Menafkahkan Harta
Dorongan Nabi
untuk Menafkahkan Harta
Dikeluarkan oleh Muslim dan an Nasa’I serta yang lainnya
dari jarir r.a., katanya: Kami sedang bersama Rasulullah pada dini hari,
tiba-tiba datanglah sekumpulan orang yang tidak berpakaian dengan sempurna,
telanjang kaki, pakai
an mereka dari kain kapas yang berjalur-jalur dan
menyelendang pedang. Hampir seluruhnya adalah dari Bani Mudhar. Melihat
kefakiran mereka itu, wajah Rasulullah berubah, kemudian baginda Nabi masuk kedalam rumahnya dan memerintahkan
Bilal r.a. agar mengumandangkan adzan dan setelah mengerjakan shalat Ashar,
baginda pun bangun member khutbah dan membaca ayat berikut ini:
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah
menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya;
dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta
satu sama lain, dan peliharalah hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. An Nisaa:
1)
Rasulullah juga membaca ayat berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah , sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)
Kemudian Rasulullah bersabeda, “Hendaklah seseorang itu
menafkahkan uang dinar dan dirhamnya, pakaiannya, secupuk gandum ataupun buah
kurma walalupun hanya sepotong buanh kurma.”
Maka datanglah seorang lelaki Anshar dengan membawa kantung
yang sarat dengan isinya sehingga ia hamper menarik telapak tangannya akibat
beratnya kantung itu. Kemudian datanglah seorang demi seorang sehingga aku
melihat dua gundukan yang terdiri dari makanan dan pakaian. Aku melihat wajah
Rasulullah bercahaya seperti cahaya benda yang dicelup dengan emas.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengadakan perbaikan
dalam Islam maka dia akan memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang yang
beramal dengannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun ganjaran mereka.
Barangsiapa yang mengadakan keburukan dalam Islam, ia akan memperoleh dosanya
dan dosa orang yang ikut beramal dengannya tanpa mengurangi walaupun sedikit dari dosa-dosa mereka.”
Sebagaimana dalam at Targhib. Telah berlalu hadits tentang
dorongan Nabi untuk mengorbankan harta dijalan Allah.
Dikeluarkan oleh al Hakim dan dishahihkan dari Jabir r.a.,
katanya: Bani Amru bin Auf dating menemui Rasulullah pada hari Rabu, maka
dinyatakan hadits, bahwa Rasulullah bersabda pada mereka, “Wahai orang-orang
Anshar!”
Mereka menjawab, “Labbaik ya Rasulullah!”
Baginda pun meneruskan kata-katanya, “Semasa Jahiliyyah,
ketika kamu tidak menyembah Allah, kamu sering member makan janda-janda, menggunakan harta bendamu
dengan cara yang makruf dan membantu orang-orang yang mengalami kesusahan dalam
perjalanan. Lalu Allah mengaruniakan kamu agama Islam dan Nabi-Nya, namun kamu
mulai berlaku kikir dengan harta bendamu dengan membangun tembok-tembok di
kebun kebun kamu. Padahal apa saja yang dimakan oleh manusia, binatang buas dan burung, semuanya mendatangkan
ganjaran jika itu datang dari harta bendamu.”
Mereka pun pulang ke tempat masing-masing, tiada seorang pun
dari mereka yang telah membangun tiga puluh pintu masuk ke kebun mereka yang
tidak memusnahkan pintu-pintu itu supaya orang-orang mudah datang ke kebun
mereka. (At Targhib)
Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Anas r.a. katanya: Inilah
khutbah yang paling awal dilakukan Rasulullah. Rasulullah menaiki mimbar,
memuji Allah kemudian berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memilih
Islam sebagai agamamu. Oleh karena itu hedaklah kamu menjalin hubungan yang
baik diantara sesame pemeluk Islam
dengan bersikap pemurah dan berakhlak baik. Ketahuilah! Sesungguhnyasifat
pemurah itu adalah sebatang pohon di dalam taman surga dan ranting-rantingnya
berjuntai kedunia. Maka barangsiapa diantara kamu bergelayut kepada ranting itu
hingga Allah memasukkan kedalam . Ketahuilah! Sesungguhnya sifat kikir itu
adalah sebatang pohon di dalam neraka dan ranting-rantingnya menjuntai di
dunia, maka barangsiapa yang kikir maka ia senantiasa bergelayut kepada
ranting-ranting itu hingga Allah memasukkannya kedalam neraka. (Rasulullah
berkata demikian sabanyak dua kali).
Berlaku pemurahlah semata-mata karena Allah, berlaku pemurahlah semata-mata
karena Allah.” (Kanzul Ummal).

