Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dari Anas r.a., katanya: Abu Musa r.a. telah mengutusku untuk membawa kabar gembira mengenai keberhasilan penaklukan negeri Tustar — sebuah kota besar di Khuzastan — kepada Khalifah Umar r.a.. Maka ia bertanya kepadaku — sedang enam orang dari Bani Bakar bin Wa’il telah murtad dari Islam dan bergabung dengan orang-orang musyrik — ia berkata, “Bagaimana kabar enam orang lelaki dari Bani Bakar bin Wa’il itu?”
Aku berkata. “Wahai Amirul Mu’minin. mereka adalah suatu kaum yang telah murtad dari agama Islam dan bergabung dengan kaum musyrikin, tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali dibunuh.”
Umar r. a. berkata, “Jika kita dapat menawan mereka dengan selamat, itu lebih kusukai daripada emas dan perak yang disinari oleh matahari.”
Aku bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, apa yang akan engkau lakukan jika engkau berhasil menangkap mereka?”
Umar r.a. berkata, “Aku menawarkan kepada mereka pintu yang mereka telah keluar darinya (maksudnya pintu agama Islam, supaya mereka mau memeluk Islam kembali) agar mereka masuk kembali ke dalamnya. Jika mereka melakukan hal itu, maka aku akan menerima mereka. Sebaliknya jika mereka menolak, maka penjaralah termpat untuk mereka.”
Demikian terdapat dalam kitab a? Kanz a? Ummal (juz 1, hal. 79). Juga diriwayatkan oleh al Baihaqi (juz 8, hal. 204) dengan makna sama.
Diriwayatkan oleh Imam Malik, Syafi’i, Abdur Razzaq, dan Abu Ubaid di dalam kitab al Gharib serta Baihaqi dari Abdur Rahman al Qari, katanya:
Seorang lelaki utusan Abu Musa r.a. menemui Umar bin al Khaththab r.a., kemudian Umar bertanya kepadanya mengenai hal ihwal orang banyak. Lelaki itu pun memberitahukannya. Umar r.a. bertanya lagi kepada lelaki itu, “Ada kabar baru dan negeri jauh?”
Lelaki itu menjawab, “Ya, ada seorang lelaki menjadi kafir lagi setelah memeluk Islam.”
Kata Umar r.a., “Apakah yang kamu lakukan terhadapnya?”
“Kami telah memenggal kepalanya,” jawab orang itu.
Umar r. a. bertanya kembali, “Apakah kamu telah menahannya selama tiga hari, memberinya roti selama tiga hari, dan memintanya supaya bertaubat, agar ia mau bertaubat dan kembali kepada perintah Allah? Ya Allah, sesungguhnya aku tidak hadir (ketika itu), tidak memerintahkannya, dan tidak ridha atas apa yang mereka lakukan bila kabar itu sampai kepadaku sebelumnya.”
Di dalam riwayat Musaddad dan Ibnu Abdul Hakam, dan Amr bin Syu’aib, dan ayahnya, dan kakeknya, katanya, “Amr bin al Ash r. a. telah menulis kepada Umar r.a. menanyakan rnengenai seorang lelaki yang telah memeluk agama Islam kemudian kufur. kembali, kemudian memeluk agama Islam lagi dan kufur kembali, hingga ia berbuat hal itu berulang kali, apakah ke-Islamannya diterima?”
Maka Umar r.a. menulis surat kepada Amr bin al Ash r.a. supaya menerima ke-Islamannya sebagaimana Allah menerimanya. Katanya, “Tenimalah Islamnya itu selama Allah menerimanya dan mereka. Tawankan 1agi Islam kepadanya. Bila ia mà u menerima, biarkan ia. Tapi bila ia tidak mau menenimanya maka penggallah lehernya.”
