Abu Bakar R.a. Memerangi Orang-Orang Murtad dan Yang Enggan Membayar Zakat
Diriwayatkan oleh Khatib melalui para rawi Imam Malik, dan lbnu Umar r.hum, katanya: Ketika Nabi saw. wafat, kemunafikan merajalela di Madinah, kabilah-kabilah Arab di sekitar Madinah banyak yang murtad, orang-orang Ajam mengumumkan perang, memberikan ancaman, dan mengancam kota Nihawand.’
Mereka berkata, “Sesungguhnya lelaki yang menyebabkan orang orang Arab mendapat pertolongan, sekarang telah wafat.”Abu Bakar kemudian mengumpulan para sahabat Muhajinin dan Anshar, laluberkata, “Sesungguhnya orang-orang Arab itu tidak mau memberikan zakat kambing dan unta mereka. Mereka juga telah kembali kepada agama asal mereka. Sedang orang-orang Ajam telah mengancam kota Nihawand dan akan berkumpul untuk menyerang kalian. Mereka mengatakan bahwa lelaki (Rasulullah) yang menyebabkan kalian mendapatkan pertolongan, sekarang telah wafat. Maka berikanlah pendapat kalian kepadaku, karena tiadalah aku melainkan hanya seorang lelaki biasa di kalangan kalian. Aku mempunyai tanggung jawab yang paling berat di antara kalian dalam musibah ini.”
Kemudian Umar r.a. berkata, “Aku berpendapat, Demi Allah, wahai khalifah Rasulullah! Engkau terima saja shalat yang dilakukan orang-orang Arab itu dan membiarkan mereka tidak membayar zakat karena mereka baru saja memeluk agama Islam dan meninggalkan zaman jahiliyah mereka. Ke-Islaman mereka belum kokoh dalam jiwa mereka. Maka bisa jadi Allah memberikan kebaikan kembali kepada mereka, atau Allah akan menguatkan agama Islam sehingga kita mampu memerangi mereka. Karena sisa orang Muhajirin dan Anshar saat ini tidak mampu untuk memerangi orang-orang Arab dan Ajam seluruhnya.”
Kemudian Abu Bakar berpaling ke arah Utsman r. a:. Utsman pun berkata seperti yang dikatakan oleh Umar r.a.. Demikian juga Ali r.a. dan para sahabat Muhajirin lainnya. Kemudian Abu Bakar menoleh ke arah orang orang Anshar. Dan orang-orang Anshar pun mengikuti pendapat orang orang Muhajirin itu.
Ketika Abu Bakar.melihat keadaan ini, beliau menaiki mimbar, memuji Allah dan berkata, “Amma ba’du! Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad saw., sedang kebenaran saat itu amat sedikit dan terbuang. Begitu pula Islam, dia da1am keadaan asing dan terbuang, tali Islam dalam keadaan lemah, dan pengikutnya sedikit jumlahnya. Kemudian Allah Swt. mengumpulkan mereka dengan perantaraan Muhammad saw. dan menjadikan mereka satu umat yang kekal dan terbaik. Demi Allah! Aku tidak akan berhenti untuk menegakkan perintah Allah dan berjihad di jalan Allah, Sehingga Allah menunaikan dan melaksanakan janji-Nya, sehingga orang-orang yang terbunuh dan kalangan kita terbunuh sebagai syahid dan dimasukkan ke dalam.Jannah, sedang orang-orang yang hidup akan dijadikan-Nya khalifah di muka bumi ini dan pewaris atas penyembahan kepada yang hak. Karena Allah telah berfirman dan tidak akan mungkir dengan firmanya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa & bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan o’rang-orang yang sebelum mereka berkuasa.”
(QS. an Nuur ayat 55)
Demi Allah, jika mereka hanya membayar zakat unta tanpa talinya, tidak dengan keduanya sebagaimana mereka membayarkannya pada zaman Rasulullah saw., kemudian pohon, tanah, jin dan manusia membantu mereka, niscaya aku akan berjihad atas mereka hingga rohku kembali kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak memisahkan antara shalat dan zakat, kemudian menyatukannya lagi.”
Maka Umar pun bertakbir dan berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui, Demi Allah, ketika Allah memberikan ketegasan kepada Abu Bakar untuk memerangi mereka, bahwa ini adalah hak.” (Kanzul Ummal [3/142])
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Shalih bin Kaisan, katanya: Ketika kemurtadan banyak terjadi, Abu Bakar bangkit untuk berkhutbah kepada orang banyak. Ia memuji Allah dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk, lalu melindungi, dan memberi lalu mencukupi. Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad ketika ilmu tiada memiliki tempat, Islam dalam keadaaan terasing, talinya dalam keadaan kendur, masanya telah begitu lama (kuno), pengikutnya telah tersesat darinya, dan Allah sangat murka kepada ahli kitab sehingga Dia tidak mengaruniakan kebaikan kepada mereka walaupun di sisi mereka ada kebaikan. Begitu pula Allah tidak mengangkat kejahatan dari mereka walaupun ada kejahatan di tengah mereka. Mereka telah mengubah kitab mereka dan menambahkan apa yang tidak ada di dalamnya. Sementara orang-orang Arab dalam keadaan. kosong dan Allah, tidak menyembah-Nya dan tidak ber’doa kepadaN ya. Mereka adalah kaum yang mempunyai kehidupan yang paling susah dan agama yang paling sesat di atas bumi yang kering tandus. Kemudian Allah menyatukan mereka dengan perantaraan Muhammad saw. dan para sahabatnya. Dia menjadikan mereka umat terbaik, menolong mereka dengan perantaraan orang-orang yang mengikuti mereka, dan menolong mereka atas orang-orang lain, sampai Allah mengambil nyawa Nabi-Nya saw.. Kemudian syetan menempati posisi beliau yang telah Allah turunkan, menggandeng tangan-tangan mereka, dan berusaha menghacurkan mereka. Allah telah menyelamatkan sebagian dari mereka dengan firman-Nya:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran ayat 144)
“Sesungguhnya orang-orang Arab di sekitar kalian enggan membayar zakat kambing dan unta mereka. Dan belum pernah mereka menjadi lebih taat dalam agama Islam — meskipun mereka kembali kepada Islam — orangyang tidak peduli seperti pada hari ini. Dan juga belum pernah kalian menjadi lebih kuat dalam agama Islam, seperti pada hari ini, meskipun kalian kehilangan berkah Nabi kalian saiv.. Sesungguhnya beliau telah menyerahkan kalian kepada al Kafi al Awwal (Yang Maha Mencukupi, Yang Pertama), yang telah menemui beliau dalam keadaan sesat, kemudian Dia memberinya petunjuk. Allah telah menemuinya dalam keadaan miskin, lalu Allah mencukupinya. Sedang kalian pada masa itu berada di bibir jurang neraka, lalu Dia telah menyelamatkan kalian darinya.
Demi Allah, aku sama sekali tidak akan meninggalkan perang Demi menegakkan perintah Allah, hingga Allah menunaikan dan melaksanakan janji-Nya kepada kita, dan orang yang terbunuh dari kalangan kita terbunuh sebagai syahid dan tergolong ke dalam penghuni Jannah, dan orang yang masih tersisa di antara kita dijadikan khalifah-Nya dan pewaris bumi-Nya. Allah telah menetapkan yang hak dan firman-Nya tidak mungkin dimungkiri-Nya.
‘Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, ...“
(Qs. an Nuur ayat 55)”
Kemudjan Abu Bakar r.a. turun dari mimbar.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa dalam sanadnya terdapat inqitha’ (keterputusan sanad) antara Shalih bin Kaisan dan ash Shiddiq. Akan tetapi dia menyatakan bahwa hadits itu shahih karena kefasihan lafal-lafalnya dan begitu banyak pendukungnya. Demikian tercantum dalam kitab al Kanz (juz 3, hal.142). Dan disebutkan dalam al Bidayah (juz 6, hal. 311) dan Ibnu Asakir, serupa hadits tersebut.
