Umar Mendorong Untuk Jihad
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath Thabari (4/61) dari al Qasim bin Muhammad, katanya: Mutsanna bin Harksah berkata, “Wahai manusia, janganlah kalian merasa keberatan dengan tempat yang akan dituju ini (Persia).
Sesungguhnya kita telah berhasil menguasai beberapa wilayah yang subur di negeri Persia. Dan kita telah mengalahkan mereka dalam memperebutkan dua wilayah Irak yang berisi kota-kota dan perkebunan. Kita telah membagi wilayah separuh untuk kita dan separuh untuk mereka. Kita juga telah memojokkan mereka dan orang-orang di antara kita juga berani terhadap mereka. Dan Insya Allah,. apa yang sesudah itu akan menjadi milik kita.”
Sesungguhnya kita telah berhasil menguasai beberapa wilayah yang subur di negeri Persia. Dan kita telah mengalahkan mereka dalam memperebutkan dua wilayah Irak yang berisi kota-kota dan perkebunan. Kita telah membagi wilayah separuh untuk kita dan separuh untuk mereka. Kita juga telah memojokkan mereka dan orang-orang di antara kita juga berani terhadap mereka. Dan Insya Allah,. apa yang sesudah itu akan menjadi milik kita.”
Maka Umar bangun dan berkata, “Sesungguhnya tanah Hijaz bukanlah tempat untuk kalian tinggal, itu hanyalah sekadar tempat untuk mencari rerumputan di daerah yang berhujan, dan penduduknya tidak akan kuat tinggal di sana kecuali dengan hal itu. Di manakah para pasukan penyergap dari kalangan Muhajirin terhadap apa yang dijanjikan Allah? Berjalanlah kalian di atas tanah yang telah dijanjikan Allah dalam al Kitab (al Qurán) bahwa kamu akan mewarisinya, karena Dia telah berfirman, ‘Agar Dia memenangkannya (agama Islam) di atas semua agama.”
“Dan Allahlah yang memenangkan agama-Nya, memuliakan orang yang menolong agama-Nya, menguasakan pemeluknya di atas warisan Semua umat, di manakah hamba-hamba Allah yang shalih?”
Yang pertama menyambut seruan ini adalah Abu Ubaid bin Masud, kemudian Sa’d bin Ubaid atau Salith bin Qais r.hum. Ketika tentara-tentara itu telah berkumpul, seseorang berkata kepada Umar r.a., “Angkatlah seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin dan Anshar sebagai pinipinan mer eka.”
Kata Umar, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan itu. Sesungguhnya Allah memuliakan seseorang di antara kalian dengan kesegeraannya bangkit menghadapi musuh. Jika kalian merasa takut dan keberatan bertemu dengan musuh, maka orang yang paling berhak memegang jabatan itu adalah orang yang lebih dulu menghadapi musuh dan menjawab seruan ini. Demi Allah, aku akan mengangkat amir untuk mereka dan orang yang terlebih dahulu menyambut seruan ini.”
Kemudian Umar memanggil Abu Ubaid, Salith dan Sa’d r.hum. Ia berkata kepada Salith dan Sa’d, “Seandainya kalian berdua mendahului Abu Ubaid dalam menyambut seruanku, pasti aku akan mengangkat kamu berdua untuk memimpin tentara ini, dan dengan sikap itu kamu berdua pasti akan mencapai derajat orang yang terdahulu dalam kebaikan.”
Kemudian Umar mengangkat Abu Ubaid sebagai amir dan berkata kepadanya, “Dengarkan para sahabat Nabi saw. dan berundinglah dengan mereka dalam setiap urusan. Janganlah kamu tergesa-gesa memutuskan masalah, sehingga menjadi jelas bagimu, karena ini adalah perang. Sedangkan perang tidak bisa dilakukan dengan baik, kecuali oleh seorang lelaki yang teguh lagi tenang, yang tahu mengambil kesempatan (untuk menyerang) dan bagaimana menahan diri (untuk tidak rnenyerang).”
Diriwayatkan oleh ath Thabari (4/61.) juga dari jalur asy Sya’bi, dan dalam haditsnya dinukilkan:
Maka disarankan kepada Umar r.a., “Jadikanlah seorang lelaki yang pernah bersahabat dengan Nabi sebagai amir.”
Umar berkata, “Sesungguhnya kelebihan sahabat adalah karena mereka bersegera untuk berhadapan dengan musuh dan kemampuañ mereka, yang mençukupi dan orang yang enggan. Jika suatu kaum melakukan perbuatan yang para sahabat lakukan, sedang para sahabat sendiri berat untuk berangkat, maka orang-orang yang berangkat, baik dalam keadaan ringan atau. berat, adalah lebih layak untuk menjadi amir. Demi Allah, aku tidak akan mengangkat amir bagi mereka selain orang yang mula-mula menyambut seruan ini.” -.
Maka Umar mengangkat Abu Ubaid sebagai amir dan memberi wasiat kepadanya berkaitan dengan tentara-tentara itu.
Diriwayatkan oleh ath Thabari (4/83) juga dari Umar bin Abdul Azis, katanya Ketika berita terbunuhnya Abu Ubaidah bin Masud r.a. dan bersatunya penduduk Persia di bawah kepemimpinan seorang laki-laki keluarga Kisra telah sampai kepada Umar r. a., maka ia menyeru di tengah kaum Muhajirin dan Anshar, lalu berangkat sampai tiba di Shirar (Nama tempat di dekat Madiriah, itu adalah mata air yang digali pada masa jahiliyah di dekat jalan menuju Irak).” Ia menyuruh Thalhah bin Ubaidullah maju di barisan depan hingga sampai di al A’wash. Ia menempatkan Abdurrahman bin Auf di sayap kanan dan Zubair bin al Awwam di sayap kin, serta mengangkat Ali r.a untuk menjaga Madinah dan segala urusan yang berkaitan dengannya. Ia meminta saran kepada orang banyak, dan semuanya menyarankan agar Ia bergerak ke Persia.
Belum sempat Umar r.a. meminta pendápat para sahabat, Thalhah sudah kembali. Kemudian Umar r.a. berunding dengan ahli syuranya, dan Thalhah setuju dengan pendapat mereka itu.
Abdurrahman termasuk di antara mereka yang menahan kepergian Umar bersama tentara Islam itu Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku tidak pernah bersumpah dengan menjadikan ‘ibu dan bapakku sebagai tebusan untuk seorang pun, sebelum hari ini maupun sesudahnya, sedang hari ini aku berkata, ‘Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu! Jadikan akhir urusannya pada diriku dan tinggallah engkau. Kirimkan saja pasukan, karena aku telah melihat keputusan Allah atas pasukanmu, sebelum maupun sesudahnya. Maka jika pasukanmu dihancurkan, itu tidak berakibat seperti kehancuranmu. Dan jika kamu dibunuh atau dihancurkan dari mula pertama, aku khawatir selamanya bumi muslimin tidak akan bisa bertakbir dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.”
Sementara ia tengah mencari-cari orang yang akan diangkat sebagai pinipinan, datanglah surat Sa’d di tengah proses musyawarah mereka. Sa’d sendiri sedang bertugas membawa zakat dari Najd.
Umar berkata, “Berikan usulan kepadaku mengenai lelaki yang pantas menjadi amir bagi tentara Islam ini.”
Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku telah menemukannya.”
Umar bertanya, “Siapa dia?”
Abdurrahman menjawab, “Ia bagaikan seekor singa dengan kuku kukunya, yaitu Sa’d bin Malik.”
Maka para ahli syura seluruhnya menyetujui pendapat Abdurrahman itu.
