Kisah Sahabat Nabi: Abu Bakar Menolak Permintaan Muhajirin dan Anshar Untuk Menangguhkan Keberangkatan Tentara Usamah

0
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Urwah r.a., katanya: Setelah para sahabat selesai membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah, orang-orang pun kembali tenang. Abu Bakar berkata kepada Usamah, “Lanjutkan gerak pasukanmu menuju arah di mana Rasulullah saw. telah mengirimmu.” 


Kemudian beberapa orang lelaki dari kalangan Muhajirin dan Anshr berkata kepada Abu Bakar, “Tahanlah dulu Usamah dan pasukannya. Sesungguhnya kami takut orang-orang Arab akan berpaling dari kami setelah mereka mendengar Rasulullah saw. wafat.” 

Abu Bakar r.a. sangat tegas pendiriannya dan berkata kepada mereka, “Apakah patut aku menangguhkan pemberangkatan tentara yang telah dibentuk oleh Rasulullah saw.? Jika Demikian, aku telah lancang sekali dalam urusan yang besar in Demi Dia yang memegang nyawaku! Sungguh, kalau bangsa Arab berpaling dariku, niscaya itu lebih aku sukai daripada menangguhkan keberangkatan tentara Usamah yang telah diputuskan oleh Rasulullah. Bergeraklah, hai Usamah, bersama tentaramu ke arah yang telah diperintahkan kepadamu. Berperanglah engkau ke tempat-tempat yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw., yaitu di Palestina dan terhadap penduduk Mu’tah. Karena sesungguhnya Allah Maha akan menjaga semua yang telah kau tinggalkan (melindungi orang-orang yang tinggal di Madinah). Akan tetapi, sekiranya engkau berpendapat lebih baik Umar tinggal saja di Madinah agar aku dapat meminta pendapat dan pertolongannya, karena beliau mempunyai pandangan yang luas dan penasihat bagi Islam, maka lakukanlah.” 

Maka, Usamah pun mengizinkan Umar tinggal di Madinah untuk membantu Abu Bakar r.a.. 
Saat itu, kebanyakan orang Arab telah kembali kepada agama semula dan murtad dan agama Islam, termasuk kebanyakan penduduk di bagian timur jazirah Arab, Bani Ghatfan, Bani Asad dan Bani Asyja’. Sedang suku Thayyi’ tetap berpegang teguh kepada Islam. 

Pada umumnya para sahabat berpendapat, “Tahan saja tentara Usamah dan kirimkan mereka kepada orang-orang murtad dari kalangan Bani Ghatfan dan kabilah Arab lainnya.” 

Tetapi Abu Bakar menolak untuk menahan Usamah dan tentaranya. Ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah mengetahui sejak masa hidup Nabi bahwa musyawarah hendaknya dijalankan untuk memutuskan perkara yang tidak diputuskan oleh sunnah atau tidak diwahyukan dalam al Qurán. Kalian telah memberikan saran, dan aku akan menunjukan pendapatku kepada kalian, yang di dalamnya terdapat maslahat dan ‘kebaikan. Maka pertimbangkan apa yang lebih bijaksana dari ini dan musyawarahkan. Karena Allah tidak akan mengumpulkan pandangan kalian (ijma) di atas kesesatan. Demi Dia yang memegang nyawaku! Aku tidak melihat suatu urusan pun yang lebih afdhal selain berjihad melawan mereka yang enggan membayar zakat dengan sempurna, yaitu orang-orang yang tidak mau memberikan tali ikatan untanya yang dahulu biasa diambil Rasulullah saw. dalam pembayaran zakat.” 

Kemudian kaum muslimin tunduk kepada pendapat Abu Bakar dan mereka melihat bahwa pendapat Abu Bakar itu lebih baik daripada pendapat mereka.
Abu Bakar mengirim tentara Usamah ke arah yang telah diputuskan oleh Rasulullah saw.. Dalam perang itu, Usamah mencapai target yang sangat besar. Allah menyelamatkannya, menganugerahkan ghanimah kepad anya dan pasukannya, serta mengembalikan mereka dalam keadaan selamat. Setelah Usamah berangkat, Abu Bakar bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar berangkat guna mengejar orang-orang Arab yang lari bersama anak dan isteri mereka. 

Ketika kabar larinya orang-orang Arab bersama anak dan isteri mereka sampai kepada kaum musliinin, mereka berbicara kepada Abu Bakar. Kata mereka, “Kembalilah engkau ke Madinah dan kepada para wanita dan anak-anak. Angkatlah seseorang di antara sahabat engkau sebagai pimpinan pasukan dan berikan pengarahan kepadanya.” 

Maka kaum muslimin terus menasihati Abu Bakar sampai akhirnya ia kembali ke Madinah. Ia mengangkat Khalid bin al Walid r.a. sebagai pimpinan pasukan. 
Abu Bakar berpesan kepadanya, “Bila orang-orang Arab itu telah masuk Islam lagi dan membayar zakat, maka barangsiapa di antara kalian ingin kembali, ia boleh kembali.” Dan Abu Bakar pun kembali ke Madlinah. 

