Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Unais r.a. katanya: Rasulullah memanggilku dan bersabda, "Sesungguhnya telah sampai ke pengetahuanku bahwa Khalid bin Sufyan bin Nubaih al Hudzali telah mengumpulkan banyak orang untuk menyerangku. Mereka ada di Uranah (dekat Arafah), maka pergilah untuk membunuhnya."
Aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku ciri-cirinya agar aku dapat mengelinya."
Rasulullah bersabda, "Apabila kamu melihatnya, kamu akan menggigil karenanya."
Kemudian aku pun pergi kesana dengan pedang di pinggangku, sampai akhirnya aku menemukannya. Ketika itu ia berada di Uranah diantara beberapa wanita. Dia tengah mencari tempat singgah untuk mereka pada waktu ashar.
Ketika aku melihatnya, aku merasakan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, yaitu aku benar-bnar menggigil. aku pun menuju kearahnya. Aku merasa takut kalau-kalau terjadi perkelahian antara aku dan dia yang bisa melalaikanku dari mengerjakan shalat. Maka aku pun mengerjakan shalat dan kemudian berjalan kearahnya sambila memberi isyarat untuk ruku' dan sujud dengan kepalaku.
Ketika sampai di kepadanya, ia bertanya, "Siapa kamu?"
Aku menjawab, "Seorang lelaki arab yang mendengar bahwa engkau mengumpulkan orang banyak utnuk menyerang lelaki itu (Muhammad), aku datang kepadamu untuk membantu usahamu itu."
Ia menjawab, "Silahkan, aku memang telah merencanakannya."
Aku pun berjalan bersamanya beberapa saat, hingga ketika keadaan memungkinkan, aku pun memancungnya dengan pedangku sampai dia terbunuh. Kemudian aku pun pergi meninggalakannya,sementara para wanita itu menangisinya disekelillingnya.
Ketika aku tiba dihadapan Rasulullah, lalau beliau melihat kedatanganku,beliau bersabda, "Wajah inilah yang mendaptkan kemenangan."
Aku pun berkata, "Aku telah membunuhnya, wahai Rasulullah."
Kemudian Rasulullah bangun bersamaku dan memasukkan aku kedalam rumahnya. Beliau memberiku sebatang tongkat dan berkata, "Simpanlah tongkat ini, hai Abdullah bin Unais."
Aku pun keluar dari rumah Rasulullah menemui orang banyak dengan tongkat itu. Orang-orang pun bertanya kepadaku, "Tongkat apakah itu?"
Aku menjawab, "Rasulullah telah meberikannya kepadaku. Beliau memerintahkannya untuk menyimpannya."
Mereka berkata, "Mengapa kamu tidak kembali saja menemui Rasulullah dan menanyakan kepadanya mengapa beliau memberikan tongkat ini?"
Aku pun kembali menemui Rasulullah dan menanyakan persoalan ini. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau memberikan tongkat ini kepadaku?"
Rasulullah menjawab, "Ini sebagai tanda antara diriku dan kamu pada hari kiamat, karena sedikit sekali orang yang datang dengan membawa amal shalih pada hari itu."
Kemudian Abdullah menyatukan tongkat itu dengan pedangnya. Tongkat itu terus bersamanya, hingga ketika ia hampir meniggla dunia, ia mewasiatkan agar tongkat itu dikafani bersama dengan jenazahnya dan dikuburkan bersama-sama.
Demikian dalam kitab al Bidayah (juz 4, hal. 140).
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
