Diriwayatkan oleh Baihaqi (9/45) dari Abu ‘Imran r.a.,. katanya: Kami menguasai Konstantinopel, Mesir dipimpin oleh Uqbah bin Amir dan penduduk Syam dipimpin oleh lelaki lain — yang ia maksud adalah Fadhalah bin Ubayd r.a.. Ketika itu, keluà rlah dari kota itu, satu pasukan tentara Romawi yang sangat besar. Maka kami pun berbaris untuk menghadapi mereka. Seorang lelaki tentara muslim masuk menerobos tentara Romawi sampai berhasil masuk di tengah mereka. là pun terpisah dari kami.
Karena itu tentara-tentara Islam berteriak kepadanya, “Maha ‘Suci Allah! Ta telah mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan.”
Kemudian Abu Ayyub al Anshari, seorang sahabat Rasulullah saw. bangun dan berkata, “Wahai manusia Sesungguhnya kalian telah mentakwilkan ayat itu dengan takwil seperti itu. Padahal sesungguhnya ayat ini telah diturunkan berkaitan dengan kami, orang-orang Anshar. Ketika Allah telah menguatkan agama-Nya dan bertambah banyak jumlah penolong agama-Nya, kami berkata kepada sesama kami tanpa sepengetahuan Rasulullah saw., “Sesungguhnya kebun-kebun kita telah terlantar, alangkah baiknya apabila kita mengurusnya lagi dan memperbaiki apa yang telah terbengkalai.” Oleh karena itu Allah Swt. mewahyukan ayat ini guna menghalangi niat kami itu: Allah Swt. telah berfirman,
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Qs. al Baqarah ayat 195)
Sedangkan kebinasaan itu terletak dalam mengurusi dan memperbaiki kebun dan harta. Kemudian kami diperintahkan untuk berangkat berperang.”
Oleh karena itu Abu Ayyub terus menerus berangkat di jalan Allah hingga Allah mewafatkannya.
Diriwayatkan oleh Baihaqi (9/99)
Dari
jalur lain, dan Abu ‘Imran r.a., katanya: Kami telah meninggalkan Madinah dalam satu perang menuju Konstantinopel. Pimpinan jamaah kami adalah Abdurrahman bin Khalid bin al Walid. Sementara itu laskar Romawi berdiri membelakangi tembok kota itu. Seorang lelaki
dari
tentara Islam menerobos masuk ke dalam barisan musuh sendirian. Maka tentara-tentara Islam berkata, “Hentikan, hentikan! Tiada Tuhan selain Allah! Dia sedang mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan.”
Abu Ayyub pun berkata, “Sesungguhnya ayat itu telah diturunkan berk aitan dengan diri kita, wahai orang-orang Anshar! Ketika Allah telah menol ong Nabi-Nya dan memenangkan Islam, kami pun berkata, ‘Marilah kita mengurusi dan memperbaiki kebun-kebun kita.’ Maka Allah Swt. mewahyukan ayat, ‘Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.’ Yang dimaksud ‘Menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan’ adalah mengurusi dan memperbaiki kebun-kebun kita, dengan meninggalkan jihad di jalan Allah.”Abu Ayuub terus menerus berjuang di jalan Allah hingga beliau dikebumikan di Konstantinopel.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzt dan Nasa’i, dari Abu ‘Imran r.a., katanya: Seorang lelaki dari kaum Muhajirin telah menyerang barisan musuh sewaktu perang di Konstantinöpel, sampai berhasil merobek barisan musuh. Turut bersama kami adalah Abu Ayyub al Anshari r.a..
Ketika mereka menyaksikan perbuatan lelaki itu, sekelompok muslimin pun berkata, “Dia telah menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.”
Kemudian Abu Ayyub berkata, “Kami lebih mengetahui tentang ayat ini. Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkaitan dengan diri kami. Kami telah menemani Rasuluflah saw., menyertai beliau dalam banyak peperangan, dan menolong beliau. Ketika agama Islam telah berkembang dan mencapai kemenangan, maka kami orang-orang Anshar berkumpul dengan menunjukkan rasa cinta kepada Islam. Kami pun berkata kepada sesama kami, “Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan menjadikan kita sebagai sahabat Rasulullah saw. dan membantunya sehingga agama Islam tersebar luas dan bertambah banyak pengikutnya. Dan kita telah mengutamakan beliau di atas keluarga kita, harta benda dan anak-anak kita. Sedang peperangan telah selesai, maka kita kembali saja kepada keluarga dan anak anak kita dan tinggal bersama mereka. Maka turunlah ayat al Qurán yang berbunyi, ‘Dan belanjakanalah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendirii ke dalam kebinasaan.’ Dan kebinasaan itu terletak dalam megurusi keluarga dan harta benda dengan meninggalkan perjuangan atas agama Allah Swt. .“
Abd bin Humaid juga meriwayatkannya dalam kitab Tafsirnya, juga Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abu Ya’la dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al Hakim dalam Mustadraknya. At Tirmidzi berkata:
Hadits hasan shahih gharib. Al Hakim berkata: Ia menurut syarat asy Syaikhan, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya. Demikian tercantum dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (juz 1, hal. 229).
By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
