Asal Usul Panggilan GUS Bagi Putra Kyai

0

 Asal Mula Panggilan Gus dan Ning untuk putra dan putri Kyai

Ketika mendengar sebutan "Gus", Kebanyakan orang akan teringat kepada "Gusdur", mantan Presiden RI ke-4, yang berlatar keluarga kiai (kyai) di suatu pesantren pada tlatah Jombang. Ya, sebutan "gus" untuk putera laki-laki dan "ning" untuk perempuan adalah "sebutan ikonik" bagi anggota keluarga kiai dalam lingkungan pesantren di Jawa. 
Oleh karena sebutan itu diberikan kepada keluarga pemimpin (ulama) Islam, maka orang bisa menyangka bahwa asal istilahnya adalah dari bahasa Arab. Namun "tidak" demikian adanya, muasal istilahnya justru dari bahasa Jawa sendiri.


Kedua sebutan itu adalah istilah akronim (singkatan). Sebutan "gus" kepanjangan istilahnya adalah "bagus", yang secara harafiah berarti : tampan, baik. Kata Misalnya, ada perkataan "bocah bagus" untuk menyebut anak laki-laki', yang tidak harus buat laki-laki yang tampan rupa.



Arti Panggilan "GUS"

Bagus dalam konteks ini bisa diarahkan kepandangannya sikap dan perilaku (kepribadian) yang baik. Kata "bagus" atau variannya "wagus" telah kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang berarti: ketampanan, tampan (untuk lelaki) (Zoetmulder, 1995: 1366). Istilah ini telah kedapatan dalam kitab Adiparwa (141), Kakawin Ramayana (17.205, 25.116-117, 36.22b), Bharatayudha (18.10), Sumanasantaka (154.2), Nagarakretagama (91.7), kidung Harsyawijaya (1.41), Kidung Sunda (1.11), Kidung Ranggalawe (10.30), Kidung Sorandaka (5.178), dsb. 
Bahwa kata "bagus" menunjuk kepada ketampanan rupa tergambar pada petikan kalimat dalam Kidung Sudhamala (4.22), yaitu "... anom abagus ripane", yang digunakan untuk mengilustrasikan fisiologis tokoh ceria Sahadewa (kini "Sadewa"). Menilik data teks tual yang menyebutnya, yakni Kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuna, yang alih aksara dan alih bahasakan pada era pemerintahan raja Balitung, terang bahwa istilah ini telah digunakan pada paro kedua abad IX Masehi. Suatu sebutan sosial yang telah "menyebarang" dan orisinal Nusantara. Ada istilah lain yang serupa dengan "Gus", namun lebih "agaliter", yaitu "guk" untuk orang laki-laki, dalam arti mas (cak, cacak).
 

Panggilan NING untuk putri Kyai  

Adapun sebutan Ning sangat mungkin berasal dari kata "ni" atau petualangannya "nini". Apabila kata "ni" ditambah dengan "Ng" menjadi "ni+ng = ning". Dalam bahasa etnik Madura, Sunda dan Betawi terdapat kata yang setupa, yaitu "neng". Secara harafiah, kata akronim "ni" dari "nini" dalam bahasa Jawa Tengajan menunjuk kepada : nenek (perempuan), wanita (digunakan dalam menunjuk atau menyapa tokoh religius atau gadis bangsawan yang belum kawin) (Zoetmulder, 2995:699). Istilah ini telah didapat dalam kitab Brahmana Purnama (137), Kakawin Bhomakawya (4.26, 6.1, 12.5), Sumanasantaka (113.7), Arjunawiwaha (13.1), Sutasoma (137.1), Parthayajnya (18.5, 18.9), Kidung Harsyawijaya (1.36).

Pada kutipan teks dalam kitab Brahmana Purnama (136) ".... Nini, kaki, putu Putut", yang merupakan salah satu sebutan untuk golongan usia tua. Bila perempuan disebuti "nini", maka untuk lelaki adalah "kaki" atau diakronimkan sebagai "ki" -- sebutan "kiai" atau "kyai" berasal dari kata "Ki" ini. Sebutan Jawa untuk istri dari kiai adalah "nyai atau nyi", yang memiliki keserupaan dengan "ni". Namun, sebutan "ni" atau "nini" tidak hanya untuk wanita tua (nenek), namun malahan sering digunakan di Jawa dan Bali untuk perempuan gadis. Bahkan kini sebutan "ning" digunakan untuk menyebut duta wisata daerah untuk dua wanitanya.
 
