Kisah sebelumnya klik disini
Ketika Rasulullah saw. mulai duduk, maka orang-orang yang tidak menyertai- Rasulullah saw. dalam perang itu berdatangan dengan seribu macam alasan dan sumpah di hadapan Rasulullah saw.. Jumlah mereka Sekira delapan orang lebih. Rasulullah saw. menerima alasan-alasan mereka dengan melihat zhahirnya saja, sedangkan yang terkandung dalam batinnya diserahkannya kepada Allah Swt.. Beliau membaiát mereka dan memohon ampunan Allah untuk mereka.
Ketika Rasulullah saw. mulai duduk, maka orang-orang yang tidak menyertai- Rasulullah saw. dalam perang itu berdatangan dengan seribu macam alasan dan sumpah di hadapan Rasulullah saw.. Jumlah mereka Sekira delapan orang lebih. Rasulullah saw. menerima alasan-alasan mereka dengan melihat zhahirnya saja, sedangkan yang terkandung dalam batinnya diserahkannya kepada Allah Swt.. Beliau membaiát mereka dan memohon ampunan Allah untuk mereka.
Aku pun menemui Rasulullah saw.. Ketika aku memberi salam kepadanya, beliau tersenyum dengan senyuman yang biasa dilemparkan oleh orang yang sedang marah.
Beliau berkata, “Kemarilah.”
Aku datang dengan berjalan sehingga aku duduk di hadapan Rasulullah, kemudian beliau bersabda kepadaku, “Apa yang menyebabkan engkau tertinggal di belakang? Bukankah engkau telah membeli hewan kendaraan untuk perang?”
Aku pun menjawab, “Benar. Demi Allah, seandainya aku duduk di hadapan penduduk dunia selain dirimu, sudah pasti aku akan memberikan alasan untuk melepaskan diriku dan kemarahannya, karena aku telah diberi kemampuan berdebat dengan baik. Akan tetapi, demi Allah! Aku mengetahui apabila pada hati ini aku bercerita kepadamu dengan cerita dusta yang engkau percayai, maka Allah akan membuatmu murka kepadaku. Sebaliknya jika aku berkata benar dan engkau marah kepadaku, maka aku masih bisa mengharapkan ampunan Allah. Tidak, demi Allah! Sesungguhnya aku tidak mempunyai uzur apa pun. Demi Allah, belum pernah sama sekali aku merasa lebih kuat dan mudah sebagaimana keadaanku ketika aku tertinggal darimu.”
Rasulullah saw. bersabda, “Engkau telah berkata benar. Bangunlah, tunggulah hingga Allah memberikan keputusan terhadapmu.”
Maka aku pun bangun dan pergi. Beberapa lelaki dari Bani Salimah pun bangun, kemudian berloncatan mengikutiku sambil berkata, “Demi Allah! Kami tidak mengetahui bahwa engkau pemah melakukan dosa sebelum ini. Sungguh, engkau bukanlah orang yang tidak mampu untuk mengajukan alasan kepada Rasulullah saw. dengan alasan yang dikemukakan orang-orang yang tidak ikut perang itu. Padahal ampunan Rasulullah saw. untukmu cukup untuk menghapus dosamu.”
Demi Allah! Mereka tents menerus mencercaku hingga ingin rasanya aku kembali menemui Rasulullah lagi dan mengatakan bahwa tadi aku telah berbohong.
Aku bertanya kepada mereka, “Adakah orang yang keadaannya sama denganku?”
Mereka mejawab, “Ada, dua orang lelaki lain. Keduanya mengatakan semisal yang kau katakan dan sudah disarankan kepada keduanya seperti yang disarankan kepadamu.”
Aku bertanya, “Siapa mereka?”
Jawab mereka, “Murarah bin ar Rabi’ al Amri dan Hilal bin Umayyah al Waqifi.”
Mereka menyebut dua orang lelaki shalih yang telah menyertai perang Badar, yang menjadi panutan. Aku pun pergi setelah mereka menyebut kedua orang shalih itu. Secara khusus Rasulullah saw. melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga, di antara orang-orang yang tidak turut serta dalam perang Tabuk itu.
Maka orang-orang pun menjauhi kami dan berubah sikap terhadap kami sehingga sampai bumi terasa berubah bagiku, seolah ia tidak sebagaimana yang telah kukenal. Kami terus menerus dalam keadaan iniselama lima puluh hari.
Sementara kedua orang sahabatku itu merasa begitu hina dan terus menangis di rumahnya masing-masing. Sedangkan aku adalah yang termuda dan terkuat di antara kami bertiga. Maka aku masih tetap melakukan shalat berjamaah bersama kaum muslimin, aku juga berkeliling di pasar walaupun tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara. Aku pun mendatangi Rasulullah saw. dan memberi salam kepadanya, ketika Rasulullah saw. masih duduk di tempatnya setelah mengerjakan shalat.
Aku berkata pada diriku sendiri, “Apakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku ataukah tidak?”
Kemudian aku shalat berdekatan dengan Rasulullah saw. dan aku mencuri pandang ke arahnya. Bila aku menghadap ke arah shalatku, maka beliau menghadap ke arahku. Namun bila aku menoleh ke arah beliau, maka beliau berpaling dariku.
Setelah ketidak pedulian orang banyak itu berlangsung cukup lama, makà aku pun berjalan dan memanjat tembok kebun Abu Qatadah untuk keluar dari sana — ia adalah kemenakanku dan seorang yang paling aku sayangi — lalu kuberikan salam kepadanya. Tapi demi Allah, ia tidak membalas salamku.
Aku berkata kepadanya, “Hai Abu Qatadah! Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau mengetahui bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Namun Abu Qatadah tetap bungkam. Aku pun mengulanginya dan bersumpah kepadanya. Namun ia tetap diam. Lalu aku mengulanginya dan bersumpah kepadanya. Kemudian ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
- Saat mendengar ucapannya itu, tak terasa air mataku berlinang, lalu aku pun berpaling hingga aku menaiki tembok kebun.
Suatu hari ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani dari Syam, yang sedang menjual bahan makanan di Madinah. Ia berkata, “Siapa yang bisa menunjukkan aku kepada Ka’b bin Malik?”
Maka orang-orang menunjukkannya kepadaku. Ketika telah sampai di depanku, ia menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari raja Ghassan (Jabalah bin al Aiham) yang terbungkus sehelai sutera. Dan yang tertulis di dalamnya adalah: “Amma ba’du! Sesungguhnya telah sampai ke pengetahuanku bahwa sahabatmu (Rasulullah saw.) telah menyakitimu. Dan Allah tidak akan meletakkanmu di negeri yang hina dan yang menyebabkan hilangnya hak-hakmu. Oleh karena itu bergabunglah bersama kami, kami akan memberikan perlindngan kepadamu.”
Maksudnya agar Ka’b bin Malik meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen.
Bersambung......
Kisah selanjutnya klik disini
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