Demikian tercantum dalam kitab Mukhtashar Ibnu Asakir (1/118). Disebutkan juga dalam al Kanz (5/ 314). Dinukilkan dari al Bidayah (6/304), dari Saif bin Umar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya r.hum., katanya: Ketika Abu Bakar telah dibaiat dan orang-orang Anshar telah kembali bersama dalam sam kepemimpinan yang sebelumnya mereka telah terpecah-belah. .Abu Bakar berpendapat bahwa pengiriman tentara Usamah hendaknya disempurnakan. Sedang orang orang Arab telah murtad, dalam suatu kabilah ada yang sebagianbesar murtad dan ada pula yang sebagian. kecil saja. Sementara kemunafikan telah merajalela, orang-orang Nasrani dan Yahudi mulai menunjukkan taringnya, namun orang-orang Islam seperti kambing yang tertimpa hujan pada malarn yang dingin, karena mereka telah kehilangan nabi mereka, jumlah mereka semakin berkurang, sementara jumlah musuh semakin banyak.
Orang-orang pun berkata kepada Abu Bakar, “Sesungguhnya pasukan itu (pasukan Usamah) merupakan sebagian besar jumlah muslimin, sedang orang-orang Arab — sebagaimana yang kau lihat — telah memberontak kepadamu. Dan tidaklah patut bagimu untuk memecah kesatuan umat Islam darimu (dengan mengeluarkan sebagian dan mereka, yaitu tentara Usamah) .“ 
Abu Bakar menjawab, “Demi Diri yang memegang nyawaku dalam tangan-Nya, Sekiranya aku mengira binatang buas akan datang ke Madinah lalu menerkamku, aku tetap akan mengeluakan tentara Usamah sebagaiman a yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw., walaupun tidak ada seorang pun yang tersisa di Madinah selain aku.” 

Ibnu Katsir berkata, “Riwayat ini telah dinukilkan dari .Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r. ha. Dan hadits al Qasim dan Amrah juga, dari Aisyah r.ha., katanya: Ketika Rasulullah saw. wafat, orang-orang Arab ada yang murtad dan kemunafikan pun tampak nyata. Demi Allah, ayahku telah menanggung tanggung jawab yang sangat berat, yang sekiranya itu diletakkan di atas gunung yang kokoh sekalipun, pastilah gunung itu akan hancur binasa. Para sahabat Rasulullah saw. bagaikan kambing yang kehujanan, tidak dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan malam yang berhujan deras di bumi yang dipenuhi binatang buas. Demi Allah! Tiada mereka berselisih dalam suatu masalah, melainkan ayahku akan membuang omongan-omongan yang merusak, melepas tali kendali permasalahan, dan pemisahnya.”
Diriwayatkan oleh ath Thabanani dan Aisyah r. ha. — serupa hadits di atas. Al Haitsaini berkata (juz 9, hah 50): ath Thabarani meriwayatkannya dari beberapa jalan, sedang para rawi salah satu jalan tersebut adalah tsiqat. 
Diriiwayatkan oleh al Baihaqi, dari Abu Hurairah r. a., katanya, “Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia. Seandainya Abu Bakar tidak diangkat menjadi khalifah, pasti tidak ada orang yang menyembah Allah.” 

Abu Hurairah mengulang-ulang kata-kata itu sebanyak dua kali, lalu tiga kali. Kemudian seseorang bertanya kepadanya, “Berhentilah, hai Abu Hurairah.” 
Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah membentuk satu jamaah di bawah pimpinan Usamah untuk dikirim ke Syam. Jumlah mereka tujuh ratus orang. Ketika mereka sampai di Dzi Khusyub, sampailah kepada mereka berita wafatnya Rasulullah saw.. Kemudian orang-orang Arab di sekitar Madinah menjadi murtad.” 

Para sahabat berkumpul di samping Abu Bakar r.a. dan berkata kepadanya, “Hai Abu Bakar! Panggillah pasukan itu kembali. Apakah engkau akan tetap mengirimkan mereka ke Romawi, sedangkan orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?” 
Abu Bakar berkata, “Demi Yang tiada Tuhan melainkan Dia !, Sekiranya anjing-anjing liar menyeret kaki-kaki para isteri Rasulullah saw. sekalipun, aku tidak akan membatalkan pemberangkatan pasukan pimpinan Usamah yang telah diutus oleh Rasulullah saw., dan aku tidak akan melepaskan panji yang telah diikat oleh Rasulullah saw..” 

Maka Usamah pun diberangkatkan. Tiada Usamah melalui suatu kabilah yang ingin murtad, melainkan mereka berkata, “Sekiranya mereka tidak mempunyai kekuatan yang lain (tentara yang tinggal di Madinah), sudah pasti mereka tidak mengeluarkan tentara sebanyak ini. Kita biarkan saja mereka sehingga mereka berhadapan dengan tentara Romawi.” Maka mereka pun berhadapan dengan tentara Romawi, memerangi dan memusnahkan mereka. Karena itu mereka pulang dalam keadaan selamat, sehingga kabilah-kabilah yang ingin murtad tersebut tetap istiqamah dalam agama Islam. (al Bidayah [6/ 305]). 

Ash Shabuni juga meriwayatkannya dalam kitab al Iniátain sebagaimana tersebut dalam al Kanz (juz 3, hal. 129), juga Ibnu Asakir seperti tercantum dalam al Mukhtashar (juz 1, hal. 124) dari Abu Hurairah r.a. — serupa hadits tersebut. Ibnu Katsir berkata: Abbad bin Katsir — yakni dia yang ada dalam sanadnya — orang ini aku kira adalah al Barmaki, berdasarkan riwayat al Firyabi, dan ia adalah mutaqarib al hadits. Adapun al Bashri ats Tsaqafi adalah matruk al hadits — selesai. Dan dia berkata dalam Kanz al Ummal: Dan sanadnya — yaitu hadits Abu Hurairah — adalah hasan. Selesai. 





By. Kisah Sahabat. http://www.kisahsahabat.com/
Tags

Post a Comment

0Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Post a Comment (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !