kisahsahabat.com - Diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Ibnu Ishaq tentang khutbah Abu Bakar ash Sidiq di Saqifah Bani Sa'idah, kata Abu Bakar, "Sesungguhnya tidak sesuai dan tidak patut untuk kaum muslimin mempunyai dua orang amir. Karena jika demikian akan mengakibatkan munculnya perselisihan dalam semua urusan, kesatuan akan terpecah dan mereka akan hancur bercerai-berai. Dalam keadaan demikian, sunnah Rasulullah akan ditinggalkan, bid'ah akan merajalela, fitnah akan tersebar dan menguasai setiap lingkup ruang dan tidak seorang pun akan mendengar nasehat untuk perbaikan di kalangan mereka."
Dikleuarkan oleh al Baihaqi dari Salim bin Abid, hadtis mengenai bai'at Abu Bakar. Dalam hadits itu di katakan: Seorang lelaki Anshar berkata, "Dari kalangan (Anshar) seorang amir dan dari kalangan (Muhajirin) seorang amir."
Umar berkata, "Bagaimana mungkin dua bilah pedang dapat dimasukkan kedalam sebuah sarung pedang."
Dikeluarkan oleh ath Thabrani dari Abdullah bin Mas'ud r.a. katanya:
"Wahai manusia, hendaklah kalian senantiasa taat dan bersatu-padu dalam satu jamaah, karena sesungguhnya itu adalah tali Allah yang Dia telah memerintahkan hamba-Nya supaya berpegang kepadanya. Apa yang kamu tidak suka dalam jamaah itu adalah lebih baik daripada apa yang kamu suka dalam keadaan kamu berpecah-belah. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menciptakan sesuatu kecuali menciptakan untuknya titik noktah dimana ia akan berakhir disana. Dan sesungguhnya agama Islam telah sampai pada zaman keutuhan dan kekuatannya. Suatu saat nanti ia akan sampai juga pada penghujungnya. Di dalam tempo itu, ia akan mengalami keadaan naik dan turun hingga hati kiamat. Akhir dari yang demikian itu adalah kemiskinan dan kesusahan di mana si fakir tidak akan memperoleh orang yang akan bersedekah kepadanya dan si kaya tidak akan berpuas hati dengan apa yang dimiliknya. Keadaan menjadi bertambah buruk sehingga seorang lelaki yang fakir apabila mengadu kepada saudara lelakinya atau pun anak saudaranya, namun mereka tidak akan memberikan apa-apa kepadanya."
"Begitu juga seorang peminta sedekah akan berkeliling hingga dua kali jum'at, namun ia tidak akan menjumpai seorang pun memberikan sesuatu kepadanya. Apabila keadaan menjadi sedemikian genting, bumi akan mulai tenggelam, dan semua manusia akan melihat tanah yang dipijaknya tenggelam, kemudian bumi akan terus tenggelam sebagaimana yang dikehendaki Allah. Dan akan kembali seperti semula sebagaimana yang dikehendaki Allah. Kemudian bumi akan memuntahkan segala yang ada didalamnya."
Seorang bertanya, "Wahai ayah Abdurrahman, apakah isi bumi itu?"
Kata Abdullah bin Mas'ud, "Kepingan-kepingan emas dan perak, tetapi ketika itu tidak akan memberi manfaat hingga hari kiamat."
Haitsami mengatakan hadtis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabrani dengan sanad-sanadnya.
Dikeluarkan oleh Abnu Nuaim dalam kitab al Hilyah dari jalur Mujalid dan di dalam riwayatnya, "Hubungan silaturrahim akan terputus dan tidak akan ada yang ditakuti oleh si kaya melainkan kefakiran, dan si Fakir tidak akan mendapati seorang pun yang dapat memenuhi keperluannya. Sehingga seorang lelaki mengadu mengenai keperluannya kepada anak saudaranya yang kaya tetapi tidak memperoleh bentuan apa-apa."
Dikeluarkan oleh Ahmad dari seorang lelaki, katanya: Kami membewa sesuatu untuk dihadiahkan kepada Abu Dzar. Kami membawakannya keju, lalu kami menanyakan mengenai dirinya, tetapi gagal menemuinya. Seseorang berkata bahwa Abu Dzar telah meminta izin untuk mengerjakan haji dan ia telah diizinkan untuk melakukannya.
Kami mendatanginya di Buldah, yaitu Mina. Ketika itu kami berada di sampingnya, seseorang berkata kepadanya, "Utsman telah mengerjakan shalat empat rakaan, ia tidak menqashar shalat itu menjadi dua rakaat dalam perjalanan."
Berita itu menyebabkan Abu Dzar sedih lalu berkata, "Aku telah mengerjakan shalat bersama Rasulullah dan beliau shalat dua rakaat. Aku juga mengerjakan shalat bersama Abu Bakar dan Umar r. hum."
Kemudian Abu Dzar bangun lalu shalat sebanyak empat rakaat. Seorang berkata kepadanya, "Engkau telah mencela perbuatan Amirul Mukminin (Utsman) kemudian melakukan perbuatan yang sama dengannya."
Abu Dzar berkata, "Perselisihan dengan khalifah merupakan perkara yang berat. Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda kepada kami di dalam khutbahnya, 'Akan terjadi setelahku, suatu pemerintahan oleh amir, maka janganlah kamu durhaka kepadanya karena barangsiapa yang berniat menghinanya, maka sesungguhnya ia telah mencabut tali Islam dari lehernya, taubatnya tidak akan diterima kecuali apabila ia memperbaiki kesalahannya, berbaiat kepada amirnya lagi dan menjadi orang yang mendukungnya dan membantunya.' Rasulullah telah memerintahkan kami untuk melakukan tiga hal:
1. Hendaklah mengajak manusia kepada kebaikan
2. Menceegah kemungkaran
3. Mengajarkan manusia sunnah-sunnahnya.
Dikeluarkan oleh Abdurrazaq dari Qatadah r.a. bahwa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, pada awal kekhalifahannya mereka telah mengerjakan shalat qashar dua rakaat di Makkan dan Mina, kemudian Utsman mengerjakannya sebanyak dua rakaat.
Ketika Ibnu Mas'ud diberitahu mengenai hal itu, ia berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un."
Kemudian ia bangun dan mengerjakan shalat empat rakaat. Seseorang bertanya kepadanya, "Engkau telah mengucapkan Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji'un, tetapi mengapa mengerjakan shalat empat rakaat?"
Ia menjawab, "Perselisihan dengan khalifah adalah satu kemungkaran."
Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Ubaid dalam kitab al Amwad dan al Ashbahani dalam kitab al Hujjah, dari Ali r.a. katanya, "Putuskanlah sebagaimana yang telah kamu putuskan, karena sesungguhnya aku tidak suka perselilsihan hingga menyebabkan orang banyak terpecah belah. Aku akan mati sebagaimana sahabat-sahabatku mati."
Ibnu Sirrin mengatakan bahwa riwayat yang menyebutkan penentangan Ali terhadap keputusan khalifah-khaliofah sebelumnya adalah dusta.
Dikeluarkan oleh al Askari dari Salim bin Qais al Amri, katanya bahwa Ibnu al Kiwa bertanya kepada Ali mengenai sunnah, bid'ah, jamaah, dan perpecahan. Ali menjawab, "Wahai Ibnu Kiwa, engkau telah menghafal permasalahan dan hendaklah engkaku memahami jawabannya juga. Demi Allah, sunnah adalah sunnah Muahammad, dan Bid'ah adalah apa yang terpisah dari sunnah itu. Demi Allah, jamaah adalah perkumpulan semua ahli haq walaupun jumlahnya sedikit. Perpecahan adalah perkumpulan ahli bathil walaupun jumlah mereka banyak.

