Kisah Seorang Waliyullah dari Singapura
Meski Singapura berpenduduk mayoritas Cina dan beragama Nasrani, namun tetap melestarikan tradisi dan peninggalan bersejarah kaum muslimin. Salah satunya, karamat seorang ulama besar yang bermukim di sana yakni Habib Nuh. Makam sufi yang berusia lebih dari seabad itu tetap terpelihara dengan baik.
Habib Nuh bin Muhammad Al Habsyi lahir di atas kapal laut pada tahun 1788 (1202 Hijriah). Orang tuanya adalah orang Hadramaut, daerah Arabia Selatan yang sekarang dikenal sebagai Yaman.
Pada waktu itu ayahanda Habib Nuh, Habib Muhammad, membuat Nazar kepada Allah SWT, bahwa jika bayi itu lahir dengan selamat, maka ia akan beri nama bayi itu "Nuh" untuk mengingat Nabi Nuh as yang membawa cahaya rahmat dalam kapalnya. Tak lama kemudian, Habib Nuh lahir dengan selamat ke dunia ini.
Habib Nuh, begitu panggilannya, datang ke Singapura dari Kedah, semenanjung Malaysia. Setelah Sir Stamford Raffles menduduki Malaysia. Ia bermukim selama 30 tahun. Namun ia tetap sering berkeliling Malaysia, kebanyakan ke Johor Baru untuk berdakwah.
Karomah-karomah Habib Nuh
Bahkan dikisahkan Habib Nuh pernah menembus hujan badai untuk menyembuhkan sakit seorang anak. Ia berjalan ke Paya Lebar dari rumahnya di Teluk Belangah. Ketika ia tiba di tempat orang tersebut, percaya atau tidak, orang tua si anak yang sakit tadi menyaksikan bahwa jubah Habib Nuh tetap kering, tidak basah, atau tanda-tanda lain layaknya orang yang kehujanan.MasyaAllah. Semoga Keberkahan selalu tercurah untuk kita semua para Pecinta WaliAllah dimana pun antum berada dari berkahnya para WaliAllah.

