Rasulullah saw. bersabda kepada ‘Aisyah ra., “Jika engkau ingin bersamaku pada hari Kiamat, maka hendaklah engkau hidup di dunia seperti seorang musafir yang menunggang kuda, singgah sejenak untuk islirahat. Hindarilah bergaul dengan orang-orang kaya. Dan janganlah kamu mengganti pakaianmu, sehingga pakaian itu ditambal.”
Abu Utsman Nahdi rah.a. berkata, “Aku pernah melihat Umar ra. berkhutbah di atas mimbar, sedang dua belas tambalan terjahit di atas baju yang dikenakannya.” (Tanbihul Ghafilin).
Seorang penggemar Ibrahim bin Adham rah.a. berkata, ‘Silakan tuan datang ke tempat kami di suatu masa yang lapang, sehingga kami dapat hadir di majelis tuan dan mendengar nasehat-nasehat tuan.” Beliau menjawab, ‘Pada masa ini saya sedang sibuk dalam empat hal yang sangat mencemaskan saya. Apabila urusan-urusan ini selesai, maka saya dapat memberi waktu kepada kalian, urusan itu ialah:
1. Dalam perjanjian ketika hari manusia diciptakan oleh Allah swt., itulah diumumkan bahwa sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain akan ke neraka. Dan saya senantiasa cemas mengenai hal ini, sebab saya tidak mengetahui, di bagian manakah diri saya?
2. Ketika bayi dipelihara di dalam rahim ibunya, malaikat yang bertugas atas air mani, bertanya kepada Allah swi, “Apakah aku mencatatnya sebagai Sa’id (yang bernasib baik) atau sebagai yang bernasib malang?” Saya cemas, apakah saya tercatat sebagai yang benasib baik atau yang bemasib malang?
3. Ketika malaikat mencabut ruh, ia bertanya kepada Allah swt., “Apakah orang ini diletakkan bersama ruh-ruh orang Islam atau ruh-ruh orang kafir?” Saya tidak tahu dan senantiasa cemas; Jawaban apakah yang akan diterima oleh malaikat mengenai ruh saya?
4. Pada hari Kiamat akan diumumkan suatu perintah Allah, yaitu;
“Berpisahlah kamu (dari orang-orang Mukinin) pada hari ini, hai orang orang yang berbuat jahat.” (Yasin: 59),
maka aku senantiasa cemas, sebab aku tidak tahu; termasuk golongan manakah diriku? (TanbihulGhafilin)
Jadi, jika kecemasan mengenai keempat hal di atas sudah teratasi, maka barulah dapat berbincang-bincang dengan kalian dengan tenang. Untuk sekarang ini, saya masih dalam keadaan cemas, risau dan gelisah. Bagaimana saya dapat menikmati ketenangan jiwa di sini?
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.”
Rosulullah saw bersabda, “Allah akan menanyakan tentang air dingin yang telah kalian minum, tentang bayangan tempat tinggal (yang kalian telah berlindung di dalamnya dari panas dan hujan), tentang kenyangnya perut kalian, tentang tubuh kalian yang sehat (akan ditanya bagaimana menunaikan hak tangan, kaki, hidung, mata, telinga yang telah diberi kesehatan oleh Allah), termasuk tentang nyenyaknya tidur, hingga tentang istri yang telah kalian inginkan. Dan Allah telah menikahkannya dengan kalian, padahal banyak lelaki yang ingin mengawininya, namun Allah memasukkan dalam hatinya perasaan hanya mau menikah denganmu. inipun akan dipertanyakan oleh Allah, dimana Allah swt. tidak mengawinkan kalian dengan wanita selainnya.”
Dengan contoh-contoh seperti riwayat di atas, sebenarnya seseorang harus berpikir bahwa setiap detik, nikmat dan kebaikan Allah swi. selalu menyertainya, baik kepada orang miskin ataupun orang kaya. Siapakah manusia yang walaupun sangat miskin, ia tidak dicurahi nikmat oleh Allah swi.? sepenti nikmat sehat dan anggota badan lengkap, yang merupakan nikmat besar? Apalagi nikmat bernafas, yang menyebabkan manusia dapat hidup dengan mudah?
