Sesungguhnya hari pertama aku mengenal Rasulullah saw. ialah ketika aku dan Abu Jahal bin Hisyam tengah berjalan kaki di sebagian gang kota Makkah. Ketika itu kami bertemu dengan Rasulullah saw.. Beliau bersabda kepada Abu Jahal, “Hai Abu Hakam, rnarilah menuju Allah dan Rasul-Nya. Aku menyeru kamu kepada Allah.”
Abu Jahal berkata, “Hai Muhammad, apakah kamu mau berhenti mencaci tuhan-tuhan kami? Adakah yang kamu inginkan selain supaya kami. bersaksi bahwa kamu telah menyampajkan seruanmu? Sesungguhnya kami bersaksj bahwa kamu telah menyampaikan dakwah kepada kami. Demi Tuhan, seandainya aku mengetahui bahwa ucapanmu itu benar, pasti aku sudah mengikutimu”
Rasulullah saw. pun pergi, sedang Abu Jahal datang kepadaku dengan berkata, “Demi Tuhan, sesungguhnya aku mengetahui bahwa yang dikatakannya adalah benar akan tetapi ada sesuatu yang menghalangiku untuk membenarkan ucapannya. Sesungguhnya Bani Qushay (kakek keempat Rasulullah) telah berkata, “Kamilah yang menjadi pemegang kunci Ka’bah (al Hijabah).”
Maka kami pun berkata, “Ya.”
Mereka berkata, ‘Kami memegang kuasa memberikan minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji (as Siqayah).”
Kami berkata, “Ya.”
Mereka berkata, “Kami memegang kekuasaan dewan perhimpunan (an Nadwah).”
Kami berkata, “Ya.”
Mereka berkata, “Kamilah yang menguasaj panji (at Liwa’).”
Kami berkata, “Ya.”
Kemudian mereka memberj makan dan kami juga memberj makan, sampai ketika lutut-lutut kami saling bersentuhan,(sama kedudukannya dalam kemuliaan) mereka berkata, “Kenabian ada pada kami. Demi Allah, aku tak mau mengakuinya.”
Demikian terdapat dalam kitab al Bidaayah (jiiz 3, hal. 64).
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafal seperti hadits itu, sebagaimana terrera dalam kitab Kanzul Ummal; dalam hadits itu dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abul Hakam, marilah kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab-Nya. Aku menyeru kamu kepada Allah.”

