Perkataan Umar Mengenai Para Syuhada.
Diriwayatkan oleh al Harits dari Abul Bakhtari ath Tha’i, bahwa sekelompok orang berada di Kufah bersama Abu Mukhtar, yaitu ayah dari Mukhtar bin Abu Ubaid yang telah terbunuh dalam perang Jasr. Mereka seluruhnya telah terbunuh kecuali dua orang lelaki yang menggempur rnusuh dengan pedang mereka, sehingga Musuh terpaksa memberikan jalan dan keduanya berhasil melepaskan diri kembali ke Madinah. Diriwayatkan bahwa jumlahnya adalah tiga orang
Pada suatu hari, Umar r. a, keluar, sementara ketiga orang itu sedang duduk mengenang rekan-rekan mereka yang telah terbunuh. berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu katakan tentang
mereka?”
Mereka menjawab, “Kami telah meminta ampunan untuk mereka dan mendoakan mereka;”
Umar bertanya lagi, “Sungguh, sebaiknya kalian katakan padaku tentang apa yang telah kalian bicarakan, atau kalian akan menemui kesulitan dariku.”
Mereka menjawab, “Kami mengatakan bahwa mereka itu syuhada.”
Umar pun berkata, “Demi Dia yang tiada sesembahan selain Dia! Demi Dzat Yang mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran! Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali dengan seizin-Nya. Satu jiwa yang hidup tidak mengetahui apa yang tersedia di sisi Allah bagi jiwa yang telah mati, kecuali Nabi Allah, karena Allah telah mengampuni dosa-dosa Nabi Allah yang dahulu dan yang akan datang. Demi Dia yang tiada Tuhan selain Dia, tidak akan terjadi hari kiamat kecuali dengan izin-Nya ! Sesungguhnya ada seorang lelaki yang berperang karena ingin pamer (riya’), ada yang semata mata fanatisme golongan, ada juga yang berperang untuk mendapatkan dunia dan harta. Mereka tidak akan memperoleh apa pun di sisi Allah, kecuali apa yang mereka niatkan dalam diri mereka.”
Demikian tercantum dalam kitab Kanzul Ummal (2/292). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: Para rawinya adalah tsiqat, hanya saja hadits tersebut adalah hddits munqathi’ — selesai.
Diriwayatkan oleh Tammam dari Malik bin Aus bin al Hadatsan r.a., katanya: Kami berbincang-bincang dengan sesama kami mengenai sariyah yang mengalami musibah pada zaman Umar r.a.. Di antara kami ada yang berkata, “Bagi orang-orang yang berjuang di jalan Allah, terserah kepada Allah untuk memberikan ganjarannya.”
Yang lain berkata, “Allah akan membangkitkan mereka dalam keadaan di mana Dia mematikan mereka.”
Umar r.a. pun berkata, “Benar, demi Dia yang memegang nyawaku! Sungguh, Allah akan membangkitkan mereka dalam keadaan di mana Dia mematikan mereka (mengikuti niatnya). Sesungguhnya di kalangan manusia ada yang berperang karena riya’ dan sum’ah. Di antara mereka ada yang berperang dengan tujuan dunia. Di antara mereka ada yang tertahan oleh perang, sehingga tidak mendapat jalan untuk keluar darinya. Di antara mereka ada yang berperang dengan sabar dan mengharapkan ganjaran, maka mereka itulah para syuhada. Aku pun tidak mengetahui apakah yang bakal terjadi pada diriku dan diri kalian (setelah mati), hanya saja aku mengetahui bahwa penghuni kubur ini (Rasulullah saw.), telah diampuni dosa dosanya yang telah lalu.”
Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Masruq dikatakan: Sesungguhnya nama-nama para syuhada telah disebutkan kepada Umar r.a., maka Umar pun berkata kepada orang banyak, “Bagaimana pandangan kalian tentang para syuhada?”
Mereka menjawab, “Wahai amirul Mukminin! Mereka adalah orang yang terbunuh dalam perang itu.”
Maka Umar berkata, “Jika demikian, jumlah para syuhada akan menjadi banyak. Aku akan memberi tahu kalian mengenai hal itu. Sesungguhnya keberanian dan ketakutan adalah tabiat yang terdapat dalam diri manusia, yang diletakkan oleh Allah di mana saja Dia kehendaki. Maka orang-orang yang berani akan berjuang dari arah belakangnya (maju terus pantang mundur), tidak peduli apakah ia dapat kembali menemui isterinya atau tidak. Sementara si pengecut akan lari dari medan perang karena isterinya. Akan tetapi, seorang syahid adalah orang yang mengharapkan pahalanya dari sisi Allah. Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan yang dilarang Allah. Sedang seorang muslim adalah orang yang orang Islam lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.”
Demikian tercantum dalam kitab Kanzul Ummal (2/292).
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