Sebuah hadits meriwayatkan bahwa, ketika turun surat tersebut, para sahabat bentanya kepada Rasulullah saw .,‘Ya Rasulullah, nikmat manakah yang akan ditanyakan kepada kami?” Beliau menjawab, “Gandum bahan untuk membuat roti, meskipun tidak mengenyangkan perut kalian.’ Kemudian Allah berlirman, “Hal Muhammad, katakan kepadanya, apakah kamu tidak memakai sandal, apakah kamu tidak minum air (dengan segar)? Itu semua adalah nikmat-nikmat Allah.
Sebuah hadits menyebutkan, bahwa pada hari Kiamat, nikmat yang pertama kali akan ditanyakan adalah nikmat kesehatan badan dan air yang segar. Riwayat lain menyatakan, bahwa diantara nikmat yang akan ditanyakan adalah, sesuap roti yang dimakan dan seteguk air yang telah menghilangkan haus, serta pakaian yang dapat menutup aurat.
Sebuah hadits meriwayatkan, bahwa pada suatu siang yang sangat panas, Abu Bakar ra. keluar rumah, menuju masjid Nabawi. Ketika Umar ra. mengetahuinya, ia pun pergi ke masjid dan bertanya kepada Abu Bakar, “Mengapa engkau datang pada saat seperti ini?” Jawab Abu Bakar ra. “Rasa lapar telah memaksaku untuk keluar rumah.” Umar ra. berkata, ‘Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, aku juga terpaksa keluar rumah karena itu.” Kemudian datanglah Rasulullah saw. ke masjid, dan bertanya, “Mengapa kalian di sini pada saat seperti ini?” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, laparlah yang memaksa kami keluar.” Sabda Rasiilullah saw., “Saya juga keluar karena lapar.” Kemudian mereka bertiga pergi ke rumah Abu Ayyub Al-Anshori ra., namun ia sedang tidak ada, yang ada hanyalah istrinya. Istri Abu Ayyub menyambut Rasulullah saw. dengan gembira. Rasulullah saw. bertanya, Kemana Abu Ayyub?” Jawab istrinya, ‘Sebentar lagi ia datang.’ Tidak lama kemudian Abu Ayyub ra. datang dengan mernbawa setangkai kurma kering. Rasulullah saw. bertanya, “Mengapa kamu memilih kurma kering, bukan yang sudah masak?’ Atas pertanyaan itu, Abu Ayyub ra. kembali sambil membawa kurma yang sudah masak, setengah masak, dan kurma basah serta kering, lalu menghindangkan semua kurma tersebut di hadapan Rasulullah saw., agar beliau dapat memilih kesukaannya. Ketika Rasulullah saw., Abu Bakar ra.,dan Umar ra. sedang makan kurma, Abu Ayyub ra. menyembelih seekor anak kambing. Sebagian daging itu dimasak sate dan digulai. Lalu dihidangkan kepada Rasulullah saw. dan sahabatnya. Rasulullah saw. mengambil daging dan ditaruh di atas roti, lalu berkata kepada AbuAyyub, ‘Kirimkan makanan ini kepada Fatimah. Karena ia pun sudah beberapa hari belum makan.” Segera Abu Ayyub ra. mengirim makanan itu kepada Fatimah ra.. Setelah bersama sama memakan roti dan daging, Rasululiah saw. bersabda sambil meneteskan air mata, ‘Kita telah memakan nikmat Allah swt. yang begitu banyak dari daging, roti, kurma mentah, setengah masak, masak dan kering.” Lanjut beliau saw., “Nikmat seperti inilah yang akan ditanyakan pada hari Kiamat nanti.” Mendengar hal itu, kedua sahabatnya merasa ragu (dalam keadaan lapar seperti itu, apakah masih juga akan ditanya). Rasulullah saw. bersabda, ‘Memang akan ditanyakan dan sebagai kafaratnya, maka ketika kenyang bacalah doa, ‘Segala puji bagi Allah, hanya Dialah yang dapat mengenyangkan perut kami, dan telah menghadiahkan kami yaitudengan begitu banyak pemberian.”