B. Konteks Pemakaian Sebutan "Bagus (akronim "Gus")
Dalam sistem sosial-budaya Jawa masa lalu, kata "bagus" tak hanya menjadi sapaan, namun juga masuk dalam stratifikasi sosial, khususnya strata sosial atas (bangsawan). Pada masa Kasultanan Mataram misalnya, kata "bagus" ditambahkan setelah kata grlar "Raden" menjadi "Raden Bagus (RB)" atau acap diakronimkan dengan "Den Bagus" -- bedakan dengan "den Bagus e" yang merupakan kota olok-olok untuk "tikus". Gelar ini lazim diberikan untuk keluarga ningrat Jawa yang sekaligus merupakan keluarga ulama. Demikian pula pada Masa Hindu-Buddha, sebutan "bagus" lazim diberikan kepada keluarga bangsawan. Dengan demikian terdapat adanya kesinambungan penggunaan istilah gelaran "bagus", meski konteks religis penggunanya beda (Hindu-Bydfha dan Islam).
Akronim "Gus" untuk "bagus" memang secara khusus berikan kepada orang pria dalam keluarga elit Masa Perkembangan Islam, yang acap disebut dengan "keluarga Sentono (berasal darl kata "astano" atau "sstana (istana"). Demikianlah, analogi dengan sistem sosial kebangsawanan masa lampau (Masa Hindu-Budfha) terlihat jelas dalam sistem sosial-budaya ketika masa perkembangan Islam di bhumi Jawa. Terminologi sosial untuk keluarga ulama di Jawa tak harus dicari dan dipinjam dari terminologi berbahasa Arab, melainkan dalam kebahasaan Jawa pada zamannya atau dari masa sebelumnya.
Sosio-Bydaya Islam di Jawa berkontraksi lokal (setempat), yaitu Sosio-Bydaya Jawa. Tergambar bahwa "tak ada pobia" untuk meminjam atau menggunakan unsur-unsur budaya pra-Islam (bydaya Hinfu-Byddha), dan hal itu dipandang "tak masalah", karena yangbutama adalah telah "diberi jiwa Islami'. Realitas sosio-budaya Islam di Jawa, paling tidak untuk sebagian besar pengikutnya tidak memerlukan "purifikasi" dengan membership jalannya dari unsur-unsur budaya lokal dan menggantikannya dengan unsur budaya dari Timur Tengah. Dalam contoh kasus sapaan sosial "Gus" dan "Ning" ini, dirasa tidak ada perlunya untuk menggantinya dengan sapaan yang dipinjam dari bahasa Arab, karena pada kebahasaan lokal Jawa telah tersedia sapaan untuk elit sosial yang demikian.
 
C. Sapaan sebagai Ekspresi Budaya Lokal
Ekspresi budaya bisa hadir pada apa saja. Tak terkecuali pada istilah sapaan. Dalam konteks ini, di balik sapaan ada kontes sosio-kulturalnya, termasuk konteks sosio-budaya setempat (lokal). Oleh karena sapaan "Gus dan Ning" dibetikan kepada orang, dan lebih khusus lagi kepada orang tertentu dengan latar belakang sosial (ganeologis) tertentu, yakni keluarga ulama. Ada aspal penghormatan, perhargaan dan kesantunan dalam sebutan itu. Misalnya, arti kata "bagus (diakronimkan menjadi "Gus"), yakni baik atau tampan, jelas menggambarkan aspek-aspek yang demikian. Oleh karena ada konteks lokal, maka bila sapaan ini diganti dengan istilah sapaan dari bahasa lain, maka bisa jadi malah menghilangkan konteks lokalnya, yang nota bene justru menjadi karakteristiknya. Penggantian dengan sapaan brrasal dari bahasa lain justru mendegradadi kebanggan atas khasanah budaya sendiri.
Demikianlah tulisan singkat, bersahaja dan spesifikasi ini dibuat untuk melakukan telusur kebahasaan (etimologi) terhadap sapan "Gus dan Ning" dalam sosio-linguistik Jawa. Semoga memberi kedaerahan. Nuwun.


Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !