dari istri ketiga di Malang Sayyid Sulaiman Basyaiban berputra Sayyid Hazam, tapi riwayat lain menyebutkan Sayyid Hazam merupakan putra dari istri kedua. Sayyid Sulaiman Basyaiban mempunyai anak perempuan bernama Indah/Endah menikah dengan Kyai Aminullah sebagai penerus Ponpes Sidogiri setelah Sayyid Sulaiman, kemudian, yang menjadi pemangku Ponpes Sidogiri adalah keturunan Sayyid Abdullah bin Sulaiman. dan hingga sekarang masih ada keturunannya serta tercatat rapi.
  • Sayyid 'Abdurrahim bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban
  • Sayyid 'Abdurrahim atau Sayyid 'Arifuddin yang wafat di Segoropuro Rejoso Pasuran Jawa Timur berputra 5 anak (sebenarnya ada 8 anak, 5 laki laki dan 3 perempuan yg wafat sejak kecil.Hingga sekarang masih ada keturunannya dan tercatat rapi.
  • Sayyid Ahmad bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban
  • Sayyid Ahmad mempunyai gelar Tuan Tanjung Darussalam berdakwah di Aceh Darussalam kemudian beliau hijrah ke Palembang karena adanya konflik di Aceh.Beliau wafat di Komering Palembang Indonesia.Keturunannya masih ada hingga sekarang serta tercatat rapi.
  • Sayyid Muhammad bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban
  • Sayyid Muhammad bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban bergelar Tuan Dipulau.Berdakwah di Pasai dan Banten hingga wafat di Komering Palembang, Indonesia.Keturunannya masih ada hingga sekarang dan tercatat rapi.
  • Sayyid Husein bin Abdurrahman Tajuddin Basyaiban keturunannya banyak yang mastur.
  • Sayyid 'Abdullah bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban
  • Sayyid 'Abdullah lahir di Qosam dan wafat 972 H di Aceh Darussalam, namun ada yg berpendapat, Beliau Sayyid 'Abdullah bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban dikubur di Swadesi Bangil Pasuruan Jawa Timur. Beliau berdakwah di Belgaum India dan Aceh Darussalam.
  • Sayyid 'Abdullah bin 'Abdurrahman Tajuddin Basyaiban, berputra Sayyid 'Umar Abu Hafsh (Khalifah Ratib Alaydrus) dan Sayyid Husein bin Abdullah bin Abdurrahman Basyaiban, yg lahir di Belgaum India kemudian hijrah ke Nusantara tepatnya di Aceh Darussalam dan kemudian ke dareah Jawa Timur bersama kedua putranya.
  • Sayyid 'Umar Abu Hafsh bin Abdullah Basyaiban berputra 12 anak, salah satunya bernama Sayyid 'Abdurrahman Tajul Arsy bin 'Umar Abu Hafsh Basyaiban. Tajul Arsy berputra 9 anak laki laki dan 1 anak perempuan. Keturunan Sayyid Umar bin Abdullah bin 'Abdurrahman Basyaiban hingga sekarang masih ada serta tercatat rapi dan terjaga.
  • Sayyid Husein bin Abdullah bin Abdurrahman Basyaiban, salah satu putranya bernama Sayyid Azhar bin Husein bin Abdullah di daerah pesisir selatan Jawa Timur. Dari Sayyid Azhar bin Husein bin Abdullah Basyaiban mempunyai salah satu putra bernama Syahroni bin Azhar bin Husein Basyaiban ini, kebanyakan keturunannya memasturkan diri dengan memakai nama-nama Jawa dan hanya dari keluarganya saja yang tahu, tujuan beliau memasturkan diri untuk berdakwah dan bersosialisasi dengan penduduk setempat.
  • Sayyid 'Abdurrahman Tajuddin bin 'Umar Basyaiban pada akhirnya kembali ke Hadhramaut dan wafat disana.

Peran Basyaiban Pada Masa Penjajahan 

Hal yang paling umum dan menjadi salah satu keunggulan Atau ciri khas keluarga Basyaiban di Nusantara ini adalah secara persebaran Nasabnya mudah dilacak, karena bila kita yang orang awam bertanya tentang seseorang bermarga Basyaiban hal yang akan ditanyakan oleh mereka adalah Basyaiban dari jalur mana? secara wilayah adalah empat wilayah yaitu Sumatera (Aceh, Medan, & Palembang), Utara Jawa (Pekalongan, Sidosermo Surabaya, Jombang, dan Pasuruan), Selatan Jawa (Magelang, Kebumen, Pacitan, dan Trenggalek) dan ujung timur jawa (Banyuwangi, Jember, dan Situbondo) dan yang Masyhur ada 4 Jalur datuk Basyaiban Yaitu Ali Akbar, Abdul Wahab, Hasan dan Muhammad Bagir (keempatnya adalah putra dari Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban) maka ketika jalur yg sudah ditanyakan sudah jelas, maka akan mudah bagi kita untuk mendapatkan jawaban kebenaran atau kesohihan nasab seseorang bermarga Basyaiban yang kita tanyakan. Karena hampir sebagian besar dari keluarga Basyaiban yang Masyhur ini saling mengenal satu sama lain di seluruh Nusantara, kecuali yang Mastur dari keturunan Ahmad, Abdulrahman, dan Muhammad, sebab keluarga Basyaiban yang mastur ini bertujuan untuk niat dakwah tanpa sekat.

Pesan Sayyid Abdulrahman bin Umar Basyaiban saat menasehati putra-putranya agar menanggalkan Jubah dan panggilan Habibnya dengan panggilan sesuai masyarakat Jawa umumnya, agar masyarakat tidak merasa canggung dan sungkan saat menuntut ilmu dan bersosialisasi. Banyak keturunan dari Sayyid Abdulrahman tidak menggunakan nama-nama habaib umumnya malah dengan nama-nama Jawa dan Indonesia. Hanya keluarganya saja yang tahu, biasanya akan diberi tahu setelah umur 40 tahun atau melalui mimpi bertemu dengan datuknya.

Keluarga Basyaiban juga merupakan Keluarga Alawiyin yang awal datang di Nusantara, dan yang menyebarkan keturunannya salah satunya adalah Sayyid Abdurrahman Tajudin bin Umar Basyaiban yang menikah dengan salah satu anak keturunan dari Sunan gunung jati (bukan keturunan langsung).

Mereka menyebarkan syiar Islam secara Damai dan mudah membaur dengan Pribumi. Keluarga ini juga merupakan pejuang-pejuang tanah air yang jarang disinggung dalam sejarah Indonesia. Karakter Alawiyin mereka sangat menonjol, yaitu dimana mereka tinggal selalu membawa perubahan yang lebih baik dalam tatanan Masyarakat Indonesia dan rata-rata mereka adalah berjiwa pemimpin, sehingga di Zaman kolonialisme belanda Keluarga yang berjiwa patriot ini menjadi buruan atau buronan pemerintah karena dianggap berbahaya. Maka untuk menyelamatkan generasi, mereka banyak yang membaur dengan pribumi dan menikahi perempuan-perempuan setempat sehingga anak keturunan mereka tak tampak seperti orang-orang Hadramaut atau arab secara fisik. Namun Soal pemberian nama mereka tetap bertabarruk kepada para leluhurnya sehingga bila kita melihat silsilah Nasab mereka akan sama dengan nasab para Alawiyyin yang lainnya, namun pada waktu perang berkecamuk keluarga basyaiban ini menggunakan dua nama sebagai Identitas, demi melindungi segenap keluarganya agar terbebas dari kejaran penjajah waktu itu. Disamping itu sebagai keluarga Alawiyyin yang mengikuti Perkawinan secara Kafa’ah, mereka menjaganya dengan menikahkan sesama sodara basyaiban yang tentu saja bukan Muhrim mengingat pada masa itu alawiyyin yang lain belum berdatangan ke Nusantara. Bahkan Keluarga ini juga bisa dikatakan introvert atau tertutup sehingga kalau anak-anak mereka bermain harus dengan sesama sodaranya demi menjaga kemurnian Akhlaknya agar jangan tercemar dengan lingkungan yang buruk. Namun demikian banyak juga keluarga Basyaiban ini yg berjuang dari dalam melalui pernikahan dengan Putri keraton atau kesultanan sehingga bergelar Raden, dan ini bukan hanya bagian dari strategi untuk menghalau penjajah tapi juga dalam rangka syiar Islam. Maka dengan demikian bisa dikatakan Keluarga Basyaiban ini merupakan salah satu pembabat alas Di Nusantara sehingga Alawiyyin lain yang banyak seperti sekarang bisa diterima di Nusantara.

Simak sejarah yg tak pernah diungkap tentang gerakan Sayyid Alwi bin Ahmad Basyaiban yg lebih dikenal dengan gelarnya Ngabei Danoeningrat I yang pada tahun 1801 Letnan Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles mengangkatnya sebagai Bupati pertama Magelang, atas petunjuk dari gurunya beliau memilih daerah antara desa Mantiasih dan desa Gelangan sebagai pusat pemerintahannya. Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun – alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid Agung Magelang. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.Hal yang lupa dicatat adalah bupati Pertama ini juga seorang alim Ulama yang segolongan dengan Pangeran Diponegoro. Dan anak keturunan beliau sekarang masih ada dan menyebar di daerah Tuguran,Meteseh dan Tumbu.

Sayyid Alwi bin Ahmad Basyaiban sebenarnya adalah pejuang yang bergerilya dari dalam pemerintahan, beliau juga sangat mendukung gerakan Pangeran Diponegoro. maka tak heran meskipun singkat namun perang Diponegoro merupakan perang yang paling banyak menguras segenap tenaga,pikiran dan materi di pihak belanda bahkan bisa dikatakan perang terbesar bagi Belanda selama menjajah Nusantara. Bisa dikatakan Sayyid Alwi Basyaiban ini adalah Intelijen yang handal di masa itu, beliau berjuang dengan strategi yang sangat cerdas sehingga penjajah pada masa itupun tidak ada yang tahu. SubhanaAlloh

Bantuan dari dalam oleh Sayyid Alwi bin Ahmad Basyaiban ini tak pernah disebut dalam sejarah, namun sejarah yang disimpan rapat oleh anak keturunannya akhirnya bisa kita dengar seperti sekarang. Termasuk pemahaman sebab adanya perang Diponegoro yang telah dipolitisir oleh penguasa jaman dulu. Perang Diponegoro adalah bentuk ketakutan Belanda pada kekuatan Islam yang menyebar di Nusantara dan salah satunya di Magelang yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan ulama-ulama lainnya. Bukan masalah sepele seperti yang sering kita baca di buku sejarah, yaitu masalah patok tanah, yang sangat janggal hanya untuk urusan seperti itu menyulut perang besar-besaran dari pihak Pangeran Diponegoro. Mungkin secara tersirat “patok” yang dimaksud adalah tonggak Agama Islam.

Wallohua’lam

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !