Amr bin Jamuh adalah seorang tokoh di Madinah pada zaman jahiliyyah. Ia adalah penghulu Bani Salimah al Musawwad, seorang dermawan dan berpengaruh di kalangan mereka. Salah satu cara memuliakannya pada masa jahiliyyah adalah setiap akan menyimpan berhalanya di rumah masing-masing. Mereka lalu mengambil berkah dari berhala itu pada waktu pagi dan petang . Mereka akan menyembelih qurban untuk berhala itu setiap musim haji dan mereka akan memohon perllindungan dengannya apabila ditimpa musibah. Adapun berhala Amr bin Jamuh itu di beri nama Manat. Kisah ini telah diceritakan pada riwayat sebelumnya.
Ketiga orang anak lelakinya telah memeluk Islam melalui tangan Mush'ab bin Umair. Mereka adalah Muazwwaz, Muadz dan Khallad.
Setelah manisnya Iman dan Islam menjalar pada tubuhnya. Ia sering menggigit jarinya menyesali waktu-waktu yang dihabiskan dalam Kesyirikan. Lalu ia menyerah dan mengorbankan apa saja yang dimilikinya; jasadnya, ruhnya, hartanya dan anak-anaknya di jalan Allah demi menaati Allah dan Rasul-Nya. Maka ketika tiba kesempatan berperang pada perang Uhud, ia sangat bergairah untuk menyertai Rasulullah dalam perang itu.
Ia melihat ketiga anaknya telah bersiap-siap untuk menyertai Rasulullah dalam perang itu. Ia melihat kegairahan anak-anaknya itu bagaikan singa yang penuh keberanian untuk berjuang di jalan Allah. Mereka sangat bergairah dan merindukan syahid dan kemenangan dengan keridhaan Allah. Karena semua itu bergejolak dalam jiwanya dan keinginannya sedemikian rupa, ia berazam akan keluar bersama mereka dalam jihad dibawah panji Rasulullah.
Ia adalah lelaki tua yang telah dimakan usia, lagi pula ia pincang dan Allah telah memberikan keuzuran dan keringanan untuk tidak menyertai perang mana pun.
Anak lelakinya berkata kepadanya, "Wahai ayah, sesungguhnya Allah telah memberikan keuzuran kepada ayah untuk tidak ikut perang. Maka janganlah ayah memberatkan diri atas keringanan yang telah diberikan Allah.
Amr sangat marah mendengar perkataan anaknya itu, lalu ia pergi menemui Rasulullah dan mengadukan perkataan anaknya itu. Ia berkata kepada Rasulullah, "Yaa Nabi Allah, sesungguhnya anak-anak lelaki ku telah mencegahku dari kebaikan ini dan mereka menjadikan kepincanganku ini sebagai alasan agar aku tidak pergi menyertai mereka. Demi Allah, sesungguhnya aku mau berjalan dengan kaki yang pincang ini di dalam jannah.
Rasulullah bersabda kepada anak lelakinya, "Barangkalli Allah memberikan kesyahidan kepadanya."
Maka mereka pun membiarkan Amr menunaikan keinginannya semata-mata menaati perintah Rasulullah.
Ketika saatnya hampir tiba untuk pergi ke Uhud, ia berdoa sebelum melangkah keluar dari rumahnya dengan mengadahkan kedua telapak tangannya ke langit."
"Yaa Allah berikanlah kepadaku kesyahidan dan jangan kembalikan aku kepada ahli keluarga dengan kekalahan."
Kemudian ia menyetai anak-anaknya dan orang-orang dari kalangan Bani Salimah.
Ketika api peperangan semakin bergeolak dan orang-orang terpisah dari Rasulullah. Amr menyerbu masuk di antara mereka yang berada di barisan depan, berhadapan dengan musuh dan berjuang dengan menggunakan sebelah kakinya yang tidak cacat sambil berkata, "Sesungguhnya aku merindukan jannah, sesungguhnya aku merindukan jannah."
Ketika itu dibelakangnya ada anak lelakinya yang bernama Khallad. Keduanya terus berjuang hingga syahid di medan perang Uhud. Keduanya terbunuh dalam waktu yang hampir bersamaan dalam barisan yang sama."
Setelah perang usai, dan Rasulullah hendak menguburkan jenazah para syuhada, Rasulullah berkata kepada sahabatnya, "Kebumikan mereka dengan darah-darah dan luka mereka, karena semuanya telah syahid. Barangsiapa yang cidera di jalan Allah, akan dibangunkan pada hari kiamat dengan darah itu, warnanya warna za'faran dan baunya seperti kasturi."
Kemudian Rasulullah bersabda, "Kebumikanlah Amr bin al Jamuh dengan Abdullah bin AMr, kerana keduanya saling mengasihi dan bersama-sama dalam kehidupan dunia."
Bersambung...
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
